Muslim Bedil

3
149

Sangkhalifah.co — Selepas sahur, seseorang menyuguhkan bacaan menarik. Awalnya tergelitik, karya Murad Hofman—menurut beberapa sumber, nama setelah masuk Islam—yang berjudul Al-Islâm Kabadîl (1997; Cet. II) ini “Islam Bedil” atau “Islam—sebagai agama—(menyuguhkan) alternatif” untuk ragam masalah kekinian. Judul yang sekaligus slogan utama Hofman ini, secara substansif mirip dengan slogan kelompok-kelompok kanan. Misalnya, Hizbut Tahrir Indonesia. Kelompok ini begitu akrab dengan kata Al-Islâm huwa dîn wa daulah (Islam adalah agama dan negara)—sebagai dasar argumen untuk mengeluarkan pernyataan: al-Bancasilâ Kufr, Lâ Tattafiq Ma’a al-Islâm (Pancasila adalah sistem kufur, tidak sesuai dengan Islam). Jauh sebelum HTI, Kelompok Ikhwanul Muslimin juga akrab dengan Al-Islâm Huwa Al-Hâl atau “Islam adalah solusi” segala hal.

Plesetan dari Al-Islâm, dalam judul Al-Islâm Kabadîl, menjadi Al-Muslîm disebabkan karena yang menjadi masalah utama bukanlah ajaran agama, melainkan Muslimnya sendiri. Alasan sederhana ini telah mewakili qaul populer, Al-Islâm ya’lû wa lâ yu’lâ alaîh atau “Islam senantiasa unggul dan tidak akan terungguli”. Kegagalan terjadi setelah pendekatan Muslim kepada teks ajaran dengan tidak menggunakan pendekata komprehensif-integratif dan tidak mampu menyerap ajaran dengan utuh. Kegagalan itulah melahirkan “Muslim bedil”, yang menggunakan ayat Qur’an dan teks hadis untuk melakukan pengeboman dan perusakan disana-sini.

Baca: Islam Yes, Negara Islam No

Aksi-aksi terorisme yang terjadi dengan mengatasnamakan jihâd fî sabîllâh dan menyelimutinya dengan doktrin Qur’an-hadis menjadi bukti kuat bahwa dunia Islam belum bebas dari para aktivis bedil. Bedilisme ini tidak mengenal waktu, tempat dan keadaan. Sebab tidak mampu melawan negara, ia mengobrak-abrik sebuah tempat, yang banyak orang tak berdosa dan bayi-bayi. Pemahaman yang salah—tapi yang bersangkutan merasa benar—terhadap Qur’an-hadis inilah sebab-musabbab citra Islam luntur sedikit demi sedikit.

Islam melalui Qur’an dan hadis dinyatakan Allah sebagai agama yang dihadirkan ke muka bumi ini sebagai pembawa salâm (perdamaian) dan penebar welas asih, bukan la’natan lil âlamîn (melaknat semua yang ada di bumi). Menegakkan amar ma’rûf harus dengan cara yang ma’rûf (baik lagi bijaksana) dan menegakkan nahyi munkar harus dengan cara yang ma’rûf. Melakukan pelarangan terhadap sebuah kesalahan yang dilakukan orang lain tanpa dakwah yang baik akan bertentangan spirit ajaran Allah dan warisan Nabi Muhammad SAW.

Muslim bedil ini juga, jika dilihat dari sudut perspektif maslahah dan mafsadah, jelas melanggar prinsip syariah. Aksi terorisme dan pelanggaran prinsip syariah, seperti yang diwakili Muslim bedil seperti ISIS, Jamaah Islamiyah, Ansharu Baiti Al-Maqdis, HTI dan sebagainya merupakan tindakan yang melanggar al-Maslahah al-Kulliyyah (publik) dan al-Maslahah al-Juz’iyyah (personal).

Baca: Irasionalitas Negara Khilafah

Tugas utama Muslim dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara adalah “Orang Islam adalah orang yang menyelematkan orang Islam lainnya dari lidah dan tanggannya; orang yang hijrah adalah orang menjauhi larangan Allah” (hadis). Dua hal yang dilanggar oleh Muslim bedil: keselamatan orang lain (termasuk dirinya) dan larangan Allah melakukan kerusakan di muka bumi.

Hadis di atas sesuai dengan ayat Qur’an, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (Qs. Al-Mumtahanah [60]: 8).

Doktrin penting ini jarang dibaca—umumnya tidak menggunakannya. Ayat tersebut jelas perintah bersikap damai, termasuk kepada non-Muslim. Karena jika kita tidak bisa bersaudara dalam keimanan, maka kita bisa bersaudara dalam kemanusiaan. Sisi kemanusiaan inilah yang ditinggalkan para aktivis bedil.

Baca: Membumikan Syariat Islam Dengan Baik

Lebih jauh lagi, kita diperintahkan Allah dalam Qur’an untuk melindungi siapapun kalau ada datang yang meminta. “Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui” (Qs. Al-Taubah [9]: 6).

Jangan sampai slogan “Islam Alternatif” justru menjadikan Islam semakin terbelakang. Para pemerkosa ayat dan hadis adalah bukti kuat yang dilakukan Muslim bedil dengan menggunakan label Islam. Para pengamat mengatakan, amanisi Muslim bedil sekarang telah punah tapi siap menyalak. Ia dinyalakan ketika sekawanan Muslim bedil lainnya menarik pelatuknya. Disinilah mulai terjadi industri perbedilan dan berubah menjadi ideologi dan aksi. []

3 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!