Munarman dan Bukti Dirinya Sebagai Otak Terorisme

2
172

Sangkhalifah.co — Selasa (27/04/2021) menjadi hari bahagia bagi seluruh rakyat Indonesia atas tertangkapnya eks Sekum FPI Munarman. Penangkapan Munarman buktikan bahwa polisi sudah muak dengan kilah Munarman di berbagai pernyataannya yang mengelak dirinya dikaitkan dengan kejadian bom bunuh diri dan kaitannya dengan para terduga teroris yang beberapa waktu lalu tertangkap Densus 88. Penangkapannya yang dilakukan dengan cukup keras membuktikan bahwa di negara ini tidak boleh ada orang yang bisa merdeka hanya berdalih bualan-bualan omongan semata demi menutupi kebohongannya sementara gerakannya telah terbaca jelas terlibat bahkan menggerakkan aktivitas terorisme di Indonesia.

Penangkapan Munarman yang langsung dilakukan oleh Densus 88, bukan oleh Polisi biasa, sudah cukup jelas dan terang benderang bahwa kesalahan dia bukan lain kecuali terkait dengan terorisme, bukan kesalahan-kesalahan lain. Kadiv Humas Irjen Pol Argo Yowono, dikonfirmasi oleh CNN (27/04/2021) Munarman ditangkap karena diduga telah menggerakkan orang lain untuk melakukan tindak pidana terorisme, bermufakat jahat untuk melakukan tindak pidana terorisme dan menyembunyikan informasi tentang tindak pidana hal tersebut di atas. Kanag Penum Polri Muhamad Ramadhan juga menegaskan Munarman ditangkap terkait baiatnya (dengan teroris) di UIN Jakarta, Makassar, dan Medan.

Meskipun dia belum terlihat meledakkan bom bunuh diri seperti teroris yang lain, Munarman memang terbukti telah terindikasi bergabung dengan kelompok teroris ISIS. Seperti diakui sendiri oleh Ahmad Aulia, terduga teroris yang juga ditangkap Densus 88 di Makassar, dirinya pernah berbaiat dengan ISIS yang pembaiatannya juga dihadiri Munarman mewakili FPI. Kalaupun kemudian Munarman tidak mau mengakui dirinya tidak ikut berbaiat dengan ISIS dalam acara pembaiatan itu, dan sebagaimana dikatakan ia hanya mengisi materi, mengapa ia justru hadir di acara yang jelas-jelas merupakan kegiatan pembaiatan anggota ISIS? Kenapa dia tidak melaporkan kegiatan terorisme yang memang dilarang oleh negara kepada pihak berwajib?

Fakta keterlibatannya dalam rentetan terorisme tidak bisa ditutup-tutupi lagi. Denny Siregar membongkar borok Munarman yang ngeles itu. Dalam acara di Makassar yang kemudian Ahmad Aulia berbaiat dengan ISIS itu, acaranya jelas berjudul “Menegakkan Syariah Daulah Islamiyah” dan dihadiri oleh dua orang anggota teroris, yaitu Fauzan Al Ansori dan M. Basri. Fauzan sendiri merupakan ketua salah satu bidang di Majelis Mujahidin yang dipimpin Abu Bakar Ba’asyir yang jelas-jelas telah berbakat dengan ISIS. Dan Basri adalah napi Nusakambangan yang pernah ditangkap Densus 88 pada 2012 karena ulah terorismenya. Sekali lagi, sudah tau yang hadir orang-orang ini, kenapa Munarman justru tetap anteng dalam acara itu?

Tapi begitulah Munarman, otaknya pintar membuat kamuflase kepada publik dengan terus menyangga fakta-fakta yang membuktikan dirinya memang terlibat dalam aksi jahat bahkan menggerakkan orang lain untuk berbuat teror itu. Kalaupun Munarman hingga detik ini tidak mau mengakui kalau dirinya terlibat dalam aksi-aksi terorisme dalam jaringan Makassar itu, Munarman juga sudah salah. Ia telah melanggar UU Terorisme Pasal 13 huruf C, karena ia tidak melaporkan kegiatan pembaiatan terorisme sebagaimana diakui Ahmad Aulia. Ia tidak melaporkan aksi terorisme. Bahkan terkesan menutup-nutupi fakta adanya terorisme. Masyarakat jadi curiga mengapa kegiatan baiat terorisme kok ditutup-tutupi oleh dia?

Munarman memang memiliki posisi yang cukup tinggi di tubuh FPI, organisasi yang sudah terlarang di Indonesia yang telah terindikasi banyak melakukan aksi-aksi anarkhis yang merugikan bangsa dan citra baik negara itu. Sebagai Sekretaris Umum, ia sangat bisa menggerakkan anak buahnya yang minim otak untuk melakukan aksi-aksi ekstrimisme dan bahkan terorisme di negara ini. Bahkan Denny Syregar mengungkap fakta, Munarmanlah otak yang membuat FPI menjadi gerakan radikal dengan memasukan ideologi Wahabi (yang sebelumnya beramaliyah seperti NU) dan menggerakkan ormas tersebut untuk bergabung dengan gerakan teroris ISIS serta membaiat ratusan orang untuk bergabung dengan gerakan teroris tersebut. Oleh itu, penangkapan Munarman oleh Densus 88 menjadi kado terindah bangsa Indonesia di bulan Ramadan ini.

Seluruh masyarakat Indonesia yang masih menginginkan hidup damai, aman dan tentram tanpa gangguan terorisme seperti yang dilakukan oleh antek-antek FPI harus mendukung penuh apa yang dilakukan Densus 88 dan kepolisian secara umum untuk menumpas terorisme di negeri ini dan membersihkan sampah-sampah teroris dari negeri ini. Kita sepakat di negeri ini tidak boleh ada orang yang berpaham radikal yang menginginkan bangsa ini pecah dalam pertumpahan darah. Pun, negara tidak boleh kalah dengan antek-antek teroris dan para penggeraknya yang jika dibiarkan akan menjadi bom waktu. Karena tindakan teroris dan penggeraknya merupakan bentuk kebiadaban yang hanya didasari cacat otak dan nalar. []

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!