MOU Rasulullah dalam Merawat Keberagaman

1
185

Sangkhalifah.co — Aksi kekerasan atas nama agama selalu menjadi cacatan hitam dalam perjalanan umat beragama negeri pluralistik ini. Keberagaman tampaknya masih menjadi alergi. Mereka yang Muslim sebagai mayoritas merasa paling memiliki kekuatan dan paling berhak. Islam pun menjadi baju keberingasan dan membawa-bawa nama mulia baginda Rasulullah Saw untuk melegitimasi apapun yang mereka lakukan. Jika Rasulullah masih ada, tak kuasa rasanya melihat lelaku umatnya itu. Oleh karena itu, ada baiknya kita membuka kembali catatan sejarah pluralisme masa Rasulullah, yuk!

Salah satu langkah brilian yang pernah Rasulullah Saw lakukan adalah beliau berhasil menyatukan penduduk Madinah yang pluralistik, baik secara sosial, ekonomi, politik, maupun agama. Dalam catatan sejarah Islam, hal itu dikenal dengan Piagam Madinah. Sebuah bentuk tindakan MOU kaum Anshar, Muhajirin dan non-Muslim Yahudi Madinah saat itu. Sebagai sang reformis moral, Rasulullah tidak memandang perbedaan sebagai ancaman, melainkan sebagai anugerah Tuhan yang harus disambut dengan sikap kedewasaan. Perbedaan yang berhasil disatukan akan melahirkan potensi kekuatan yang besar, sebaliknya, jika dibiarkan dalam ketegangan dan konflik tak berkesudahan, hanya akan menjadi bumerang.

Madinah Pra Hijrah

Sebelumnya, saat pra-Hijrah, kota Yatsrib (nama Madinah sebelum Hijrah) sudah plural dengan penduduknya. Saat itu Madinah ditempati oleh bangsa Arab dan bangsa Yahudi. Keduanya merupakan imigran. Bangsa Arab berasa dari Yaman yang terbagi menjadi dua suku Aus dan Khazraj. Demikian juga Yahudi yang merupakan pelarian dari kampung halamannya karena tekanan dari pemimpin yang otoriter dan kejam. Penduduk Yahudi Yatsrib mayoritas berasal dari suku Qainuqa, Bani Nadhir, dan Bani Quraidha.

Perlu dicatat, Yatsrib banyak dijadikan lokasi migrasi yang tepat karena lokasinya yang cukup strategis, baik secara militer maupun ekonmi. Secara militer (kemanan), Yatsrib merupakan daerah yang sulit untuk ditembus oleh musuh kecuali jalur barat yang biasa digunakan sebagai jalur perdagangan, sebelah utara. Secara ekonomi, Yatsrib marupakan daerah agraris yang banyak menghasilkan komoditi unggulan dan utama bagi masyarakat Hijaz. Selain juga merupakan jalur utama para perdagangan dan saudagar dari Mekkah dan Yaman.

Kondisi pluralistik Yatsrib saat itu bukan baik-baik saja. Heterogen penduduknya kerap kali menimbulkan konflik antar suku. Aus dan Kazraj terkenal dengan kedua suku yang sering konflik berkepanjangan. Puncaknya saat meletusnya perang Bu’ats. Perang saudara terakhir ‘Aus dan Khazraj yang terjadi lima tahun sebelum Hijrah. Sebenarnya konflik kedua suku sebangsa itu lebih karena adu domba oleh Yahudi. Langkah politik devide et imperia bangsa Yahudi.

Motif yang mendorong bangsa Yahudi untuk melakukan demikian karena saat itu kondisi bangsa Yahudi lebih mapan dari bangsa Arab, bahkan bangsa Arab kerap dieksploitasi secara ekonomi olah bangsa Yahudi . Hal ini menimbulkan kecemburuan sekaligus kegeraman bangsa Arab. Sebagai pengalihan isu, bangsa Yahudi mengadu domba doa suku ‘Aus dan Kazraj agar mereka disibukkan dengan konflik internal yang didalangi oleh Yahudi. Ini bukti bahwa sebenarnya ketidakharmonisan kedua suku sebangsa itu karena faktor eksternal. Selebihnya mereka adalah kaum yang harmonis. Nabi sendiri pernah mengatakan bahwa ‘Aus dan Khazrah adalah suku yang lembut. Hal ini terbukti dengan legowo mereka menerima ajaran baru yang bernama Islam nantinya.

Karakter lembut bangsa Arab (yang berasal dari Yaman) tersebut terbukti saat mereka menginginkan kehidupan damai dan sentosa. Tampaknya mereka lelah dengan konflik saudara sebangsa setanah air sendiri. Hingga di kemudian hari mereka (‘Aus dan Khazraj) bertemu Rasulullah Saw saat haji, mereka mendeklarasikan diri untuk terbebas dari Yahudi dan berbaiat kepada Muhammad dan mengikuti ajarannya, kemudian dengan mudah diikuti oleh suku ‘Aus dan Khazraj lain yang berada di Madinah. Hingga pada akhirnya Muhammad diundang ke Madinah dan disambut dengan penuh suka cita dan rasa bangga.

Madinah Pasca Hijrah

Struktur penduduk Madinah setelah Hijrah lebih heterogen daripada pra hijrah. Pasalnya, penduduk Madinah terdiri atas kaum Anshar atau bangsa Arab Madinah yang telah masuk Islam, kaum Muhajirin atau bangsa Arab Mekkah yang melakukan migrasi ke Madinah, orang-orang Madinah yang masih menganut paham paganis, kelompok Yahudi dari multi suku, kaum musyrik dan munafik dari Madinah, dan kelompok minoritas yang menganut agama Kristen. Lebih jauh lagi, kondisi penduduk Madinah yang plural itu juga terdiri dari berbagai suku, agama, etnis, asal daerah, budaya, tradisi dan ekonomi yang berbeda. Implikasinya, mereka akan melakukan tindakan-tindakan subjektif berdasarkan kepentingan kelompok masing-masing. Tentu hal ini tidak baik untuk keutuhan Madinah. Tantangan besar bagi Rasulullah untuk melakukan upaya rekonsiliasi.

Menyadari hal itu, Rasulullah Saw segera melakukan upaya rekonsiliasi antara kaum Muhajirin dan Ansar. Hal ini dikisahkan dengan sangat dramatis dan menyentuh dalam kitab-kitab sirah, seperti al-Bidayah wa an-Nihayah, Tarikh al-Thabari, Sirah Ibnu Hisyam, Rahiq al-Makhtum dan beberapa kitab sirah lainnya. Rasulullah membuat ikatan saudara (mu’akhah) antara Anshar dan Muhajirin (as-Sirah an-Nabawiyah li Ibn Hiyam: II/97-99). Bahkan, ada satu keluarga dari kaum Anshar yang rela pura-pura kenyang demi menjamu tamu dari kaum Muhajirin. Dikisahkan mereka memilih tidur untuk menahan rasa lapar yang melilit. Penyatuan Anshar dan Muhajirin merupakan langkah awal bagi rasulullah untuk mengantsipasi kesenjangan kedua kubuh, terlebih dalam sektor ekonomi. Mengingat kaum Muhajirin datang dengan tangan kosong. Harta benda mereka ditinggal di Mekkah.

Sufiyyurrahman al-Mubarakfuri dalam Rahiq al-Makhtum (hal. 167) menjelaskan kisah penjalinan saudara anatara Abdurrahman (dari kaum Muhajirin) dan Sa’d bin Rabi’ (dari kaum Anshar). Dengan senang hati Sa’d membagi dua harta miliknya untuk Abdurrahman. Bahkan, Sa’d yang memiliki dua istri, mempersilahkan Abdurrahman memilih yang paling cantik di antara keduanya, untuk kemudian diceraikan dan dinikahi Abdurrahman setelah selesai masa ‘Iddah.

Berbagai upaya rekonsiliasi Rasulullah lakukan. Hingga kemudian dibuatlah MOU sebagai bentuk komitmen menjaga persatuan antara kaum Muhajairin, Anshar dan non-Muslim (Yahudi) berupa Piagam Madinah. Piagam Madinah itu berisikan perjanjian perdamaian dan persahabatan dengan Kaum Yahudi. Teks piagam tersebut lengkap bisa dalam beberapa kitab sirah, di antaranya dalam Sirah an-Nabawiyah li Ibn Hiyam (II/95-97). Sufiyyurrahman al-Mubarakfuri dalam Rahiq al-Makhtum (hlm. 168-169) merinci dengan ringkas poin-pion piagam tersebut. Sebuah langkah politik yang cukup brilian, mengingat kondisi Madinah saat itu yang pluralistik dan rentan konflik. Komitmen Yahudi terbukti, bahkan saat perang Badar mereka ikut terlibat berada di kubu kaum Muslim.

Ini pelajaran berharga dari Rasulullah bahwa perbedaan seharusnya disatukan sehingga tidak hanya menjaga keutuhan, tetapi juga sebagai upaya menggalang kekuatan. Sebaliknya, jika perbedaan malah membuat jarak, bahkan disikapi dengan egois kelompok, perbedaan akan memicu perpecahan dan menjadi bumerang. Ingat mutiara bijak Gus Dur, “Agama melarang perpecahan, bukan perbedaan”. []

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!