Moderasi Solusi Beragama di Indonesia (1)

0
507

Sangkhalifah.co — Sebelum dan sesudah pemilihan Ketua Umum PBNU, ada tagar di media sosial yang sedang dihembuskan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), yaitu “Moderasi Bukan Solusi”. HTI menganggap bahwa menerima moderasi beragama sama artinya membiarkan kaum Muslimin berislam tapi berpikiran ala Barat. Adapula para simpatisan/kader aktifnya yang beraggapan bahwa istilah “Moderasi Beragama” diciptakan oleh Barat untuk menyerang ajaran Islam Kaffah. Dua asumsi yang tidak berdasar sama sekali. Kenapa?

Dalam perspektif pemerintahan—khususnya Kementerian Agama RI, yang dimaksud “Moderasi Beragama” merupakan perekat antara semangat beragama dan komitmen bernegara-berbangsa. Lebih dari itu, di Indonesia kita sedari dulu mengenal bahwa beragama hakikatnya ber-Indonesia dan ber-Indonesia hakikatnya beragama. Kita bisa menjadi seorang nasionalis sekaligus agamis.

Kehendak dari para pendiri bangsa ini dan warisan para ulama-ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah agar kita beragama bukan untuk dijadikan “alat cambuk” negara. Ketika kita beragama dan membangun hubungan baik kepada-Nya sembari ‘mencambuk’ negara, maka sejatinya kita gagal dalam beragama. Sebab itu, seringkali ibadah dan tauhid kita yang menumbuhkan hablun minallah (sisi spiritualitas) yang menjadi kesalihan pribadi tidak tembus menjadi kesalihan sosial. Pertarungan di antara kita pasti karena keduanya tidak tembus kepada muamalah dan tata sosial.

Seringkali ibadah dan tauhid kita yang menumbuhkan sisi spiritualitas yang menjadi kesalihan pribadi tidak tembus menjadi kesalihan sosial. Pertarungan di antara kita pasti karena keduanya tidak tembus kepada muamalah dan tata sosial.

Kebutuhan “Moderasi Beragama” agar kita tetap memperbaiki hubungan dengan Tuhan sekaligus mengisi negara. Sesuai dengan pandangan Imam Al-Ghazali, agama dan negara merupakan saudara kembar, di mana agama merupakan pondasi dan negara sebagai penjaga. Jika pondasi (agama) runtuh maka peran penjaga (negara) pun akan sirna. Maka “Moderasi Bergama” menjadi keniscayaan agar tidak ada penganut agama yang mempertentangkan agama dengan negara hanya karena kepentingan golongan/kelompoknya tidak terwujud.

Mengapa “Moderasi Beragama”? kita mafhum di Indonesia, ada tiga tantangan utama yang harus kita benahi. Pertama, praktik beragama yang berlebihan (tasyaddud) dan acuh tak acuh terhadap kesakralan agama (tasyahhul). Keduanya itulah yang tidak dikehendaki dalam kontek Moderasi Beragama. Karena moderasi bukan memoderatkan agama melainkan memoderatkan cara pandang dan tafsir kita terhadap agama. Agar keluar dari cara beragama yang ekstrem (kanan dan kiri).

Moderasi beragama bukan memoderatkan agama karena agama sendiri telah moderat, tapi moderasi beragama untuk memoderatkan cara pandang dan tafsir kita terhadap agama.

Disisi lain, ada orang yang kuat dalam beragama tapi hasrat mengganti ideologi-sistem negara sangat kuat. Dalam bahasa lain, ada sebuah kelompok yang bersemangat dalam beragama namun tidak selaras dengan kecintaan terhadap bangsanya dan NKRI. Di antara mereka ini juga kerap lahir perspektif: tidak menerima kebenaran pada diri orang lain dan tidak menerima kesalahan pada diri sendiri. Ini salah satu prinsip yang dijadikan pegangan kelompok radikal-terorisme di belahan dunia mana pun. Tantangan ini harus dijawab dengan hadirnya sistem pengelolaan keragaman tafsir keagamaan dengan mencerdaskan masyarakat akan pentingnya moderasi beragama.

Semangat tersebut merupakan ejawantah dari UUD 1945 tentang negara yang menjamin adanya kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya dan beribadat menurut kepercayaannya. Jika tanpa moderasi beragama—dari segala sisi—maka akan lahir orang-orang yang menganggap bahwa Indonesia hanya berhak dikuasai dan dikelola satu agama semata. Kenapa begitu? persepktif yang dibangun sedari awal karena hanya agamanya saja yang benar dan tidak ada kebenaran pada agama orang lain, apalagi tafsirnya. Inilah salah satu pandang yang ditradisikan dalam kelompok HTI.

Sampai disini sedikit banyak sudah terjawab bahwa asumsi moderasi beragama sebagai penghambat seseorang menjalankan Islam secara kaffah. Jika kita mau jujur, orang-orang yang teriak “Islam Kaffah” justru yang tidak kaffah. Mengapa? seseorang yang kaffah dalam beragama seharusnya mampu membawa agama dalam sebuah negara dan cara mengisi kekosongan negara dengan nilai-nilai yang bisa menjadi payung untuk siapa pun. Muslim yang kaffah bukanlah orang yang selalu menyalahkan pemerintah/negara dan tidak bisa menerima sedikit pun kebenaran pada pemerintah seperti yang dicontohkan HTI. HTI selalu menganggap pemerintah salah dan di luar kelompoknya seperti orang yang tidak berhasrat akan agama. Paradigma ini sangat berbahaya dalam konteks Indonesia. [Bersambung]

Leave a reply

error: Content is protected !!