Moderasi dalam Perspektif Syariat Islam

17
976

Oleh: KH. Afifuddin Muhajir (Wakil Pengasuh Pesantren Sukorejo Asembagus Situbondo)

Sangkhalifah.co — Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW untuk menjadikan Islam sebagai agama yang rahmatan li al-‘ālamīn sebagaimana yang sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Beliau sering disebut syariat dalam bentuk manusia, sering disebut juga sebagai al-Qur’an yang berjalan. Oleh karena itu, sejarah mengatakan akhlaknya Nabi Muhammad SAW berarti aturan.

Dengan demikian, Islam memiliki dua macam al-Qur’an, yakni al-Qur’an yang dibaca dan al-Qur’an yang berjalan yaitu Nabi Muhammad SAW. Apabila Islam dilaksanakan secara utuh, maka sosoknya adalah Nabi Muhammad SAW itu. Kalau al-Qur’an mengajarkan keadilan dan kesantunan, maka keadilan dan kesantunan yang sempurna adalah Nabi Muhammad SAW itu. Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang luar biasa sebagaimana diakui oleh semuanya. Pertama kali yang menyatakan luar biasa adalah Allah SWT. Allah SWT berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Dan sungguh engkau memiliki akhlak yang agung” (Qs. al-Qalam [68]: 4).

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ

Maka dengan rahmat Allāh, bersikap lemah lembutlah kepada mereka” (Qs. Ali Imrān [3]: 159).

Baca Juga: Nalar Maqashid Al-Syariah dalam Diktum Pancasila

Luar biasanya Nabi Muhammad SAW diakui juga oleh non-Muslim, di antaranya adalah pernyataan Bernat dari Perancis yang artinya: “andaikata seorang tokoh seperti Muhammad dipasrahi dunia ini sekarang, maka dunia ini akan benar-benar sukses.” Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW dijadikan oleh Allah SWT sebagai teladan yang baik bagi kaum muslim. Pertanyaannya adalah kenapa pada masa lalu keberagamaan itu berjalan dengan efektif, tapi sekarang tidak?. Jawabannya adalah karena kehidupan dahulu terdapat banyak perpaduan antara mauidzah ḥasanah dan uswatun ḥasanah sementara sekarang tidak. Meskipun sekarang, kita kaya dengan mauidzah ḥasanah, tapi masih sangat miskin dengan uswatun ḥasanah. Sehingga dakwah-dakwahnya menjadi kurang efektif.

Salah satu ciri dari Islam adalah toleran dan lembut. Ciri berikutnya yaitu wasaţiyah. Makna wasatiyah memiliki beberapa makna. Menurut bahasa Indonesia artinya adalah moderasi. Makna wasaţiyah sebetulnya lebih luas dari pada moderasi. Wasaţiyah juga berarti realistis (Islam wasaţiyah yaitu antara realitas dan idealitas). Yakni, Islam memiliki cita-cita yang tinggi dan ideal untuk mensejahterakan umat di dunia dan akhirat. Cita-citanya yang melangit, tapi ketika dihadapkan pada realita, maka bersedia untuk turun ke bawah.

Wasaţiyah yang disebut dalam al-Qur’an Qs. al-Baqarah [2]: 143 dapat juga diartikan “jalan di antara ini dan itu”. Dapat juga dikontekstualisasikan “Islam wasaţiyah adalah tidak liberal dan tidak radikal”. Dapat diartikan pula, Islam antara jasmani dan ruhani. Dalam kitab-kitab fikih, seorang presiden itu harus mendalam dalam hal agama, mujtahid dan dipilih secara demokratis.

Baca Juga: Menerjemahkan Hukum Tuhan dalam Kehidupan Manusia (1)

Bagaimana yang menjadi presiden justru kebalikannya? Apakah kita harus memberontak? Tentu tidak, karena memang realitanya seperti demikian. Kitab-kitab fikih menyatakan, para hakim harus seorang mujtahid dan memiliki kemampuan untuk menggali hukum-hukum dari sumbernya. Keputusan hakim adalah kepastian dan keadilan. Tapi apabila kebalikannya, justru tidak terlaksana sebagaimana aturannya.

Al-Wasatiyah disebutkan dalam al-Qur’an dalam QS. al-Baqarah [2]: 143 dan QS. al-Nisā’ [4]: 171, yaitu:

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ فَآَمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al-Masi, Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu).  (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.

خَيْر الْأُمُور أَوْسَاطهَا

Sebaik-baiknya perkara itu yang pertengahan.

Baca Juga: Menerjemahkan Hukum Tuhan dalam Kehidupan Manusia (2)

Realiasasi wasatiyah dalam ajaran Islam secara garis dibagi tiga: akidah, akhlak dan syariat (pengertian sempit). Ajaran akidah terkait konsep ketuhanan dan keimanan. Akhlak terkait penghiasan hati seseorang agar dapat menjadi mulia dan membersihkan hati. Sedangkan syariat dalam pengertian sempit berarti ketentuan-ketentuan praktis yang mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT dan hubungan antar sesama manusia (al-Aḥkām al-‘Amaliyah). Salah satu segmen dalam syariat adalah fikih.

Syariat dari segi sifatnya ada dua: thawābit dan mutaghayyirah. Syariat thawābit adalah syariat yang tidak dapat berubah kapan pun dan di mana pun. Sedangkan syariat mutaghayyirah adalah syariat yang dapat berubah sehingga dapat beradaptasi dengan waktu dan tempat. Mungkin dapat menyinggung Islam Nusantara. Akidah, akhlak dan syariat thawābit tidak dapat dirubah dengan Islam Nusantara. Sedangkan syariat mutaghayyirah dapat berubah sesuai dengan tuntutan zaman dan tempat. Pihak yang kontra dengan Islam Nusantara, sama seperti pihak yang tidak bersedia menerima fikih Irak (qaul qadīm) dan fikih Mesir (qaul jadīd).

Problemnya pada saat sekarang ini, semua hal di atas akan di nusantarakan. Wasatiyah masuk pada akidah, akhlak, syariat thawābit dan mutaghayyirah. Wasaţiyah dalam bidang akidah, seperti posisi Islam yang berada di antara atheisme (tidak percaya Tuhan) dan politisme (kelompok yang percaya adanya banyak Tuhan). Wasatiyah dalam bidang akhlak, seperti posisi di antara khauf (pesimisme yang berlebihan) dan raja’ (optimisme yang berlebihan). Optimisme yang berlebihan dapat mengakibatkan orang gampang berbuat dosa, sehingga menganggap dirinya pasti mendapatkan surga.

Baca Juga: Moderasi Berbasis Pancasila

Di antara ayat yang menjadi landasan adalah Qs. al-Baqarah [2]: 173. Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Sesungguhnya Allāh adalah Dzat yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Sedangkan pesimisme yang berlebihan dapat mengakibatkan orang gampang putus asa. Di antara landasan ayat yang sering digunakan adalah Qs. al-A’rāf [7]: 99. Allah SWT berfirman:

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

Apakah mereka tidak percaya ancaman Allah. Maka tidak ada yang dapat merasa aman dari ancaman Allah kecuali orang-orang yang merugi.”

Di antara contoh orang yang pesimis adalah pembunuh Sayyidina Hamzah (dengan memutilasinya), pada saat masuk Islam dia merasa pesimis akan kemungkinan mendapatkan ampunan Tuhan dari perbuatan yang sudah dilakukannya tersebut. Kemudian turun Qs. al-Zumar [39]: 53, yaitu:

قُلْ يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Katakanlah (Muhammad), wahai hambaku, orang-orang yang sudah berlebihan atas diri mereka sendiri, janganlah kalian putus asa dari rahmat Allāh. Sesungguhnya Allah Maha Mengampuni seluruh dosa-dosa. Sesungguhnya Allāh adalah Dzat yang Maha Pengampun dan Penyayang.

Wasatiyah dalam bidang syariat diindikasikan dalam Qs. al-Furqān [25]: 67, yakni tidak terlalu berlebihan dan tidak terlalu pelit.

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا

Dan orang-orang ketika menafkahkan, mereka tidak berlebihan dan tidak pelit dan di antara keduanya adalah ketegakkan.”

Wasaţiyah dalam bidang manhaj berarti menggunakan nash al-Qur’an dan hadis yang memiliki hubungan dengan tujuan-tujuan syariat (maqāșid al-Sharī’ah). Nash-nash dan tujuan-tujuan syariat memiliki hubungan simbiosis mutualisme, yakni nash-nash dapat dijelaskan melalui tujuan-tujuan syariat, sedangkan tujuan-tujuan syariat lahir dari nash-nash Islam. Tujuan-tujuan syariat merupakan hasil penelitian ulama zaman dahulu, sedangkan yang menjadi objeknya adalah aturan-aturan yang termaktub dalam nash-nash al-Qur’an dan hadis berikut hikmah-hikmah dan tujuan-tujuan yang hendak dicapai. Tujuan utama syariat adalah kemaslahatan dunia dan akhirat dengan mengindahkan kaidah “menarik kemaslahatan dan menolak kerusakan.”

Baca Juga: Pancasila versus Khilafah Islamiyah

Maksudnya apabila seseorang hendak menafsiri nash-nash, maka harus memerhatikan tujuan-tujuan syariatnya. Tentu aturan yang lahir akan berbentuk tekstual dan kontekstual. Secara kaidah, apabila dihadapkan pada mașlahah dan mafsadah, maka yang didahulukan adalah yang maslahah. Tapi apabila dihadapkan pada mașlahah ghairu maḥḍah (kemaslahatan tidak murni) dan mafsadah ghairu maḥḍah (kerusakan tidak murni), maka pilihannya adalah yang terdapat mașlahah yang lebih besar. Tujuan-tujuan syariat melahirkan dalil-dalil primer (الأَدِلَّةُ القَطْعِيَّة) dan sekunder (الأَدِلَّةُ الفَرْعِيَّة).

Tujuan syariat untuk mewujudkan kemaslahatan, sebenarnya sama seperti tujuan negara untuk mewujudkan kemaslahatannya. Setiap negara yang sudah mampu mewujudkan kemaslahatan dunia dan akhirat, maka sudah bisa disebut sebagai negara ideal dan negara ‘khilāfah’. Artinya, kita bisa setuju dengan negara dalam bingkai khilāfah tapi tidak seperti khilāfahnya HTI. Khilāfah yang disetujui adalah menggunakan konsepnya al-Mawardi. Imam Al-Mawardi mengatakan:

الإِمَامَةُ مَوْضُوْعُةً لِخِلَافَةِ النُّبُوَّةِ فيِ حِرَاسَةِ الدِّيْنِ وَسِيَاسَةِ الدُّنْيَا، وَلَوْلاَ الوُلَاةُ لَكَانَ النَّاسُ فوضى مهملين وهمجاً مضيّعين.

Kepemimpinan/khilāfah adalah melanjutkan tugas kenabian, yakni: menjaga agama dan politik dunia…

Setiap negara yang kondusif bagi kaum muslimin untuk melaksanakan ajaran agamanya serta dijalankan dalam pemerintahan dengan menjamin kesejahteraan dan kemakmuran, maka itu sudah cukup menjadi negara khilāfah. Oleh karena itu, NKRI dengan Pancasila sebagai dasar negaranya, bisa saja menjadi wadahnya khilāfah. Posisi sebagai wadah, NKRI tidak ada persoalan, tapi persoalan isinya yang belum baik. Cita-cita negara yang menjamin kenegaraan yang adil dan sejahtera, maka Pancasila cocok untuk mewujudkan Islam itu sendiri. []

17 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!