Moderasi Berbasis Pancasila

2
368

Sangkhalifah.co — Memasuki abad 21, dunia diwarnai dengan radikalisme dan terorisme yang semakin besar, sehingga mengakibatkan banyaknya korban jiwa dan harta. Kondisi seperti ini tentu tidak dikehendaki oleh siapa pun dan perlu mendapatkan perhatian dengan melakukan cara-cara yang lebih moderat.

Sejak tahun 2016, MEA memasuki era baru yang diharapkan dapat membawa peningkatan kehidupan ekonomi secara bersama dan perkembangan secara menyeluruh supaya dapat berjalan dengan baik. Oleh karena itu, diperlukan kondisi yang kondusif di kawasan ASEAN secara menyeluruh, sehingga perkembangan ekonomi dan bisnis dapat berjalan dengan baik. Peranan Indonesia yang moderat sangat penting dengan solusi berbasis nilai-nilai Pancasila.

Berdasarkan kecenderungan strategis nasional dan internasional, maka diperkirakan Indonesia akan menghadapi ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan. Semua ini dilakukan sebagai bentuk perlawanaan terencana dan sistematis yang diarahkan untuk menghancurkan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Pancasila dan UUD 1945.

Mempelajari radikalisme dan terorisme dewasa ini, maka kelompok yang berusaha untuk meningkatkan usaha ini akan menghadapi banyak kesulitan, karena masyarakat Indonesia lebih menghayati Pancasila dan mampu bersikap lebih moderat. Gangguan berikutnya, gangguan dari segala bentuk kegiatan dari luar yang secara sistematisnya diarahkan untuk menggagalkan pada jalannya pembangunan nasional berdasarkan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Hal ini terjadi akibat persaingan yang semakin luas dan potensi Indonesia yang dimiliki sehingga dapat berdaya saing yang utuh. Baik persaingan yang asasi maupun yang lainnya.

Berdasarkan itu, hal-hal yang juga menghambat Indonesia adalah segala kegiatan yang bersumber dari dalam negeri sendiri, yang secara sadar dapat menggagalkan suksesnya pembangunan di Indonesia yang berasaskan UUD 1945 dan Pancasila. Secara sadar maupun tidak sadar dapat muncul dari oknum aparat atau oknum lainnya yang dilibatkan oleh suatu kekuatan luar.

Apabila kondisinya dapat terjamin, maka memungkinkan negara-negara dapat melaksanakan perekonomiannya—tanpa dihantui oleh ancaman baik dari kelompok radikal maupun lainnya. Oleh karena itu, masing-masing negara ASEAN harus mampu membuat kondisi keamanan di negaranya masing-masing dan tidak memberikan tempat bagi para kelompok radikalis dan teroris. Apabila disinyalir terdapat persembunyian kelompok radikalis atau teroris, maka daerah tersebut harus segera menertibkan dan melakukan pembinaan secara berangsur-angsur. Kebijakan dasar yang perlu ditempuh adalah keseimbangan antara pendekatan keamanan dan kesejahteraan.

Baca Juga:

Di dalam melaksanakan kebijakan nasional yang berdasarkan Pancasila, seringkali hanya pendekatan keamanan yang ditempuh sebagaimana pada zaman dahulu atau hanya pendekatan kesejahteraan saja. Untuk masa sekarang antara keamanan dan kesejahteraan itu ibarat dua sisi mata uang yang saling membutuhkan. Dalam rangka merealisasikan dua hal tersebut, tentu dibutuhkan strategi yang harus ditempuh, setidaknya melalui tiga model, yaitu:

Pertama, strategi penangkal. Terciptanya sistem keamanan nasional. Kedua, tersedianya jaringan cegah dini tindakan radikalisme dan terorisme yang membahayakan perekonomian ASEAN. Dan ketiga, penanggulangan dari aparat keamanan dari setiap negara untuk dapat secara tepat mengatasi apa yang terjadi apabila ditemukan kegiatan kelompok radikal dan teror.

Pengkajian radikalisme, terorisme dan kaitannya dengan perkembangan ekonomi global merupakan hal terpenting yang dilanjutkan dengan membuat suatu program sebagai bentuk problem solving dari hal-hal di atas secara utuh dan sistematis. Di samping terus meneliti untuk melakukan transformasi terhadap kelompok yang masih melakukan kegiatannya. Dengan perkembangan teknologi dan informasi memang terasa sulit untuk mendeteksi pergerakan mereka, tapi apabila aparat keamanan dan masyarakat ekonomi ASEAN mampu bekerjasama, maka aksi radikalisme dan terorisme akan mampu di atasi secara tepat. Apabila motivasi perjuangan mereka sudah dapat dikenali dengan cepat, maka pemerintah harus segera memperbaiki kondisi mereka untuk berkembang atau kembali bergabung dengan keluarga mereka secara baik atau membina mereka di tempat khusus sesuai dengan kondisi mereka.

Tindakan radikalisme tidak boleh dihadapi dengan tindakan radikal pula. Demikian pula, tindakan teror dilarang dilawan dengan teror pula. Tapi cara yang tepat adalah dengan cara yang moderat dan mengedepankan kelembutan

Mengingat gerakan dan jaringan radikalisme-terorisme sudah merambah pada kancah internasional, maka masyarakat ASEAN harus bekerjasama melakukan kordinasi antar negara agar dapat menangkal upaya mereka dalam membangun basis di perbatasan yang kurang mendapatkan perhatian dari negara-negara.

Dengan semakin berkembangnya pasar bebas di antara masyarakat ASEAN, maka membuka kemungkinan aparat keamanan mendeteksi dini yang secara sengaja atau tidak disengaja memanfaatkan perdagangan bebas. Hal ini apabila dapat terealisir maka strategi-strategi dapat terkendali. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa diperlukan suatu program khusus yang meneliti dan mengatasinya sesuai jati diri bangsa Indonesia yang berasaskan Pancasila.

Adanya segala kesulitan dalam membina masyarakat, tentu akan lebih baik daripada membina dengan membiarkan mereka dengan yang bukan jati dirinya. Pembinaan harus dilaksanakan secara tekun, meskipun mereka dinilai sesat agar dapat kembali kepada keindonesiaan. Tindakan radikalisme tidak boleh dihadapi dengan tindakan radikal pula. Demikian pula, tindakan teror dilarang dilawan dengan teror pula. Tapi cara yang tepat adalah dengan cara yang moderat dan mengedepankan kelembutan. Dalam melaksanakan program khusus, diperlukan juga upaya mensinergikan dengan peranan para tokoh agama untuk membina mereka kembali ke jalan yang benar. []

*Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno, Wakil Presiden RI Periode 1993-1998

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!