Moderasi Beragama Sebagai Vaksin Untuk Kaum Radikal

1
316

Sangkhalifah.co — Radikalisme menjadi momok yang sangat menakutkan, terutama dalam beberapa dekade terakhir ini. Bagaimana tidak, radikalisme mengancam hampir seluruh sendi-sendi kehidupan bangsa ini. Tidak hanya di Indonesia, radikalisme dan terorisme meluluh lantahkan negara-negara di Timur Tengah seperti Suriah, Irak, Yaman dan lain sebagainya. Maka dari itu, beberapa tahun ini pemerintah Indonesia sangat fokus dengan isu-isu radikalisme dan terorisme. Hingga pada puncaknya pemerintah melalui Kementerian Agama meluncurkan buku Moderasi Beragama sebagai palu genderang tanda dimulainya perang melawan radikalisme. Bahkan tahun 2019 dinobatkan sebagai tahun moderasi beragama.

Untuk menghentikan laju gerak radikalisme, pemerintah sudah membuat program kontra narasi dan ideologi secara sistematis yang bertujuan untuk membentengi masyarakat dan generasi muda. Kita harus mengapresiasi bahkan mendukung penuh apa yang dilakukan oleh pemerintah dalam memberantas radikalisme sampai ke akar.

Banyak pendapat terkait sumber perilaku radikal, di antaranya adalah karena tingkat ekonomi rendah, sehingga banyak pelaku radikal bayaran. Ada juga karena teks agama yang ditafsirkan oleh ustadh-ustadh tertentu sehingga seolah melegitimasi perilaku kekerasannya. Salah satu ayat Al-Qur’an yang sering dikutip adalah perangilah kaum kafir di mana pun kalian temui mereka dan hadis perangilah mereka sampai mereka mengucapkan kalimat La ilaha illallah.

Dalam wacana filosofis, perilaku setiap perilaku individu sangat erat kaitannya dengan pikiran. Pikiran kita mengolah setiap informasi sehingga informasi itu menjadi  ideologi dalam diri seseorang. Selanjutnya, ideologi tersebut menjadi keyakinan yang melekat dalam diri dan nantinya diwujudkan dalam tindakan. Sebagai contoh, kita berpikir bahwa Islam adalah agama yang benar, lalu hal itu menjadi ideologi. Setelah itu kita berpikir bahwa salat itu adalah kewajiban yang harus dijalankan sehingga akan memperoleh pahala jika melakukannya dan mendapat siksa jika meninggalkannya. Akhirnya kita melakukan salat karena menjalankan kewajiban dan berharap pahala.

Begitu pun radikalisme, karena informasi-informasi yang masuk dalam diri seseorang berupa konten-konten radikal, seperti tidak ada celah bagi agama selain Islam, yang tidak menerapkan syariat Islam adalah thagut, tidak boleh berinteraksi dengan non-Muslim dan konten lainnya yang ini sangat masif di suarakan di berbagai platform media sosial. Tidak hanya itu, banyak pula ustadh-ustadh yang menyuarakan itu semua. Lalu ustadh dan konten itu dianggap otoritas yang perlu diikuti, ini awal mula tumbuhnya ideologi radikal. Setelah itu, ideologi radikal tersebut direalisasikan menjadi tindakan radikal.

Kemalasan untuk berpikir jelimet pun menyebabkan ideologi ini sangat masif untuk menyebar di kalangan masyarakat terutama pengguna media sosial. Benar apa yang diungkapkan Haidar Bagir, illative sense atau pendidikan rasa sudah pudar di lingkungan kita. Manusia sudah tidak mau lagi berpikir kompleks, hanya ingin instan saja. Sehingga mereka tidak bisa mengkritis apa yang ada dihadapanya dan cenderung menerima serta pasrah.

Dari kondisi di atas, meng-counter radikalisme haruslah dengan memperbaiki cara berpikir masyarakat kita. Cara berpikir kompleks harus kita gencarkan lagi, sehingga masyarakat kita tidak asal terima. Dengan cara berpikir kompleks, rendahnya ekonomi yang digadang-gadang sebagai sumber radikalisme bukanlah hal yang utama dalam hidup ini, karena banyak yang ekonominya rendah tapi tidak terjerumus ke dalam radikalisme. Begitupun dengan sumber keagamaan, kalau kita berpikir kompleks, maka agama tidak mungkin melegitimasi radikalisme bahkan agama menganjurkan kita untuk bersifat moderat yang menjadi prinsip moderasi beragama.

Tidak hanya itu saja, perlu kiranya kita membanjiri informasi-informasi yang diserap oleh masyarakat kita dengan informasi-informasi yang moderat, persatuan, kebinekaan dan keindonesiaan. Pengemasan informasi itu pun tidak boleh jelimet dan kompleks, akan tetapi harus sederhana dan mudah dipahami khalayak umum. Hal ini diperuntukkan informasi-informasi dan konten-konten tersebut tumbuh menjadi ideologi di masyarakat luas yang nantinya lahir perilaku yang moderat, saling menghargai, dan saling mengerti. [Beta Firmansyah]

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!