MIT Itu Gerakan Kejahatan, Bukan Gerakan Keagamaan

3
398

Sangkhalifah.co — Belum reda duka kita karena wabah Covid-19 yang masih melanda, kita kembali dikejutkan lagi dengan kabar duka. Lagi-lagi, kejahatan terorisme mengiris hati kemanusiaan kita semua. Kali ini, aksi terorisme dilakukan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Jumat (27/11), mereka membantai dan membunuh empat orang warga serta membakar delapan rumah warga di Desa Lembantongoa, Palolo, Sigi, Sulawesi Tengah.

Berdasarkan kabar dari berbagai media, menurut hasil penyelidikan pihak keamanan, saksi menyebut bahwa pelaku adalah anggota Mujahidin Indonesia Timur (MIT) . Hasil tersebut didapat setelah mencocokkan dengan gambar Daftar Pencarian Orang (DPO). Tindakan pembantaian yang dilakukan oleh kelompok MIT ini sungguh kejam. Media mengabarkan bagaimana memilukannya kondisi 4 korban yang meninggal. Ada yang dipenggal, digorok lehernya, hingga dibakar. Mereka masih satu keluarga yang terdiri dari pasangan suami istri, anak, dan menantu.

Jelas, tak ada yang bisa dibenarkan dari tindakan keji pembantaian yang dilakukan kelompok teroris di Lembantongoa Sigi tersebut. Semua pihak sudah mengecam kejadian tersebut. Pemerintah menyatakan sikap tegas untuk segera menindak pelaku teror. Presiden Joko Widodo mengutuk tindakan teror dan pembunuhan tersebut, serta  menginstruksikan aparat untuk segera mengusut tuntas kasus tersebut dan membongkar jaringan pelaku sampai ke akarnya.

Pada dasarnya memang tak ada ajaran agama yang mengajarkan untuk menyakiti apalagi membunuh orang. Apalagi membunuh secara keji orang yang bahkan tidak punya urusan atau persoalan apa pun dengan kita. Semua agama mengajarkan kebaikan kepada sesama manusia.

Seperti ditegaskan Menkopolhukam Mahfud MD,  bahwa apa yang ditunjukkan gerombolan Ali Kalora bukanlah gerakan keagamaan, melainkan gerakan kejahatan. Mahfud MD tegas menyebut tindakan kelompok MIT termasuk ke dalam tindakan kejahatan yang sama sekali lepas dari unsur keagamaan. Menkopolhukam juga menegaskan, tragedi Sigi bukanlah perang suku, apalagi perang agama.

Kita tahu, Mujahidin Indonesia Timur (MIT) merupakan kelompok militan yang telah bersumpah setia kepada Negara Islam Irak dan Suriah alias ISIS pada Juli 2014. Pada November 2015, MIT juga pernah merilis video dan menyebut diri mereka “Prajurit Negara Islam” yang juga berisi ancaman terhadap pemerintah dan kepolisian RI. Setelah Santoso pemimpin mereka tewas tertembak dalam Operasi Tinombala pada 18 Juli 2016, MIT kini dipimpin oleh Ali Kalora (tirtodoid, 02/01/2019). Dalam tragedi pembantaian di Lembantongoa kemarin, dikabarkan saksi juga yakin bahwa salah satu pelaku adalah Ali Kalora, pimpinan kelompok teroris tersebut.

Seperti kelompok radikal-terorisme lainnya yang mengklaim sedang menjalankan jihad membela agama, begitu juga dengan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) tersebut. Pemahaman melenceng atas ajaran agama membuat mereka gelap mata. Oleh karena itu, sangat tidak pantas, bahkan bertolak belakang, jika gerakan mereka disebut sebagai gerakan keagamaan.

Refleksi Bersama

Tragedi terorisme di Sigi harus menjadi refleksi serius kita semua sebagai sebuah bangsa. Duka warga Lembantongoa adalah duka kita bersama. Duka keluarga korban adalah duka seluruh bangsa Indonesia. Ini harus menjadi momentum bersama untuk lebih menguatkan ikatan persaudaraan kita sebagai bangsa. Menurut penulis, dalam menyikapi tragedi Sigi ini, ada beberapa hal penting yang harus kita kedepankan saat ini.

Pertama, mendukung penuh pemerintah dan aparat untuk segera mengusut tuntas dan menindak pelaku kejahatan tersebut sampai ke akarnya. Para pelaku harus secepatnya ditemukan dan ditangkap, diungkap motifnya, hingga dihukum dengan setimpal. Negara harus memastikan tak ada tempat bagi kejahatan terorisme di negeri ini. Negara atau aparat keamanan harus benar-benar hadir memberikan ketenangan di tengah masyarakat, terutama di sekitar lokasi kejadian. Jangan sampai, warga dibiarkan dalam ketakutan dan teror. Mereka harus mendapatkan kembali ketenangan hidup seperti sedia kala.

Kedua, kita semua harus tetap menjaga kondusivitas dan keharmonisan bersama. Kita tahu, tragedi pembantaian di Sigi ini memunculkan beragam isu dan narasi di media sosial atau dunia maya. Situasi ini rawan memunculkan provokasi SARA yang bisa memantik pertikaian di tengah masyarakat. Ketiga, terus mengokohkan dan memperkuat semangat beragama yang moderat, toleran, dan damai. Tak bisa dipungkiri, terjerumusnya orang-orang dalam tindakan radikalisme-terorisme kerap bermula dari pemahaman agama yang ekstrem, radikal, dan intoleran.

Dengan demikian, semangat beragama yang toleran dan moderat harus terus dikuatkan dan inilah prinsip utama gerakan keagamaan yang sejati. Seluruh elemen masyarakat, terutama tokoh-tokoh agama harus konsisten menyebarkan spirit beragama yang toleran, damai, menjunjung tinggi persaudaraan dan kemanusiaan. []

*Al-Mahfud, Penulis lulusan IAIN Kudus

3 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!