Mimpi Usang Para Pengasong Khilafah

0
149

Sangkhalifah.co — Setiap berbicara muaranya selalu tidak lain: hendak menerapkan konsep alâ minhajin nubuwwah secara kâffah, hendak menerapkan Al-Qur’an dan Sunnah secara kâffah, hendak meneladani kepemimpinan khulafa rasyidin secara holistik. Tapi ironinya justru melakukan manipulasi statemen tokoh lain untuk mendukung kepentingan kelompoknya sendiri; Tidak jarang membohongi massa umat lain untuk mendukung kegiatan demonstrasinya; Menyebarkan berita hoax yang membodohi massa awam demi kepentingan politis mereka; Dan setiap waktu selalu mengkritik pemerintah seoalah-olah semua yang dilakukan pihak penguasa salah dan pihak merekalah yang selalu benar. Padahal yang mereka tawarkan hanya konsep-konsep utopis belaka.

Yang seringkali tidak disadari oleh mereka bahwa proses keberagamaan untuk menjadi orang baik, apalagi mencapai tataran ideal kebaikan yang dikehendaki agama merupakan hal yang sangat-sangat sulit. Prosesnya sering sekali amat panjang dan tidak berkesudahan.

Bayangkan begini: banyak orang-orang yang sudah belajar di pesantren selama puluhan tahun. Mereka berguru kepada seorang kiai atau ulama yang amat zuhud, wara’, qonaah, tawadhu, dan ikhlas. Para kiai dan ulama-ulama ini bukan hanya mengajarkan teori-teori wacana keagamaan tapi juga benar-benar menjadi teladan hidup dari ilmu-ilmu yang mereka ajarkan.

Bahkan sebagian mereka bersimpuh di hadapan seorang kiai, ulama sufi atau seorang mursyid yang sudah mengalami pencerahan spiritual: para guru tasawuf dan tarikat yang bukan hanya telah menaklukkan hawa nafsu mereka dan pesona duniawi, tapi juga sudah inkisyaf; melanglang buana menjelajahi semesta alam malakut. Mereka adalah orang-orang yang mengetahui berbagai macam penyakit hati dan selalu berupaya mengobatinya.

Sebagian para santri ini menggembleng diri dengan melakukan tirakat, riyadhoh, dan tazkiyatu al-Nafs dengan berpuasa serta mengamalkan wirid-wirid spiritual dunia sufistik selama bertahun-tahun bahkan sampai puluhan tahun.

Ketika boyong pulang kampung, tidak sedikit di antara mereka yang menjadi pendidik; ada yang menjadi kiai kampung, ada yang menjadi guru di sekolah, ada yang menjadi guru besar atau pun dosen di perguruan tinggi; Dan tidak sedikit pula yang menjadi ulama dan kiai lagi dengan ribuan santri.

Baca Juga:

Tapi menariknya, banyak di antara mereka yang tidak berani secara langsung berteriak hendak menerapkan minhaj nubuwah secara kâffah; hendak menerapkan Al-Qur’an dan Sunnah (bahwa mereka sanggup) secara kaffah. Justru mereka dengan penuh kerendahan hati selalu menyadari kekurangan mereka dalam beribadah, walaupun dalam pandangan kita yang awam perilaku mereka sudah sangat menakjubkan. Mengapa demikian?

Sebab mereka menyadari bahwa ketika mereka menelisik qolbu mereka dengan jujur, kadangkala mereka masih merasakan lintasan-lintasan penyakit riya’, ujub, dengki, takabbur, hubbud dunya (cinta dunia), dan penyakit lainnya yang muncul tenggelam dalam jiwa mereka. Sehingga mereka merasa malu kepada Allah untuk berteriak-teriak tentang menerapkan Islam secara kâffah ke hadapan masyarakat awam yang hanya mengetahui kesempurnaannya, padahal mereka menyadari bahwa qolbu-nya masih keruh.

Mereka adalah orang-orang yang mengetahui penyakit-penyakit hati dan senantiasa mendeteksi, dan mengobatinya. Perjuangan itu berlangsung selama hayat masih di kandung badan. Perjuangan yang acapkali tidak telihat, namun sangat berat dan tidak berkesudahan. Imam Ghazali mengatakan bahwa orang-orang yang tidak mengetahui keburukan, niscaya akan terperangkap ke dalamnya.

Nah, sekarang orang-orang yang belajar agamanya hanya berdiskusi dengan melakukan halaqoh-halaqoh, membaca karya tokoh-tokoh yang sangat terbatas karena dibatasi oleh kelompok mereka; hanya membaca karya-karya terjemahan bukan langsung dari sumber orisinilnya; berguru kepada orang-orang yang tidak memiliki kualifikasi keilmuan yang established, karena tidak pernah belajar di pesantren secara utuh, atau mendalami Islamic Studies di perguruan-perguruan tinggi Islam secara tuntas misalnya; Bahkan sebagian besar figur-figur yang bersuara tentang menerapkan Islam secara kâffah ini, tidak pernah berguru dan bersimpuh kepada seorang kiai atau Ulama yang alim dan arif untuk mendalami agama mereka.

Lalu mereka teriak-teriak hendak menerapkan minhaj nubuwah dengan kâffah; hendak menerapkan Al-Qur’an dan Sunnah dengan holisktik. It’s impossible. Sebab konsep besar, mulia, agung, dan holistik hanya bisa diakses secara holistik dan diterapkan oleh figur-figur yang juga memiliki kualifikasi yang mumpuni, mapan dan canggih bukan hanya dalam aspek keilmuan, tapi juga dalam aspek moral-akhlak, integritas, kompetensi, dan visinya.

Pesannya: belajarlah secara utuh kepada para kiai atau ulama yang benar-benar alim dan arif bijaksana, dalam waktu yang cukup memadai; Agar bukan hanya mendapatkan ilmu yang bermanfaat tapi juga dapat melihat teladan hidup orang-orang arif, yang meskipun alim dan arif tapi tetap tawadhu dalam bertutur kata, bersikap, dan bertindak.

Wahai sobat, bergurulah kepada seorang guru, kiai atau ulama yang benar-benar arif, dan dalamilah tasawuf agar memiliki kewaspadaan perspektif sufistik ini: mampu menelisik asumsi-asumsi di balik perilaku kita, sekaligus mampu menelisik lebih dalam asumsi di balik asumsi kita; sehingga menjadi orang-orang yang sadar diri, tahu diri, dan bisa mengukur diri. []

*Dr. Zaprulkhan M.Pdi, Dosen IAIN SAS Bangka Belitung

Leave a reply

error: Content is protected !!