Milda Istiqamah: Kita Perlu Waspada Terhadap Kemenangan Taliban Tapi Jangan Berlebihan

1
167

Sangkhalifah.co — Pasca kemenangan Taliban di Afghanistan, warga Indonesia terpecah ke dalam tiga paradigma. Ada yang berkata bahwa Taliban telah berubah menjadi moderat; ada yang berkata Taliban masih sama dengan yang dulu; dan terakhir untuk membuktikan Taliban telah berubah kita harus wait and see.

Milda Istiqamah mengajak kita bersama untuk waspada atas kemenangan Taliban, karena bisa menjadi inspirasi kelompok-kelompok tertentu dalam melakukan hal yang sama untuk di Indonesia.

“Kita perlu mewaspadai jika ada kelompok tertentu yang memanfaatkan situasi tersebut dengan membangun kekuatan dan gerakan terorisme baru. Karena dikhawatirkan akan muncul inspirasi dan motivasi baru untuk membentuk Negara Islam yang mengarah kepada tindakan eksklusif,” ujarnya dalam diskusi Kiat Menangkal Radikalisme Pasca Kemenangan Taliban yang digagas Forum Intelektual Muda (06/09/21).

Dia menambahkan, jika kita menengok kembali sejarah masa lalu mereka bahwa di Afghanistan sudah lama menjadi training ground dan battle ground bagi para foreign teroris fighter.

“Sejak tahun 1980an, Afghanistan telah menjadi training camp dan battle ground atau jihadis-jihadis Indonesia. Bahkan sebelumnya juga, banyak sekali gelombang-gelombang pengiriman yang berangkat ke Afghanistan dan ketika balik ke Indonesia, merekalah yang melakukan perbuatan aksi teroris di Indoensia,” tambahnya.

Pengamat Teroris ini juga memaparkan bahwa munculnya Jamaah Islamiyah dan kejadian bom Bali sampai saat ini. Sejarah masa lalu haruslah dijadikan pelajaran dan jangan sampai ketakutan yang ada menjadi kenyataan di negara kita.

“Data-data yang disampaikan Densus 88 seperti reproduksi Jamaah Islamiyah dan kelompok teroris lainnya yang meningkat ini harus kita waspadai bersama. Dan model perekrutannya yang juga mudah atau tidak seribet dulu, dan menyasar ke semua lini. Nah ini yang harus menjadi perhatian kita bersama,” ujarnya.

Namun ada satu hal yang penting, menurut Milda, jika ada orang Indonesia berangkat ke Afghanistan dan mengikuti pelatihan. Bagaimana kemudian kita mencari dasar hukum untuk penindakan perbuatan yang demikian.

“Sebetulnya, kalau kita bicara undang-undang anti-terorisme di dalam Pasal 12 huruf a dan b bahwa dijelaskan setiap orang yang dengan sengaja menyelenggarakan atau mengikuti pelatihan militer dan sejenisnya, di dalam maupun luar negeri, maka dikenakan pasal tindak pidana terorisme,” pungkasnya.

Milda juga mengingatkan bahwa banyak persoalan di luar itu yang harus kita seriusi, seperti kekaburan data orang-orang yang berangkat ke Afghanistan. Namun hematnya, kita percaya bahwa Densus 88 akan memiliki strategi dalam mencegah dan menanggulangi gelombang bahkan menindaknya.

“Kita harus waspada tapi jangan berlebihan. Pergerakan kelompok radikal-teroris dalam penindakan kita serahkan kepada Densus 88. Saya pikir juga Densus 88 telah bekerja sekuat tenaga bersama dengan stakeholders terkait. Kita sebagai masyarakat atau civil society hanya bisa melakukan ragam pencegahan maupun penanggulangan dari segi kontra narasi, kontra radikal maupun kontra teroris,” tutupnya. []

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!