Mewaspadai Politik “Kuda Troya” Dari Pengusung Khilafah

2
472

Oleh: Al-Mahfud (Lulusan STAIN Kudus)

Sangkhalifah.co — Ketika upaya memerangi dan mengalahkan lawan selalu gagal, maka strategi lain dilancarkan. Jika lawan memiliki benteng yang kokoh, maka strategi yang dijalankan tak lagi peperangan langsung, namun lewat tipu daya. Hal ini pula yang mesti diwaspadai dari gerakan kelompok khilafah. Mereka telah melakukan berbagai cara, namun Pancasila dan NKRI kelewat kuat untuk ditembus. Kini, bukan tidak mungkin strategi mereka adalah dengan penyamaran, berbagai bentuk tipu daya, dan menunggangi isu.

Kita bisa memahami pola-pola politik penyamaran dan tipu daya tersebut dari politik Kuda Troya. Kuda Troya merupakan mitologi Yunani tentang bagaimana jebakan atau tipu daya patung kuda kayu raksasa rancangan musuh bangsa Troya, yakni bangsa Akhaia. Bangsa Troya menyangka patung tersebut merupakan lambang kemenangan mereka dan sekaligus bentuk pengakuan atas kekalahan bangsa Akhaia, sehingga menerima masuk kuda tersebut dan meletakkannya di tengah kota.

Akan tetapi, ternyata di dalam patung kuda Troya raksasa tersebut bersembunyi pasukan Akhaia. Pasukan yang langsung menyerang dan membantai pasukan Troya hingga raja mereka, Raja Priam yang terkenal perkasa pun terbunuh. Secara metaforis, istilah “kuda troya” kini dimaknai sebagai proses tipu daya yang membuat sasaran mengundang musuh ke tempat yang seharusnya terlindungi (Hariman Satria: 2018).

Seperti halnya gerakan-gerakan yang marak muncul belakangan ini, yang seolah mengatasnamakan pembela Pancasila, namun harus diwaspadai memiliki agenda lain yang membahayakan seperti penyebaran ideologi khilafah. Gerakan-gerakan yang memakai istilah-istilah atau simbol-simbol Indonesia yang kuat, seperti pro Pancasila, pro NKRI, dan sebagainya, bisa jadi membawa agenda politik tersendiri yang justru mengancam keutuhan NKRI dan ideologi Pancasila.

Gerakan-gerakan yang terdengar begitu akrab, bersahabat, dan sejalan dengan semangat kebangsaan dan keindonesiaan, harus dipandang dengan jeli dan tetap harus diwaspadai. Tak ubahnya jebakan kuda troya yang membuat bangsa Troya merasa menang dan musuh telah kalah, sehingga mereka lengah dan menerima masuk patung kuda Troya tersebut. Kelengahan tersebut dimanfaatkan pasukan Akhaia yang bersembunyi di dalam patung kuda troya tersebut untuk menyerang dan meluluhlantahkan pasukan Troya.

Upaya kita dalam menjaga NKRI, ideologi Pancasila, dan melawan gerakan radikal-terorisme atau pengusung ideologi khilafah tak boleh lengah. Jangan sampai, kita silau dengan istilah-istilah, simbol-simbol dan lambang-lambang yang terlihat sejalan dan senafas dengan perjuangan kita, namun itu menjadi jebakan dan pintu masuk mereka untuk menghancurkan keutuhan NKRI dan ideologi Pancasila dari dalam.

Seperti pasukan Troya yang silau dengan patung raksasa kuda Troya, yang dianggap lambang kemenangan mereka namun justru di dalamnya berisi musuh yang balik menyerang dan mengalahkan mereka. Jangan sampai kita gampang puas dan merasa telah menang dari pemberantasan radikalisme-terorisme dan penangkalan ideologi khilafah, padahal mereka telah menyusup dan menyamar seolah menjadi bagian dari gerakan kita.

Kita tahu, pengusung ideologi khilafah selama ini telah melancarkan segala cara untuk melemahkan ikatan kebangsaan dan persaudaraan kita. Mereka menyusup ke berbagai lini kehidupan, memanfaatkan berbagai sektor, dan berbagai lapisan masyarakat. Seperti menunggangi isu sosial, politik, ekonomi, dan sebagainya. Juga menyasar dan memengaruhi kalangan pejabat, ASN, akademisi, pelajar, hingga masyarakat luas, sehingga paham radikal menyebar luas. 

Tak boleh dilupakan, mereka juga lihai memanfaatkan perkembangan era digital. Selain rekruitmen online, mereka juga memiliki pasukan siber yang gencar menyebarkan ideologi khilafah yang dibungkus rapi dalam berbagai isu-isu aktual yang sedang berkembang di masyarakat. Mereka menyebarkannya melalui media sosial yang begitu gampang diakses masyarakat luas dalam aktivitas sehari-hari di dunia maya.

Model-model “Kuda Troya”  

Bagi penulis, kewaspadaan terhadap politik “Kuda Troya” kelompok pengusung ideologi khilafah tak boleh hanya pada kemunculan gerakan-gerakan yang sekilas nampak pro NKRI dan pro Pancasila yang muncul akhir-akhir ini. Maksudnya tidak sekadar pada isu-isu nasional dan gerakan-gerakan yang muncul di ibu kota. Kita juga mesti waspada terhadap berbagai model penyusupan dan penyamaran yang dilakukan di sekitar kita atau dalam lingkup lokal.

Perkumpulan atau kelompok-kelompok baru yang muncul di sekitar kita, yang sekilas nampak bersuara lantang tentang Pancasila, NKRI, dan isu-isu kebangsaan lainnya, juga mesti diwaspadai. Pada intinya, kita harus lebih jeli, hati-hati, dan tidak gampang terpengaruh provokasi, hoaks, hingga tipu daya gerakan-gerakan yang menyamar di sekitar kita.

Bahkan, kita juga perlu waspada dengan bentuk-bentuk penyamaran yang dilancarkan dalam konten-konten digital di internet. Konten-konten yang sekilas berwajah ramah, halaman awalnya nampak begitu bersabahat, atau akun-akun media sosial yang sekilas pro semangat kebangsaan, namun kemudian menyimpan agenda-agenda berbahaya yang mengancam keutuhan NKRI khas kelompok radikal, harus juga diwaspadai. Pada dasarnya, itu juga bisa dikatakan menjadi bentuk politik “Kuda Troya” di dunia maya, atau penyamaran yang menarik perhatian kita namun memiliki agenda lain yang membahayakan di baliknya.

Pada akhirnya, kewaspadaan terhadap politik “Kuda Troya” harus menjadi gerakan bersama tentang kejelian dan kehati-hatian terhadap berbagai model, bentuk, dan rupa-rupa penyamaran, penipuan, dan penyusupan kelompok pengusung khilafah dan ideologi radikal-terorisme yang ada di sekitar kita. Kita harus semakin jeli, semakin waspada, agar tetap kokoh dalam naungan Pancasila dan NKRI yang sebenarnya.

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!