Mewaspadai “Inflasi Virus Radikalisme” di Medsos

0
97

Sangkhalifah.co — Di masa pandemi saat ini narasi kebencian dan radikalisme justru semakin mengalami inflasi di media sosial. Hampir setiap harinya terjadi pertarungan tagar antara kelompok radikalis yang mendeskreditkan kinerja pemerintah dalam menangani pandemi, dengan para Buzeer yang mensupport kerja-kerja pemerintah melawan covid-19, dalam hal ini kebijakan PPKM Darurat.

Sembulan narasi provokatif saban harinya terus tereproduksi secara massif oleh kelompok radikal. Parahnya, sebagian dari kita ternyata mudah percaya dengan informasi yang berasal dari media sosial yang tidak ada kejelasan sumber faktualnya, padahal itu hanyalah pesan berantai kalangan radikal yang “diforward” atau “dicopy-paste” dari satu group ke group yang lain di medsos. Pesan provokatif inilah yang menimbulkan kebingungan serta kepanikan di masyarakat.

Hantu Virtual

Realitas inilah yang saya sebut sebagai hantu virtual. Mengingat hantu naratif ini semakin hari kian mengalami amplifikasi yang seakan tanpa batas. Hantu virtual ini biasanya berupa narasi kebencian yang bermunculan di medsos. Ini adalah bagian dari strategi gerakan para kelompok islamis yang berupaya untuk memupuk rasa tidak percaya terhadap pemerintah. Hal ini bisa kita telusuri mulai dari narasi penolakan pembatalan ibadah haji hingga berbagai provokasi penolakan pelaksanaan PPKM darurat yang sedang berlangsung saat ini.

Pada gilirannya, kelompok radikal sengaja mengambil momen pandemi covid-19 untuk menyebarkan narasi provokatif serta ajarannya yang sesat, karenanya mereka sangat aktif memproduksi narasi kebencian. Mereka dengan sengaja membuat berita hoax dan menjelek-jelekkan pemerintah. Maka kita idealnya jangan mudah percaya pada kata-kata hasil broadcast mereka, karena itu hanyalah berita palsu dan propagandis belaka.

Kelompok radikalis terus konsisten menyemai benih-benih narasi radikalisme di dunia digital, yang pada akhirnya berpotensi pada gerakan terorisme. Sebagaimana menurut Direktur Pencegahan BNPT, Ahmad Nurwakhid (2021) bahwa ancaman terorisme saat ini tidak hanya sekedar aksi di dunia nyata namun sudah merambah ke media sosial. Terbukti 67% konten yang beredar di internet memiliki unsur intoleransi terutama hoax dan hate speech. Legitimasi kekerasan atas nama agama seringkali digunakan sebagai sentaja utama kelompok terorisme. Hal ini pada akhirnya dapat mengancam kerukunan antar umat beragama.

Menurutnya, saat ini penting bagi kita untuk memiliki modal pemahaman moral dalam aktivitas di media sosial. Pasalnya, apabila prinsip etis diterapkan dengan baik, maka seharusnya kasus ujaran kebencian dan hoax tidak akan pernah terjadi. Oleh karena itu, baginya peran Pancasila sangat vital sebagai anti tesis dari ideologi terorisme yang memecah belah. Pancasila hadir sebagai ideologi pemersatu bangsa.

Meredam Inflasi Virus Radikalisme

Dalam konteks ini, inflasi radikalisme di media baru menjadi persoalan krusial yang harus dicarikan jalan keluarnya. Menurut Susanto (2016), secara konseptual radikalisme sering disebut dengan Tatarruf, artinya adalah tidak adanya keseimbangan karena tindakan sikap berlebihan dalam beragama. Tatarruf, atau sikap keras adalah sikap ekstrem, baik dengan melakukan tindakan berlebihan, kekerasan ataupun meremehkan.

Untuk itu, narasi ekstrem yang sangat kental dan terus menerus diproduksi di dunia digital saat ini pastinya akan menjadi bom waktu yang hanya tinggal menunggu waktu ledakannya. Salah satu cara meningkatkan kewaspadaan kita adalah dengan mengenali ciri-cirinya dan berhenti untuk membiasakan diri menyebarkan narasi yang tidak jelas asal-usulnya.

Kelompok radikalis terus berusaha untuk meng-agamaisasi kekerasan terhadap Islam, khususnya di ruang digital. Narasi Radikal pada gilirannya menjadi gerakan keagamaan berbasis medsos yang berusaha merubah secara keseluruhan tatanan yang ada (politis, sosial, ekonomi) dengan pendekatan tekstualis. Dalam konteks Indonesia saat ini, yang seringkali muncul, khususnya di media sosial adalah kalangan islam radikal yang disatu sisi mendiskreditkan pemerintah juga berupaya mengibarkan panji-panji khilafahnya. Keduanya sama-sama menjadi virus radikal yang berbahaya bagi tatanan kebangsaan kita.

Akhirnya, virus radikalisme saat ini yang telah menjalar begitu deras di media sosial tentu sangatlah berbahaya, apalagi sasaran strategisnya adalah generasi muda yang notabene akrab dengan media sosial. Terorisme pada gilirannya sama halnya dengan virus yang dapat menyebar dengan cepat melalui media sosial. Bahkan bisa saja seseorang terpengaruh, namun mereka tidak menyadarinya. Maka dari itu, penting untuk membanjiri media sosial dengan narasi keagamaan yang moderat dan narasi perdamaian. []

*Ferdiansah, Peneliti The Al-Falah Institute Yogyakarta

Leave a reply

error: Content is protected !!