Mewaspadai Gerakan Taliban 2.0

0
231

Sangkhalifah.co — Timur tengah kembali menjadi sorotan dunia internasional setelah Taliban berhasil menguasai Kabul, Afganistan (15/08). Taliban dapat dengan mudah menguasai Afganistan ketika sebelumnya Amerika menarik militernya, setelah hampir dua dekade berada di medan pertempuran Afganistan. Ketika Taliban berupaya untuk mengambil alih pemerintahan Afganistan, mereka hampir tanpa ada perlawanan yang berarti dari militer Afganistan itu sendiri.

Secara historis, pada dua dekade lalu, tepatnya pada periode 1996–2001, Taliban pernah menguasai Afganistan. Namun, kepemimpinan mereka yang zalim dan ekstrem membuat Taliban tak disukai, baik di oleh warga negaranya maupun oleh kalangan internasional, terutama negara-negara Barat. Di babak kedua penguasaannya ini, Taliban berupaya menampilkan wajah baru yang lebih toleran, diplomatis, dan moderat. Inilah Taliban versi 2.0.

Seorang Kartunis politik harian The Washington Post, Michael de Adder, via laman opini koran tersebut (20/8) membuat karikatur yang menggambarkan perbedaan Taliban versi lama (1.0) dan versi baru (2.0). Adder menggambarkan Taliban 1.0 dengan sosok tiga jihadis Taliban yang menodong perempuan berburqa, sementara Taliban 2.0 diilustrasikan dengan gambar serupa, namun salah satu jihadis sembari memegang boneka kinder yang eye-catching dengan mentari tersenyum di badannya. Di bawahnya tertulis ”The New Kinder Taliban”.

Karikatur tersebut merupakan sebuah sindiran terhadap Taliban yang berwajah baru. Baginya, Taliban itu sebenarnya sama saja antara yang dulu dan sekarang. Bedanya, Taliban versi baru ini lebih cerdik dalam pencitraan. Pandangan Adder ini tak pelak mewakili pikiran banyak pakar perdamaian dunia dan hampir seluruh masyarakat dunia. Adder cukup yakin bahwa imaji Taliban yang moderat hanyalah propaganda politis agar kepemimpinan Taliban kali ini bisa diterima warga Afghanistan maupun kalangan internasional.

Melalui juru bicaranya, Zabihullah Mujahid, dalam konferensi pers (17/8), Taliban menyatakan berjanji untuk melindungi hak-hak perempuan dan kebebasan pers, sesuatu yang agak janggal jika melihat wajah Taliban 1.0. Taliban juga berjanji tidak akan melakukan balas dendam pada musuh politik mereka dan akan mengedepankan strategi atau diplomasi perdamaian. Pernyataan yang terasa janggal jika merujuk portofolio perilaku Taliban yang ekstrem dan brutal dan berbagai catatan panjang perjalanan mereka.

Defisit Patriotisme

Pertanyaannya, mengapa kemudian Afganistan dapat dengan mudah dikuasai oleh Taliban?. Pertama, jika ditelusuri secara seksama, Taliban melihat adanya peluang lebar untuk menguasai Afganistan secara de jure, karena tentara Amerika perlahan sebagian sudah angkat kaki dari negara yang berjuluk “The Graveyard of imperium” tersebut. Hal ini kemudian dimanfaatkan dengan baik oleh Taliban untuk menguasai Afganistan. Dan apa yang sudah terjadi di negara kaya minyak ini di luar prediksi para pengamat militer Amerika.

Kedua, para militer atau angkatan bersenjata Afghanistan ternyata tidak siap tempur. Inilah yang membuat pergerakan Taliban leluasa menaklukkan kota demi kota di Afghanistan sebelum akhirnya menguasai kota Kabul. Menurut Hasibullah Satrawi (2021), sebagian pengamat militer di Timur Tengah menilai bahwa angkatan bersenjata Afghanistan cukup lemah disebabkan oleh (salah satunya) nilai-nilai patriotisme kebangsaan yang belum tertanam kuat di kalangan aparatmiliter. Selain itu, akibat dari sokongan serangan udara Amerika dan koalisinya yang kuat selama ini membuat pasukan Afghanistan “termanjakan”, termasuk dalam melawan kelompok-kelompok separatis seperti Taliban. Akibatnya, tanpa dukungan serangan udara Amerika, pasukan Afghanistan tidak bisa berbuat banyak seperti ketika berhadapan dengan gempuran pasukan Taliban yang dua pekan lalu berhasil menduduki Kabul.

Waspada adalah Kunci

Namun terlepas dari itu semua, kita perlu terus waspada terhadap geliat Taliban 2.0 ini. Mengingat mereka bisa saja berubah sesuai dengan kepentingan pragmatisnya, karena apa yang sudah diterapkan saat Taliban 1.0 berkuasa merupakan bagian dari visi ideologis mereka. Oleh karenanya, ideologi ini menjadi dasar dan pandangan hidup mereka dalam penegakan syariat islam yang mereka yakini. Dan bisa jadi akan tetap mereka jaga dan sewaktu-waktu diterapkan jika sudah cukup memungkinkan.

Menurut Subhan Setowara (2021) bahwa Taliban bisa saja menjadi faksi politik yang senantiasa fleksibel dalam bertindak sesuai dengan kepentingan pragmatis. Jadi, segala sikap dan gerakan mereka tak lagi ditentukan faktor ideologis, namun lebih-lebih dipengaruhi hasrat melanggengkan kekuasaan. Artinya, adakalanya mereka bersifat moderat, namun di waktu lain bisa bertindak ekstrem, bergantung situasi dan kepentingan. Bagaimanapun, apa yang terjadi dalam beberapa bulan ke depan bakal menjadi ujian yang krusial bagi Taliban 2.0.

Akhirnya, kewaspadaan menjadi kunci penting untuk mengawal pergerakan Taliban 2.0, sehingga demokratisasi dan perdamaian di Afganistan nantinya bisa tercapai. Selain itu, perlu juga para pengamat dan diplomat mencari titik temu rekonsiliasi dan bagaimana penyelesaian konflik di Afganistan ini bisa segera terselesaikan dengan jalur-jalur diplomasi yang berkeadaban. [Ferdiansah]

Leave a reply

error: Content is protected !!