Metamorfosis Radikalisme

0
428

Sangkhalifah.co — Bom Bali, menurut penuturan Ali Imron dan Umar Patek, beratnya satu ton. Ini satu kejahatan yang memerlukan permufakatan besar. Mulai dari pendanaan, pembelanjaan hingga perakitan bom; ada mata rantai jaringan yang harus bergerak maksimal. Mereka ingin memakan korban sebanyak-banyaknya dengan tujuan memusnahkan orang lain. Ada juga peristiwa 9/11 di New York, JW. Marriott dan bom Malam Natal, kesemuanya adalah teror dengan harap tak seimbang: satu pelaku bunuh diri harus ditukar dengan korban sebanyak mungkin. Ini semua adalah metode teror selama dua dekade lalu.

Tapi beberapa tahun belakangan semua berubah perlahan. Setelah ledakan besar memberi cemas bertahun-tahun, kini pelaku teror tidak lagi peduli jumlah korban ataupun perimeter ledakan. Mereka hanya perlu pembenaran “fiqih” untuk masuk sorga dengan cara bunuh diri. Karenanya, sepuluh tahun belakangan bom teroris semakin “low explosive”, ia berupa buku, pipa, panci, bahkan bola karet.

Bulan ini Urip Widodo, seorang polisi, menulis rinci dalam disertasi doktoralnya tentang terorisme masa depan. Dia menegaskan: “infiltrasi radikalisme masa depan tidak perlu berkerumun, tatap muka atau keterlibatan jaringan, tapi melakukannya secara online. Ini jauh lebih berbahaya karena tidak mengenal ruang. Sekali anda mencari konten radikal di dunia maya, algoritma media sosial akan menawarkannya terus menerus. Ketika terpapar, lalu berbai’at online, seseorang akan mudah melakukan aksi terornya secara mandiri”. Pola “Lone wolf” itu berakar dari sini.

Jenderal Urip tidak berlebihan. Kyle Greene, ahli propaganda media yang menjadi rujukan dalam disertasinya itu menyebutkan: ribuan orang dari seluruh dunia yang bergabung dengan ISIS di Suriah sejatinya diberangkatkan oleh Twitter dan Facebook. “Di masa depan”, kata Greene, “satu waktu mungkin saja anda seorang sekuler dengan pola hidup normal, seminggu kemudian bisa jadi anda membombardir buta atas nama Tuhan. Media sosial membuat radikalisme hadir prematur.” Sekali tertarik dengan ajaran intoleran, saat itu juga berkenalan dengan kebencian – sekali saja mudah membid’ahkan orang lain, saat itu juga akan mudah mengkafirkan.  [Islah Bahrawi]

Leave a reply

error: Content is protected !!