Mereduksi Intoleransi di Perguruan Tinggi Agama

0
542

Sangkhalifah.co — Realitas kebhinekaan di ranah kampus masih menjadi suatu yang sukar terjadi.  Hal ini berdasarkan hasil riset terbaru PPIM UIN Jakarta tahun 2021, berjudul “Kebhinekaan di Menara Gading: Toleransi Beragama di Perguruan Tinggi” yang menunjukkan bahwa kesadaran multikultural di ranah mahasiswa masih cukup rendah, khususnya di Perguruan Tinggi Agama (PTA). Hal ini bisa terjadi karena minimnya relasi sosial yang beragam di PTA. Sehingga menyebabkan para mahasiswanya cenderung ekslusif dan kemudian mengarah kepada sikap intoleran.

Sikap intoleran ini meniscayakan akan nihilnya realitas keberagaman. Karena hanya kelompok tertentu yang dianggap benar, sedangkan kelompok lian itu salah. Realitas inilah yang seringkali menyebabkan problem konflik di lembaga pendidikan tinggi.

Dalam penelitian PPIM UIN Jakarta tersebut setidaknya menunjukkan dua realitas yang berkorelasi kuat dengan toleransi beragama. Pertama, interaksi sosial mahasiswa dengan kelompok yang berbeda, memiliki korelasi positif yang kuat dengan toleransi beragama. Interaksi antar kelompok ini bisa berlangsung dalam hubungan pergaulan sosial, kerja sama, dan diskusi atau tukar pikiran dengan sesama mahasiswa.

Dan ini biasanya dapat terwujud di Perguruan Tinggi Umum/Swasta. Di saat yang sama, penelitian ini menunjukkan bahwa kegiatan-kegiatan keagamaan tertentu, seperti lembaga dakwah kampus, berkorelasi negatif dengan toleransi beragama.

Kedua, penelitian ini juga menunjukkan bahwa iklim sosial yang heterogen di kampus juga berkorelasi dengan toleransi beragama mahasiswa. PPIM memaparkan bahwa kebijakan kampus terhadap kelompok minoritas keagamaaan dan sikap toleransi beragama dosen, berkorelasi positif dengan toleransi beragama mahasiswa. Semakin tinggi tingkat toleransi beragama dosen dan penerimaan atau penghormatan kampus terhadap kelompok minoritas, maka semakin tinggi pula toleransi beragama mahasiswa.

Realitas yang kedua tersebut berkorelasi dengan toleransi beragama terhadap kelompok mahasiswa pemeluk agama lain, yang secara kuantitas tergolong minoritas. Sementara sikap toleransi beragama dosen berkorelasi positif dengan sikap toleransi agama mahasiswa Muslim. Dosen dalam hal ini menjadi role model sikap keberagaman para mahasiswa.

Melihat realitas di atas, semakin menunjukkan bahwa sebenarnya mahasiswa di PTA kita masih cukup minim akan kesadaran multikultural. Sebagian kelompok mahasiswa masih terlalu fanatik terhadap identitas primordialnya, sehingga menafikan kelompok yang lain. Hal tersebut pun seturut dengan realitas “pra-pemahaman” yang ada pada diri mahasiswa, yang kebanyakan hidup di lingkungan homogen.

Memupuk Kesadaran Multikultural

Untuk itu, membangun kesadaran multikultural merupakan sebuah keniscayaan sebagai wujud dari penghargaan terhadap keanekaragaman. Menurut Ahmad Hifni (2017), setidaknya 3 alasan penting terkait pentingnya kesadaran keberagaman (multicultural). Pertama, multikulturalisme dapat menumbuhkan solidaritas kebangsaan dengan basis pengakuan terhadap keanekaragaman agama, suku, dan budaya.

Sebaliknya, monokulturalisme hanya akan menumbuhkan intoleransi yang menyebabkan rapuhnya bangunan kebangsaan. Nilai-nilai kesetaraan dalam konteks kebangsaan akan menumbuhkan nasionalisme.

Kedua, kesadaran multikulturalisme akan menumbuhkan pentingnya nilai-nilai kemanusiaan. Ia tidak hanya mengangkat hak-hak komunitas, melainkan juga hak asasi setiap individu yang memberikan ruang kepada setiap individu lain untuk mengekspresikan pandangan dan keyakinannya. Dalam konteks kampus hal ini bisa diwujudkan dengan membuat kelompok kajian lintas madzhab/agama.

Ketiga, multikulturalisme dapat menjadi kekuatan kultural yang berfungsi untuk mengantisipasi konflik sektarian. Kesediaan untuk menerima pihak lain akan menghancurkan kecurigaan dan kebencian terhadap yang lain. Terjadinya berbagai aksis intoleran di PTA bisa jadi karena belum adanya pola komunikasi dan saling mengenalnya antara satu kelompok dengan kelompok yang lain.

Karena pada prinsipnya, setiap konflik yang bersumber dari kecurigaan dan kebencian, harus dibendung dengan kesadaran multikulturalisme untuk membangun kesadaran pentingnya kelompok lain sebagai potensi, bukan ancaman. Nilai-nilai multikulturalisme dapat berperan dalam membangun harmoni, baik dalam konteks kebangsaan, kemanusiaan, maupun relasi sosial.

Akhirnya, membangun kesadaran multikultural harus terus dihidupkan di lingkungan sekitar, khususnya di Perguruan Tinggi yang Homogen. Jika tidak, akan sulit membendung praktik intoleransi yang sangat potensial akan terus di ranah pendidikan. [Ferdiansyah]

Leave a reply

error: Content is protected !!