Merayakan Natal ala Muslim Indonesia

0
212

Sangkhalifah.co — Di hampir setiap penghujung tahun, umat Islam Indonesia memiliki kebiasaan rutin untuk turut ‘meramaikan’ perayaan Natal umat Nasrani, yakni dengan terus-terusan mengulang perdebatan usang soal boleh-tidaknya mengucapkan “Selamat Natal”. Perdebatan ini bahkan kini semakin ramai, jauh lebih ramai ketimbang persiapan perayaan Natal di banyak gereja.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah memulai parade perayaan ini dengan saling lempar fatwa soal hukum mengucapkan “Selamat Natal”; MUI Sumatra Utara misalnya, tegas mengharamkan ucapan “selamat natal”, sementara MUI Pusat tak mempermasalahkan hal itu. MUI Jawa Timur –hampir sama dengan MUI Sumut— juga melarang menyelamati perayaan hari Natal, bedanya, larangan ini hanya berlaku untuk warga biasa; orang-orang seperti saya dan mantan-mantan saya; orang biasa semua! Wakil Presiden tetap boleh mengucapkan selamat natal.

Gimana, sudah ramai, kan?

Jujur saja, perdebatan tentang hukum mengucapkan “Selamat Natal” ini sudah kelewat membosankan. Sebabnya, argumen yang dijejalkan di setiap perdebatan juga sebenarnya mbulet di situ-situ saja, yakni menyamakan “mengucapkan” dengan “mengimani”; seolah mengucapkan “Selamat Natal” sama dengan mengimani kelahiran Yesus sebagai anak Tuhan. Yang berarti, keluar dari Islam.

Duh, Gusti… angel… angel…

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) seri terbaru menjelaskan bahwa “mengucapkan” hanyalah aktivitas memberi ucapan, bukan menukarkan keimanan. Artinya, meski mulut memberi ucapan “Selamat Natal”, hal ini tak serta merta berarti bahwa si pemilik mulut telah berganti agama. Sekali lagi, hanya mengucapkan, bukan menggadaikan keimanan. Hal ini sama dengan ucapan “selamat hari pahlawan”, Anda tak akan menjadi pahlawan hanya karena telah mengucapkan kata itu. Demikian pula dengan ucapan “Selamat Ulang Tahun”; yang ulang tahun tetaplah orang yang diberi ucapan, bukan si pemberi ucapan.

Meski begitu, ada saja orang-orang yang gemar mengulang dan membesar-besarkan perdebatan ini seolah perayaan Natal ditujukan untuk umat agama Islam. Akibatnya, sebagian umat Islam justru sibuk ‘meramaikan’ kedatangan Natal, lebih sibuk ketimbang umat nasrani yang menjadi pemilik perayaan suci ini.

Dimensi Profan

Barangkali, salah satu pangkal perdebatan tahunan ini adalah kegagalan untuk melihat agama sebagai sesuatu yang –meminjam istilah Mircea Eliade—sui generis; memiliki banyak aspek esensial yang otonom. Agama nyatanya memang tidak selalu berkutat secara kaku di ranah yang abu-abu. Mircea Eliade (1907-1986), sarjana studi agama-agama asal Rumania, membagi agama ke dalam dua dimensi: sakral (sacred) dan profan (prophane).

Dimensi sakral diartikan Eliade sebagai segala hal yang berkaitan dengan Tuhan dan spiritualitas, dimensi ini bersifat tetap dan absolut. Rudolf Otto, dalam The Idea of The Holy (1917) menyebut dimensi yang sakral ini sebagai misteri yang menggentarkan sekaligus menggetarkan” (mysterium tremendum et fascinans). Sementara dimensi profan dalam agama terwujud dalam simbol-simbol keagamaan yang muncul dalam kehidupan sosial masyarakat. Berbeda dengan dimensi sakral, dimensi profan tidak bersifat absolut; ia bisa berubah dan berkembang seturut dengan perkembangan dan kebutuhan zaman.

Karenanya tak heran, banyak ulama dunia yang mudah saja memberi ucapan selamat natal kepada umat Nasrani yang merayakannya. Salah satunya adalah Grand Syekh al Azhar Mesir, Ahmad Muhammad Ahmad al Thayyeb yang memberi ucapan selamat Natal langsung kepada Paus Fransiskus pada Natal 2020 lalu. Tak ada kekhawatiran bahwa ucapan ini akan mengganggu keimanannya. Mungkin beliau sudah tahu, ucapan hanyalah perkara profan. Tak ada kaitannya dengan keimanan.

Mengucapkan “Selamat Natal” memanglah bagian dari sisi profan agama sebab ia hanyalah simbol keagamaan. Tak ada “misteri yang menggentarkan dan menggetarkan…” dari ucapan “Selamat Natal” itu, ia hanyalah ungkapan penghargaan terhadap keberagamaan sekaligus bagian dari interaksi sesama umat agama di dalam bingkai kemajemukan.

Perdebatan tentang boleh-tidaknya mengucapkan Natal bagi umat Islam sebaiknya disudahi saja, tak baik terus-terusan memupuk rasa curiga. Dalam konteks keindonesiaan, negeri ini sudah ditakdirkan tumbuh besar sebagai bangsa yang dianugerahi keberagaman, jangan rusak keistimewaan ini dengan sentimen keagamaan yang penuh sesak dengan argumen ketinggalan zaman. Lagi pula, bukankah mereka yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan?

Selamat Natal, teman-teman.

Lebaranmu, liburanku.

*Khoirul Anam, Penulis dan Dosen

Leave a reply

error: Content is protected !!