Merawat Tradisi Bagian Strategi Moderasi Beragama Dalam Menjaga Kerukunan Bangsa

0
412

Sangkhalifah.co — Beberapa waktu yang lalu sempat viral video seorang laki-laki membuang sesajen di Gunung Semeru. Pasca terjadinya erupsi bulan Desember 2021 yang lalu, Semeru terus menjadi perhatian hingga kini. Apa saja tentangnya akan viral seketika. Tak ketinggalan aksi laki-laki muda itu pun mendapat sorotan dari banyak pihak. Lebih-lebih jika dikaitkan dengan komentar netizen yang beragam, tentu akan mudah menggiring opini ke mana-mana.

Salah satu isu yang kemudian mencuat adalah tindakan tersebut sebagai penistaan agama. Hal ini dilontarkan oleh pihak yang tersinggung dalam kaitannya sesajen sebagai alat ritual ibadahnya. Namun demikian, respon juga datang dari pihak-pihak yang berada di wilayah setempat melihatnya sebagai tindakan kurang sepatutnya. Sehingga, kita sebagai bagian dari bangsa yang majemuk patut melihat kasus tersebut dari kacamata moderasi beragama.

Pada satu aspek tertentu, kasus ini boleh dinilai sebagai penistaan agama. Pendapat ini tentu terungkap oleh pihak yang merasa sebagai pengguna tradisi sesajen dalam kaitannya sebagai alat ritual dan sejenisnya. Di sisi yang lain aspek yang hendak diangkat ialah bagaimana agama ingin diletakkan sebagai upaya untuk membersihkan tradisi yang dinilai tidak sesuai dengan nilai-nilai akidah agama tertentu. Kedua aspek ini akhirnya dipegang oleh masing-masing pihak yang hendak membela fanatisme masing-masing. Namun demikian, hendaknya kita akan merujuk ke mana sebagai pijakan kasus ini?

Di dalam kehidupan bangsa multikultural seperti Indonesia, kita tidak cukup melihat kasus di atas dari perspektif agama saja. Jika cara pandang yang digunakan hanya kacamata agama, tentu akan timbul persoalan baru kemudian. Sebab, Indonesia bukan negara agama yang juga bukan negara adat yang wajib mengkhususkan adat dan tradisi tertentu. Pada faktanya, Indonesia merupakan negara kesatuan yang menaungi dan mengayomi kemajemukan di dalamnya. Segala hal mengenai agama, ras, suku, adat istiadat, tradisi, dan keragaman lainnya wajib diberikan layanan dan perlindungan oleh negara. Sehingga, cara pandang yang tepat untuk melihat kasus di atas adalah moderasi beragama.

Dalam hal ini, moderasi beragama diartikan sebagai cara pandang atau proses memahami sekaligus mengamalkan ajaran agama secara adil dan seimbang. Cara pandang demikian sangat relevan untuk dikembangkan pada masyarakat plural dan multikultural seperti Indonesia. Bila terdapat keragaman maupun perbedaan di tengah masyarakat, moderasi beragama menjadi satu solusi untuk merajut titik temu di antara mereka. Seperti dikutip dari Menteri Agama bahwa konsep moderasi beragama dapat memberikan dukungan terhadap usaha untuk saling menghargai dan hidup damai (suaramerdeka.com, 2021).

Merawat Tradisi Sebagai Penerapan Moderasi Beragama

Salah satu implementasi dari moderasi beragama adalah merawat tradisi. Indonesia dengan ragam dan perbedaan tradisi layak mendapat perhatian dengan cara yang khusus pula. Setiap daerah bahkan memiliki tradisi yang berbeda satu sama lain. Namun demikian, harus dipahami bahwa berlainan dalam tradisi, tidak pasti akan lain dalam beragama pula. Dalam kata lain, meskipun berlainan agama dalam lingkup komunitas masyarakat tertentu tradisi boleh jadi menjadi pemersatu perbedaan di dalamnya. Inilah yang seharusnya muncul dari upaya merawat tradisi sebagai prinsip moderasi beragama. Sebab, dengan merawat tradisi tersebut juga merupakan kelanjutan dari komitmen kebangsaan yang telah dirajut bersama dalam ikatan konstitusional negara. Sehingga, tradisi bukan sebuah penghalang untuk tetap mempererat tali persaudaraan sesama bangsa Indonesia.

Di sisi lain, pada kasus perkembangan Islam di Indonesia misalnya, tidak dapat lepas dari adanya akulturasi budaya dan tradisi. Dalam KBBI, akulturasi berarti percampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan mempengaruhi. Akulturasi tidak berarti mencampuradukkan secara keseluruhan ajaran dengan tradisi. Akan tetapi, di dalamnya terjadi proses adopsi dan adaptasi yang dapat membentuk idealisme ajaran dan tradisi. Dengan begitu, ajaran Islam lebih mudah diterima di masyarakat tanpa menghapus atau melenyapkan tradisi yang telah berkembang sejak lama.

Pada suatu kesempatan pernah disinggung oleh Menteri Agama (2021) bahwa terdapat kearifan lokal yang saat ini selalu dijaga dan dihormati meskipun telah berlangsung sejak ribuan tahun yang lalu. Kesanggupan untuk tidak menyembelih sapi saat Idul Adha di kota Kudus patut menjadi contoh betapa pentingnya merawat tradisi. Perilaku seperti ini, tidak lain dalam rangka menghormati mereka yang beragama Hindu. Karena, dalam kepercayaan mereka sapi merupakan salah satu hewan yang dikeramatkan.

Jika ditarik pada kasus sesajen yang terjadi di Semeru beberapa waktu yang lalu, kearifan lokal di Kudus tersebut patut menjadi contoh ideal cara mengimplementasikan moderasi beragama. Bukan soal kita harus beragama seperti apa, tetapi bagaimana agama menjadi spirit untuk menciptakan damai kepada semesta. Maka, mempertemukan titik pertautan kata damai di antara dua hal atau lebih menjadi bagian dari upaya merawat tradisi. Ketika terjadi pertentangan antara dua hal berbeda, dalam konteks multikultural lebih baik mencari titik pertemuan bukan pertentangannya. Sehingga, merawat tradisi harus beriringan dengan upaya mempraktikkan esensi beragama untuk memberi perdamaian kepada liyan.

Dengan berpijak pada kasus di atas, kacamata moderasi beragama tidak seharusnya kaku saat berhadapan dengan kepercayaan lain. Merawat tradisi bukan harus mengamalkan secara pribadi. Bukan pula harus membenarkan secara total sebagai justifikasi atas nama toleransi. Akan tetapi, tradisi sebagai satu entitas tersendiri harus diletakkan sebagai objek yang harus dihormati. Karena di balik tradisi itu ada sebagian pihak yang mengakui dan menjadikannya sebagai apa yang disebut alat penyucian diri. Maka, sesajen dalam ini berhak mendapat ruang untuk berkolaborasi dengan manusia dalam pandangan moderasi beragama. Bagi yang masih percaya, sesajen mengandung nilai sakral yang dapat dijadikan alat memperoleh keberkahan dalam hidupnya (Humaini, 2021). Sehingga, melihat sesajen tidak perlu menjadi paling suci tetapi harus belajar betapa mulianya arti menghargai. [Abdul Fattah]

Leave a reply

error: Content is protected !!