Merawat Pluralisme, Menangkal Radikalisme

4
481

Sangkhalifah.co — Pluralisme dapat diartikan kesediaan untuk menerima keberagaman (pluralitas), artinya untuk hidup secara toleran pada tatanan masyarakat yang berbeda suku, golongan, agama, adat, hingga pandangan hidup. Pluralisme mengimplikasikan pada tindakan yang bermuara pada pengakuan kebebasan beragama, kebebasan berpikir, sehingga untuk mencapai pluralisme diperlukan kematangan dari kepribadian seseorang dan/atau kelompok orang.

Dalam ilmu sosial, pluralisme adalah sebuah kerangka dimana ada interaksi beberapa kelompok-kelompok yang menunjukkan rasa saling menghormati dan toleransi satu sama lain. Mereka hidup bersama (koeksistensi) serta membuahkan hasil tanpa konflik. Dalam pengertian yang lebih luas, pluralisme adalah keadaan masyarakat yang majemuk berkaitan dengan sistem sosial dan politik. Pluralisme adalah gagasan yang mengenai kemajemukan, yaitu keberadaan kesadaran mengenai keanekaragaman sebagai suatu keniscayaan hidup dan tumbuh dalam sebuah masyarakat.

Pluralisme ini kemudian mengakar menjadi toleransi. Yang dalam istilah seringkali diletakkan dalam kondisi masyarakat yang plural. Secara kebahasaan, kata toleransi berasal dari Bahasa Latin tolerare yang berarti bertahan atau memikul. Toleran di sini diartikan dengan saling memikul walaupun pekerjaan itu tidak disukai; atau memberi tempat kepada orang lain, walaupun kedua belah pihak tidak sependapat. (Siagian, 1993: 115).

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, istilah toleransi berarti sifat atau sikap menenggang (menghargai, membiasakan, membolehkan) pendirian, pendapat, kepercayaan, kebiasaan, dan sebagainya, yang berbeda dari pendiriannya sendiri. Toleransi juga bermakna pemberian kebebasan kepada sesama manusia dan masyarakat untuk menjalankan keyakinannya atau mengatur hidupnya dan menentukan nasib masing-masing. Pemberian kebebasan itu dilakukan selama ia tidak melanggar dan tidak bertentangan dan azas terciptanya ketertiban dan kedamaian dalam masyarakat.

Sedangkan dalam Bahasa Arab, toleransi disepadankan dengan kata tasamuh yang membiarkan sesuatu untuk saling mengizinkan dan saling memudahkan. Dari kata tasamuh tersebut dapat diartikan sebagai maksud agar di antara mereka yang berbeda pendapat hendaknya bisa saling memberikan tempat atas pendapatnya, masing-masing pendapat memperoleh hak yang sama dalam mengembangkan pendapatnya dan tidak saling menjegal antara satu dengan yang lain. Ada juga yang mengartikan tasamuh sebagai kesabaran hati dan membiarkan selama tidak merusak bingkai keimanan (Musthofa, et al , 1997:57). Sedangkan apabila diambil dalam Bahasa Inggris “tolerance” mengandung makna sikap jujur dan objektif terhadap orang lain yang berbeda pandangan, tingkah laku, ras, agama, serta bebas dari prasangka dan fanatisme.

Ini memberikan suatu pemahaman, bahwasanya Pluralisme yang mengakar menjadi toleransi, adalah satu bentuk nyata untuk membingkai kebersamaan dalam sebuah perbedaan, dalam mewujudkan keutuhan NKRI. Tentu hal ini menjadi salah satu hal yang positif apabila diterapkan dalam kehidupan yang serba bisa sekarang ini. Di mana gempuran narasi intoleransi, radikalisme dan ektremisme di dunia maya telah mengoyak cara pandang masyarakat. Masyarakat mudah marah, tersinggung, dan sensitif dengan perbedaan, terkhusus dalam dunia maya.

Melihat realitas kehidupan yang demikian, penting kiranya untuk mengoptimalkan konsep kehidupan yang toleran, kita harus kembali pada kiblat kebangsaan, yang memiliki ideologi Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Dengan begitu kita akan mengerti bagaimana konsep kerukunan dalam perbedaan, bagaimana persatuan adalah pilar untuk menjaga keutuhan NKRI. Hingga menjadi jalan untuk menjunjung kedaulatan dalam berbangsa dan bernegara. Pun pada titik tertentu dengan adanya Pluralisme dan toleransi kita juga diajarkan bagaimana menjaga keanekaragaman yang ada di bangsa Indonesia. Masyarakat diajak untuk kembali pada budaya yang toleran dan rukun. Baik rukun dalam beragama ataupun bernegara. Sebab, dua hal inilah yang sebenarnya menjadi jantung perdamaian.

Dengan demikian, konsep ini seharusnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Baik dalam dunia maya ataupun dalam dunia nyata. Guna membentengi anak-anak agar tidak terjerumus dalam paham yang salah, seperti radikalisme, intoleransi dan lain sebagainya. Hingga mereka akan tumbuh menjadi generasi yang siap membangun bangsa untuk masa yang akan datang. Mencintai perbedaan adalah bagian dari persatuan Bangsa Indonesia.

*Nurul Izzah, Mahasiswi UIN Walisongo Semarang

4 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!