Merajut Keragaman Lintas Iman dan Agama

0
167

Sangkhalifah.co — Indonesia merupakan bangsa yang majemuk dalam banyak hal, termasuk soal agama. Terdapat enam agama resmi yang ada di bawah naungan payung bangsa ini, yaitu Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu. Tapi kemajemukan itu sering tidak baik-baik saja. Antara satu golongan dengan golongan lain, tidak jarang terjadi letupan-letupan konflik, bahkan seringnya masih dalam satu agama. Kemudian muncul pertanyaan, faktor agama atau faktor apa yang menyebabkan konflik tersebut?

Untuk menjawab pertanyaan ini, sejatinya tidak ada satupun agama mengajarkan kekerasan, semua agama mengajarkan perdamaian dan kasih sayang antar sesama. Jika manusia mampu mengamalkan ajaran kasih agama yang dianutnya, pasti tidak akan lagi terdengar kekerasan atas nama agama. Sebaliknya, jika manusia gagal mengamalkannya, ia hanya akan menciptakan konflik dan menjadi benalu di atas keragaman. Bahkan tidak jarang agama dijadikaan legitimasi aksi-aksi kekerasan. Sehingga muncullah sekretarianisme. Memonopoli kebenaran hanya milik kelompok sendiri, sementara kelompok lain dianggap salah dan kesejahteraannya dikebiri.

Salah satu langkah tepat untuk merajut keragaman menjadi keseragaman lintas golongan adalah dengan melakukan dialog antar pemeluk agama. Harapannya, dengan duduk bersama dalam dialog yang hangat, masing-masing pihak mampu menemukan titik temu untuk menjaga persatuan bangsa yang menjadi rumah bersama. Jika titik temu antar golongan bisa terajut dengan rapi, pasti akan tercipta keadilan. Tidak ada lagi diskriminasi bagi kelompok minoritas. Tidak ada lagi sektretarianisme. Sejatinya manusia itu sama, hanya kebaikan yang dimilikinya lah yang mampu mengangkat sederajatnya. Rasulullah Saw menegaskan dalam hadis riwayat Anas bin Malik:

الناس مستوون كاسنان المشط ليس لاحد على أحد فضل الا بتقوى الله 

“(Pada dasarnya) manusa itu sama, bagai gigi sisir. Tidak ada seorangpun yang memiliki keutamaan kecuali karena ketakwaannya kepada Allah Swt.”

Dalam redaksi yang diriwayatkan al-Hasan berbunyi:

وإنما يتفاضلون بالعافية والمرء كثير بأخيه ولا خير لك في البغوي من لا يرى لك من الحق مثل الذي ترى له

“Keutamaan hanya ada dalam kebaikan. Seseorang merasa lebih dengan kehadiran saudaranya. Kebaikan seseorang akan tampak jika yang apa yang dianggap benar sama dengan kebenaran yang dianggapnya sendiri.”

Secara tegas hadis di atas menjelaskan bahwa tidak ada yang berhak mengkalim merasa paling benar dari orang lain. Semuanya sama dan keadilan harus merata. Tanpa ada diskriminasi yang dialami oleh siapapun. Kebaikanlah yang membuat kedudukan seseorang lebih mulia. Semakin ia berbuat baik, semakin tinggi pula kedudukannya.

Rasulullah Saw. sebagai role model bagi seluruh umat manusia, memiliki rekam historis yang bernilai tinggi, dan sudah sepatutnya menjadi teladan bagi umatnya. Termasuk taudalan sifat adil beliau dalam bersosial di tengah masyarakat.

Dikisahkan, salah satu sahabat Rasulullah Saw. yang memiliki kedekatan dengan beliau adalah Usamah bin Zaid. Bekal kedekatan yang dimilikinya, Usamah mencoba melobi Rasulullah dalam sebuah putusan hukum terhadap Fatimah binti Al-Aswad al-Makhzumiyyah yang terjerat kasus pencurian dan hendak diadili.

Mendengar lobi Usamah, Rasulullah pun marah padanya dan berkata:

“Umat terdahulu binasa karena jika kaum elit mereka mencuri, dibebaskan, tapi jika kaum kelas bawah yang mencuri, langsung diadili dan dijatuhi sangsi. Demi Allah, andai pun Fatimah binti Muhammad (putri Rasulullah) yang mencuri, pasti akan tetap saya potong tangannya (sebagai sangsi tindakan kriminalnya).”

Umar bin Khattab merupakan salah satu kahalifah yang sangat menjunjung keadilan rakyatnya, termasuk dengan rakyat yang non-Muslim sekalipun. Suatu ketika sang khalifah didatangi seorang pria Mesir beragama Kristen Koptik (salah satu aliran Kristen yang berkembang di Mesir). Pria itu hendak mencari keadilan.

Sebelumnya, pria ini sedang mengikuti lomba pacuan kuda dengan putra Amr bin Ash. Pria Kristen itu berhasil memenangkan lomba. Tapi kemudian putra Amr bin Ash memukulinya dengan berkata, “aku adalah putra bangsawan.” Saat itu Amr bin Ash sebagai Gubernur Mesir.

Mendengar pengaduan itu. Umar mengirim surat kepada sang Gubernur. Umar meminta Amr bin Ash untuk menghadap dengan membawa putranya. Tibalah Amr beserta putranya di hadapan Umar. “Ke mana pria Mesir itu? Suruh dia ambil cambukku dan pukullah putra Amr!” pinta Umar tegas. Pria itu menuruti Umar mencambukki putra sang Gubernur.

Tidak hanya sampai di situ. Umar juga menyuruh pria Kristen itu untuk mencambuk Amr bin Ash, sang Gubernur Mesir. Umar menganggap Amr bin Ash telah berbuat tidak adil membiarkan ada yang teraniaya.

Salah satu sikap adil yang dimiliki Umar juga tercerminkan dengan kebijakannya terhadap perlindungan non Muslim di Bait Al-Maqdis. Beliau tetap membiarkan gereja-gereja berdiri tegak sebagai tempat peribadatan umat non-Muslim. Bahkan, Umar blusukan ke rumah peribadatan non Muslim itu untuk memastikan stabilitas keamanan.

Islam mengajarkan keadian yang seadil-adilnya. Tanpa memandang status sosial. Bahkan terhadap yang berbeda agama sekalipun. Apa yang diajarkan dan dicontohkan Rasulullah Saw dan khalifah Umar bin Khattab adalah bukti keadilan terajut rapi dalam keberagaman, bahkan keragaman lintas iman sekalipun. Jadi, jika ada kelompok mengaku cinta rasul, tapi masih memandang rendah kelompok agama lain. Perlu dipertanyakan keseriusan cintanya. [Muhamad Abror]

Leave a reply

error: Content is protected !!