Menyongsong Era New Normal dengan Jiwa Pancasila

0
225

Sangkhalifah.co — Wabah Coronavirus Disease (Covid-19) sudah menciptakan situasi sulit bagi banyak orang di berbagai belahan dunia. Selain telah memakan banyak korban jiwa dan masih terus mewabah, virus ini juga memaksa pembatasan fisik, sehingga aktivitas orang-orang menjadi sangat terbatas, yang kemudian membuat aktivitas ekonomi, pendidikan, keagamaan, dan sebagainya menjadi terdampak.

Di Indonesia, tiga bulan ini Covid-19 telah memberi dampak signifikan bagi berbagai bidang kehidupan. Banyak pihak merasakan betapa kondisi saat ini begitu sulit. Namun, kita tak boleh putus asa dalam menghadapi virus ini. Karena laju penularan Covid-19 masih tinggi, sementara vaksin masih belum ditemukan, maka kita mesti bisa beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan keadaan.

Oleh karena itu, pemerintah sudah mengumumkan rencana mengimplementasikan skenario new normal atau era kenormalan baru. New normal adalah tatanan, kebiasaan, dan perilaku yang baru berbasis pada adaptasi untuk membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat guna mencegah penularan Covid-19. Caranya, rajin mencuci tangan memakai sabun, memakai masker saat harus keluar rumah, menjaga jarak aman, menghindari kerumunan, dan berbagai protokol pencegahan Covid-19 lainnya.

Menjalani era new normal bukan berarti bebas kembali beraktivitas seolah wabah tak lagi ada. Poin dari era kenormalan baru ini adalah adaptasi: yakni membiasakan kebiasaan-kebiasaan baru untuk mencegah penularan Covid-19 sembari tetap beraktivitas secara produktif. Seperti diungkapkan Achmad Yurianto, new normal bukan berarti tidak lagi menerapkan protokol pencegahan Covid-19. New Normal adalah bertindak produktif namun tetap memastikan aman dari penualaran virus (Kompas.com, 31/05/2020).

Memang, era new normal bukan hal yang mudah untuk diterapkan di seluruh lapisan masyarakat. Selain harus ada ketegasan dari pemerintah, harus ada kesadaran dari masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan guna menangkal penularan virus. Masyarakat harus punya kesadaran terlebih dahulu akan pentingnya bersama-sama, kompak, dan gotong royong untuk mengatasi pandemi ini. Dari sana, maka setiap indivudu bakal punya kesadaran untuk menerapkan tau menjalani era kenormalan baru dengan disiplin dan sungguh-sungguh.

Jiwa Pancasila

Terkait membangun kesadaran dan kebersamaan dalam menerapkan era new normal guna mengatasi pandemi Covid-19, kita perlu satu spirit pemersatu dan nilai-nilai dasar yang harus diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di sinilah, momentum Hari Lahir Pancasila setiap tanggal 1 Juni lalu menjadi sangat tepat dijadikan momen refleksi dan motivasi untuk mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila guna menghadapi pandemi ini.

Kita tahu, Pancasila tak sekadar dasar negara yang mesti dihafal. Pancasila adalah kompas, semangat, dan cerminan cita-cita bangsa yang dirumuskan dari intisari karakter bangsa Indonesia. Di dalamnya memuat nilai-nilai utama yang mesti diimplementasikan bangsa Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan bangsa, termasuk tantangan menghadapi situasi pandemi Covid-19 ini. Artinya, dalam menjalani era new normal, kita mesti menjadikan Pancasila sebagai spirit perjuangan.

Setiap sila Pancasila adalah bintang penuntun bangsa Indonesia, yang menyimpan spirit, kekuatan, sekaligus cita-cita bangsa. Dalam konteks menghadapi pandemi ini, kita juga bisa menyerap petunjuk, inspirasi, dan motivasi dari setiap sila Pancasila. Setiap intisari nilai Pancasila mesti diimplementasikan dalam kehidupan. Dari sana, kita melihat dasar dan formula terbaik bagi bangsa ini dalam menyikapi dan menghadapi pandemi Covid-19 ini.

Di sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, mengajari kita memandang situasi sulit ini secara positif, memaknainya sebagai cobaan dari Tuhan sebagai bahan evaluasi bagi kita semua agar bisa menjadi manusia atau bangsa yang lebih baik: lebih baik dalam hal persatuan, kepedulian, kesehatan, dan sebagainya.

Seperti dijelaskan M. Quraisy Shihab dalam bukunya Corona Ujian Tuhan (Lentera Hati: 2020), kemunculan wabah Covid-19 ini tidak dapat dinamai siksa Ilahi karena ia menimpa banyak bangsa, muslim dan non-muslim yang durhaka maupun yang taat. Ia lebih memandang ini sebagai ujian atau cobaan agar manusia bisa evaluasi diri dengan melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan.Sila Ketuhanan ini juga mengajak kita untuk selalu optimis, selalu berharap dan berdoa kepada Tuhan, sekaligus terus berusaha atau berikhtiar di era new normal agar kita semua bisa segera melewati cobaan ini.

Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, adalah spirit yang mesti kita pegang dan kita pancarkan dalam menghadapi pandemi ini. Spirit kemanusiaan ini misalnya tercermin dari semangat para dokter dan tenaga medis, relawan, juga masyarakat luas yang peduli untuk mengobati, saling membantu dan tolong menolong meringankan beban sesama yang membutuhkan. Keadilan dan keberadaban mesti tetap dijunjung tinggi meski di situasi berat seperti ini. Jangan sampai, kesulitan membuat kita bertindak tidak adil dan menyakiti sesama.

Baca Juga: Virus Khilafah di Tengah Pandemi (1)

Sila ketiga, Persatuan Indonesia, adalah semangat kebersamaan yang mesti mendasari kesadaran kita untuk selalu menjaga kebersihan dan menaati protokol kesehatan di era new nomal. Bahwa kesadaran mematuhi protokol kesehatan tersebut ada karena kita peduli sesama, mementingkan kepentingan bersama, tidak mementingkan diri sendiri. Kita patuh bukan sekadar demi keselamatan diri kita sendiri, namun juga demi keselamatan bersama dijiwai semangat persatuan dan kebersamaan kebangsaan.

Sila keempat, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Sila kerakyatan dan musyawarah mufakat harus menjadi dasar dalam setiap pengambilan kebijakan dalam mengatasi pandemi ini. Dan Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, artinya prinsip keadilan sosial harus selalu dijunjung dalam situasi apa pun, termasuk di tengah pandemi ini.

Pemerintah dan seluruh pejabat dari berbagai level harus selalu mengakomodir seluruh kebutuhan dan kepentingan masyarakat dalam mengambil keputusan, agar bisa menghasilkan kebijakan terbaik, guna menciptakan keadilan sosial di tengah kondisi pandemi ini. Pada intinya, Pancasila mesti menjadi spirit bangsa Indonesia dalam mengatasi pandemi Corona. Sebab, setiap nilai dalam Pancasila mengisyaratkan petunjuk, menunjukkan karakter dan kekuatan bangsa, sekaligus menghidupkan semangat untuk terus berusaha mengatasi permasalahan Covid-19 ini. []

*Al-Mahfud, Penulis Buku

Leave a reply

error: Content is protected !!