Menyoal Logika Nuzulul Qur’an Khilafers

1
526

Oleh: Ainur Rofiq Al-Amin (Penulis Buku Khilafah HTI Dalam Timbangan)

Saya dapat japrian poster yang temanya lagi-lagi itu, itu lagi-lagi, yakni adu-adu atau mengkontraskan, melawankan, mancing-mancing agar ada “keributan” di nalar awam akhirnya tergiring kepada frame pemikiran pemancing.

Begitulah hobi dan pekerjaan khilafers, baik di alam pikiran maupun di alam nyata, yakni memancing keributan dengan segala artinya. Seharusnya puasa ini kita mendamaikan karena kata mbah-mbah kita, setan udah diikat sehingga lebih ringan tugas kita. Hanya saja karena ada non-setan yang seperti itu, tentu perlu ditanggapi sebagai kontranarasi.

Temanya ini membuat “jebakan logika” yang hal ini manjur membius bagi orang yang logikanya bengkok dan baru kenal Islam lalu ikut “hijrah-hijrahan” superfisial.

Efek logika di atas korelatif dengan statemen seseorang saat PSBB di sebuah kota. Seseorang itu teriak saat diingatkan petugas, “Hukum Allah lebih Tinggi…” atau Saya menghormati aturan, tapi saya lebih menghormati aturan Allah.”

Kalau model jebakan logika di atas dibiarkan, maka akan banyak menular, kayak menularnya korona bagi gen Y dan gen Z.

Baca Juga:

Sebetulnya jawabnya gampang saja, mereka membuat komparasi yang tidak komparatif yang arahnya mau menggugat dengan bertanya “Lebih tinggi mana ayat suci dengan ayat konstitusi? Kita dapat bertanya balik dengan meminjam logika pekok, eh bengkok mereka. Tanyakan saja poin-poin di bawah ini:

Pertama, lebih tinggi mana konstitusi Hizbut Tahrir dengan ayat Suci? Kalau dijawab “Ayat suci,” maka tanya lagi, “Lalu kenapa Anda membuat konstitusi Hizbut Tahrir? (yang isinya mau mengganti seluruh sistem politik non-khilafah, termasuk NKRI).

Kedua, lebih ditaati mana antara Tuhan dengan dedengkot Hizbut Tahrir? Kalau dijawab, “Tuhan.” tanya lagi, “Kenapa Anda taat kepada tokoh Hizbut Tahrir, tidak langsung ke pemilik ayat suci.”

Ketiga, di ayat suci tidak ada kata Hizbut Tahrir, juga tidak ada perintah agar mendirikan Hizbut Tahrir. Lalu kenapa Anda malah mabok atau cinta mati kepada Hizbut Tahrir? Di ayat suci tidak ada perintah mendirikan khilafah, apalagi khilafah ala HTI, lalu kenapa ngotot; seakan khilafah kayak rukun Iman saja.

Keempat, dan masih banyak lagi pertanyaan. Kalau mereka masih jawab, maka bisa ditebak inti jawabannya paling ya itu-itu saja. Begitulah mereka membuat jebakan logika yang akan bisa membuat sesat logika. Saat ini banyak muncul sesat logika, contohnya Takut mana kamu antara Tuhan dengan korona?

Terakhir, saya bolak balik menulis bahwa NKRI, Pancasila dan UUD 45 adalah hasil kesepakatan atau hasil ijtihad para ulama dan tokoh bangsa sehingga NKRI disebut darus suluh, darul ahdi wa syahadah dan darul mitsaq (negara kesepakatan).

Pun sudah bolak balik saya katakan bahwa hasil ijtihad di atas (NKRI) tidak bisa digugurkan dengan hasil “ijtihad” Taqiyuddin An Nabhani (khilafah). Hal itu sesuai dengan kaedah fiqih yang dalam Al Asybah wa Nazair Imam Suyuthi redaksinya الاجتهاد لا ينقض بالاجتهاد atau dalam kitab Syarh Al Qawaid al Fiqhiyyah Muhammad al Zarqa dengan redaksi الاجتهاد لا ينقض بمثله. Demikian pula dalam kitab babon Hizbut Tahrir, Ajhizat Dawlat al Khilafah dalam membahas qadhi mengutip kaidah fikih ini dengan redaksi الاجتهاد لا ينقض بمثله. []

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!