Menyoal Kesesatan Berpikir Ustadh Zulkarnain Yusuf

1
259

Sangkhalifah.co — Zulkarnain Yusuf, seorang penceramah di masjid Mujahidin Surabaya berdakwah, “Hukum Allah itu adalah memotong tangan bagi pencuri,” ia mempertegasnya. Pada kesempatan berikutnya dia memastikan bahwa Indonesia adalah negara kafir, “saya tidak akan pernah mengakui pemimpin thoghut. Demi Allah!” katanya lagi.

Pada menit berikutnya Zulkarnain juga menuduh ulama lain sebagai orang yang menjual agamanya demi uang, karena mengakui pemerintahan “thoghut.” Video berdurasi hampir satu jam ini, beredar luas di dunia maya. Dia juga mengajak umat Islam untuk berjihad melawan semua ini, “berjihad yang sebenarnya,” katanya lagi.

Menit demi menit saya perhatikan tayangan itu merujuk kepada kesimpulan yang sama: gestur Khawarij selama berabad-abad selalu begini, sesuka-sukanya menafsirkan ayat-ayat temporal dengan meninggalkan ayat-ayat lain yang lebih universal. Karena perilaku inilah lalu dengan gampangnya mereka membunuh orang suci sekelas Sayyidina Ali. Kala itu tuduhannya sama, “Amirul Musyrikin” – pemimpin “Thoghut”. Zulkarnain, seperti halnya kelompok ekstremis lainnya, masih saja menampilkan Islam dengan brutalitas. Merasa membela Islam, padahal sejatinya semakin menjauhkan Islam dari daya tarik paling awal: kemanusiaan dan kedamaian.

Tidak akan ada pola kekerasan yang bisa membawa Islam terhadap kejayaan, kecuali bagi mereka yang memahami agama sebagai alat kekuasaan totalitarianisme. Secara historis, keimanan tidak akan pernah berhasil mendominasi suatu wilayah dengan cara kekerasan, karena dengan kekerasan jugalah keimanan kolektif kelak akan tumbang. Ini pernah dialami oleh politik Islam di Andalusia dan Armenia.

Zulkarnain hanya melihat Islam dari sudut sempit tafsirnya, seolah dia dan kelompoknya adalah pemeluk Islam terakhir. Ia tak pernah berfikir bahwa daya tarik Islam didisain kepada manusia sebagai rahmat bagi alam semesta hingga hari kiamat. Dan ketika penduduk bumi semakin sesak, cara-cara brutalitas justru akan semakin dihindari manusia. Allah sudah melansir tegas sejak ribuan tahun lalu, bahwa perbedaan adalah kehendakNya, agar manusia saling mengenal dan berinteraksi. [Islah Bahrawi]

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!