Menyoal Kembali Gagasan Revolusi Akhlak

0
605

Sangkhalifah.co — Belakangan, ungkapan Revolusi Akhlak banyak dibicarakan banyak kalangan. Topik ini menjadi pembicaraan setelah digaungkan oleh HRS, pemimpin FPI begitu pulang ke Indonesia setelah tiga tahun berada di Arab Saudi. Di baliho-baliho penyambutan HRS yang terpajang di berbagai kota seperti Jakarta, Depok, Bekasi, dan Tangerang, sebagian juga tercantum seruannya. Apa sebenarnya maksud gerakan Revolusi Akhlak ini?

Sebagian pengamat menilai Revolusi Akhlak yang dimotori HRS merupakan gerakan untuk menandingi gerakan Revolusi Mental yang disuarakan pemerintahan presiden Joko Widodo. Namun, jika dibandingkan dengan Revolusi Mental, konsep Revolusi Akhlak sampai saat ini belum begitu jelas.

HRS menjelaskan, pemakaian istilah tersebut disebabkan kata “akhlak” itu dipakai oleh Nabi Muhammad Saw. Menurut HRS, tak ada yang lebih baik dari kata yang dipilih Nabi Muhammad Saw. Adapun kata “mental” tidak dipakai karena menurutnya kata ini dipakai oleh Karl Marx, seorang filsuf berpaham komunis.

Kita sebagai umat Islam tentu sepakat bahwa akhlak menjadi kunci mendasar untuk menciptakan suatu perubahan ke arah yang lebih baik. Islam sangat menekankan pentingnya akhlak. Bahkan, Nabi Muhammad Saw. diutus untuk menyempurnakan akhlak. Jika akhlak setiap warga negara baik, maka negara itu akan baik: lebih makmur, adil, damai, dan sejahtera. Sebab akhlak inilah yang mendasari setiap sikap dan perilaku setiap orang.

Tapi mengubah, memperbaiki, dan membangun akhlak baik bukan hal yang bisa dilakukan secara cepat dan mudah. Mengubah akhlak hampir sama artinya dengan mengubah sifat, sehingga butuh proses. Terlebih, bagi orang-orang yang telah lama berlumur dalam sifat buruk. Ada proses dan tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk bisa sampai pada perubahan akhlak yang mendasar. Menurut Syekh Abu ‘Ala ‘Afifi bahwa transformasi diri secara mendasar melalui tahapan-tahapan yang dirumuskan ulama sufi terdahulu, yang meliputi 3T: takhalli, tahalli, dan tajalli.

Pertama seseorang yang ingin melakukan revolusi moral (istilah lain dari akhlak) harus melakukan takhalli: mengosongkan diri dari hal-hal yang dapat mengotori hati dan merusak jiwa. Kemudian, setelah hati dan jiwa suci dan bersih, dilanjutkan dengan tahalli, artinya menghiasi diri dengan kebaikan dan keindahan. Setelah tahalli, lalu dilanjutkan dengan tajalli, mewujudkan kebaikan, kemanfaatan, dan kemaslahatan secara konkret dalam kehidupan berkeluarga, bertetangga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Jika tahapan demi tahapan tersebut mampu dijalankan setiap orang dengan baik, maka akan tercipta perubahan ke arah yang lebih baik, baik secara personal tiap orang maupun secara komunal dalam konteks kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Di sinilah, sebuah revolusi bisa dikatakan telah membawa perubahan besar bagi kehidupan bersama ke arah arah yang lebih baik.

Berdasarkan sudut pandang tersebut, sesuatu yang digaungkan HRS dkk mungkin lebih relevan sebagai gerakan moral untuk sama-sama bercermin: melakukan refleksi dan evaluasi diri untuk merevolusi atau memperbaiki akhlak diri masing-masing. Ada proses transformasi perubahan akhlak yang mungkin bakal menjadi proses yang sangat personal, dilalui secara beragam dan berbeda-beda antar orang per orang, bergantung kondisi hati, jiwa, dan batin masing-masing.

Revolusi akhlak memang hal yang baik. Tapi revolusi akhlak yang digaungkan HRS dan pengikutnya masih belum jelas dan patut dipertanyakan. Kita sama sekali tidak berharap Revolusi Akhlak hanya akan menjadi slogan HRS dan para pengikutnya di FPI untuk melakukan gerakan atau aksi main hakim sendiri. Seperti aksi-aksi sweeping, intervensi, hingga bertindak intoleran dan kekerasan atas nama revolusi akhlak. Jika itu yang terjadi, artinya yang pertama-tama perlu revolusi akhlak adalah diri mereka masing-masing, sebelum menggaungkannya ke orang lain.

Revolusi akhlak adalah proses mensucikan hati dan jiwa, menghiasi diri dengan kebaikan dan keindahan, serta mewujudkannya dalam kebaikan, kemanfaatan, dan kemaslahatan bersama. Artinya, ini adalah sesuatu hal yang begitu suci, tak bisa dinodai dengan cara atau tindakan-tindakan yang melukai dan menyakiti orang lain. []

*Al-Mahfud, Penulis lulusan IAIN Kudus

Leave a reply

error: Content is protected !!