Menyoal Kekeliruan Tafsir Islam Kaffah

16
1162

Sangkhalifah.co — Ajaran agama yang bersifat universal menjadi kunci kesuksesan agama-agama, wabil khusus agama Islam. Kala Allah menghentikan firman-Nya dan menyatakan bahwa Islam telah sempurna, merupakan ungkapan yang jelas akan ajarannya telah disempurnakan. Ajaran-Nya ada yang terperinci dan tidak. Adapun yang tidak, salah satunya tentang kenegaraan dan sistem berpolitik. Tidak ada satu pun dalil terperinci dari-Nya, baik dalam Qur’an dan hadis qudsi. Ini menjadi bukti bahwa Allah menghendaki keterlibatan akal aktif manusia dalam merumuskan dunia dengan tetap berpegangan dengan seperangkat nilai dari-Nya dan warisan Nabi-Nya.

Seperangkat nilai-nilai universal dalam bernegara dan berpolitik itu di Indonesia, dibajak oleh sekelompok orang dalam konteksnya politik global. Nilai-nilai dalam Qur’an dan hadis diklaim menjadi bagian tak terpisahkan dari “sistem khilafah”, dimana sejatinya kedua sumber itu abai bicara kewajiban tentang keduanya. Karena hal ini berbeda dengan konsep imamah dalam Syiah adalah sesuatu yang agung, selain al-‘Ismah, Al-Ghoibah, At-Taqiyyah, Ar-Roj’ah, Al-Bada’ dan Ahl BaitArtinya, imamah bagi Syiah merupakan kepemimpinan universal yang berhubungan dengan segi spiritual dan duniawi dan kepemimpinan itu mendapatkan legalitasnya dari Tuhan. Sebab itulah, Murthadha Muthahhari mengatakan bahwa imamah janji Allah dan bukan janji manusia atau ia ada karena adanya “pengangkatan Ilahiyah”. Tidak ada perselisihan soal imamah dalam Syiah.

Dalam Sunni, persoalan imamah dan khilafah tidak satu kata; berbeda dan tidak ada kesepakatan dan atau diwajibkan semua. Dimana hakikatnya, awal muasal khilafah sebelum dipolisasi dan diklaim oleh HTI, ISIS dan Khilafatul Muslimin, istilah khilafah dalam Sunni bersifat netral. Misalnya, salah satu kamus yang dirujuk oleh seluruh umat Muslim adalah Mu’jam Maqayis al-Lughah. Di dalamnya disebutkan bahwa khilafah itu bermuara dari tiga huruf; kha-lam-fa (khalafa). Dari sini lahirnya kara khilafah yang bermakna “mengganti”, belakang atau setelah; dan perubahan.

Baca: Negara dan Agama Dua Sayap Penyelamat Dunia Akhirat

Pengertian netral itu dikeruhkan dan pengap oleh polusi sejarah perebutan kekuasaan atau mereka-mereka yang mendapatkan amanah dari pihak luar untuk diterapkan di Indonesia. Yang di dalam membawanya penuh dengan hal-hal negatif dan ketidaksesuain dengan makna hakikinya. Makna hakikinya itu dalam perspektif keindonesiaan sudah berjalan lama sampai sekelompok orang, simpatisan Taqiyuddin al-Nabhani dan Abu Bakar al-Baghdadi membuat khilafah menjadi keruh dan penuh dengan kebuasan kelompoknya.

Ada beberapa kekhilafan mereka. Salah satunya adalah kesalahan mengartikan “Islam (yang) Kaffah”, sebagaimana yang tertuang dalam Qs. al-Baqarah [2]: 208, “hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” Mereka membawa ayat ini sampai pada tahap bahwa seorang Muslim baru dikatakan “sempurna dalam berislam” manakala menerapkan khilafah. Dan siapa yang tidak menerapkannya, maka ia telah berbuat dosa.

Sejatinya, salah satu mufasir menyebutkan bahwa ayat ini turun perihal Abdullah bin Salam bersama para sahabatnya yang berasal dari Yahudi Bani Nadhir di Madinah. Walaupun sudah menjadikan Islam sebagai agamanya, mereka masih terpengaruh oleh nilai-nilai agama Yahudi seperti penghormatan terhadap hari Sabtu dan keharaman daging unta. Sikap setengah-setengah dalam beragama ini yang ditegur oleh Allah SWT, sebagai direkam oleh mufasir kenamaan Sunni Wahbah Al-Zuhaili dalam kitab al-Tafsîru al-Wajîz. Ia berkata:

 يا أيها المؤمنون ادخلوا في الإسلام بكليته دون تجزئة أو سالموا، واعملوا بجميع أحكامه فلا تنافقوا واحذروا وساوس الشيطان ولا تطيعوا ما يأمركم به إنه عدو ظاهر العداوة لكم. أخرج الطبراني أن هذه الآية نزلت في عبد الله بن سلام وأصحابه من اليهود لما عظموا السبت وكرهوا الإبل بعد قبول الإسلام فأنكر عليهم المسلمون

Maksudnya, “wahai orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam seluruhnya, bukan sebagian-sebagian, atau berdamailah, dan beramallah sesuai dengan semua hukumnya. Jangan bersikap munafik. Waspadalah bisikan setan. Jangan kalian ikuti apa yang diperintahkan setan karena ia adalah musuh yang jelas-jelas memusuhimu. Al-Thabarani meriwayatkan bahwa ayat ini turun perihal Abdullah bin Salam dan sahabatnya dari kalangan Yahudi ketika mereka mengagungkan hari Sabtu dan enggan terhadap daging unta setelah mereka memeluk Islam. Tetapi sikap mereka diingkari oleh para sahabat rasul lainnya.”

Ayat 208 itu dalam konteks ragam model dan jenis manusia terhadap agama Islam dan contoh seorang yang menganggap dirinya Muslim tapi belum sepenuhnya. Maka ayat ini berfungsi sebagai ajakan agar masuk ke dalam al-Silm, yang diartikan salah satunya oleh mufasir dengan pengertian “kedamaian” dan “agama Islam” itu sendiri, sebagaimana penafsiran di atas.

Dalam konteks pengertian “kedamaian”, maka ayat ini mengajak dan bisa ditujukan kepada orang-orang di luar Islam, yang menentang agama Islam. Allah mengajak dan menyakini mereka bahwa Islam itu tentang “kedamaian” dan “keselamatan” dan siapa-siapa yang tidak selaras dari keduanya, maka dia hanya berikrar sebatas lisan tapi praktiknya jauh dari agama Islam. Contoh kongkrit adalah ISIS yang melakukan kebrutalan dimana-mana. Dimana praktik yang mereka lakukan itu bukan ajaran Islam.

Artinya, ajakan “wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam kedamaian secara totalitas” itu sungguh mulai. Dari sini, hakikat kaffah (totalitas) itu dalam pengertian mengamalkan ajaran agama penuh kedamaian. Dan apa-apa yang berpotensi membuat percerai-beraian dan menghilangkan kemaslahatan bersama adalah bukan esensi dari ayat  208 ini. Pemaknaan ini selaras dengan ayat-ayat sebelumnya, yang mengajak manusia-manusia (sebagian mufasir mengatakan orang-orang munafik) untuk melakukan al-Silm (praktik damai) dan keselarasan antara ucapan dan tindakan; “dia bersaksi kepada Allah mengenai isi hatinya, padahal dia adalah penentang yang paling keras” (lihat ayat 204 sebelumnya).

Demi menyempurnakan perihal putusnya hubungan antara Udkhulû fî al-Silmi al-Kâffah dengan khilâfah, maka Imam Al-Razi melacak arti kata silmi dan al-Islâm. Menurutnya, makna kata silmi dan al-Islâm adalah ketundukan dan kepatuhan itu sendiri. Dari keduanya lahirlah makna yang ditautankan dengan “(agama) Islam. Muhammad Jamaluddin bin Muhammad Said bin Qasim bin Sholih bin Ismail bin Abu Bakr al-Qasim al-Damsyiqi dalam kitab tafsirnya, yang dikenal memadukan antara aliran tafsîr bi al-Ma’tsûr dan tafsîr bi al-Manqul menjelaskan dengan baik. Ia merekam juga perkataan al-Razi, seorang mufasir multidispliner abad ke lima bahwa ayat itu bermakna seperti ini.

أصل هذه الكلمة من الانقياد. قال الله تعالى: إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ [البقرة: 131]. والإسلام إنما سمي إسلاماً لهذا المعنى. وغلب اسم السلم على الصلح وترك الحرب. وهذا أيضاً راجع إلى هذا المعنى، لأن عند الصلح ينقاد كل واحد لصاحبه ولا ينازعه فيه. ومعنى الآية: ادخلوا في الاستسلام والطاعة، أي استسلموا لله وأطيعوه ولا تخرجوا عن شيء من شرائعه: كَآفَّةً حال من الضمير في ادخلوا

“Asal kata ini bermakna tunduk dan patuh. Allah berfirman, Ketika Tuhannya berkata kepadanya, Tunduklah kamu. Ia menjawab, Aku tunduk kepada Tuhan sekalian alam (Qs. al-Baqarah: 131). Islam dinamai demikian karena sesuai dengan makna tersebut. Kata silmi dominan mengandung makna damai dan tidak berperang. Ini juga merujuk pada makna tersebut. Pasalnya, dalam situasi damai, setiap pihak tunduk pada pihak lain. Tiada satupun pihak yang menentang dalam situasi ini. Pengertian ayat ini seolah berbunyi, Masuklah ke dalam kepasrahan dan ketaatan, yaitu berserahlah dan taatlah kepada Allah. Jangan kalian keluar sedikitpun dari syariatnya. Sedangkan kata kâffah merupakan hal dari dhamir pada kata udkhulû.”

Dari situ, bahwa Islam akan menjadi rahmatan lil âlamin tidak ada kaitannya sama sekali dengan keberimanan seseorang terhadap khilâfah. Mengapa, ayat di atas yang ditarik dan dijadikan legitimasi soal khilâfah tidak memiliki korelasi sama sekali. Kaidah agamanya jelas, Haitsumâ yakûnu al-Syar’u takûnu al-Maslahatu atau “dimana pun tegak(nya) syariah maka akan ada maslahat”. Kaidah ini menghantarkan kita bahwa yang dituntut dari seorang Muslim adalah mengamalkan seperangkat nilai dan ajarannya semampunya di dalam kehidupannya sehari-hari. Dimana tanpa sistem khilâfah pun bisa diimplementasikan dengan sempurna.

Maka ayat 208 dari surah Al-Baqarah ini bukan dalam pengertian, dimana Allah mewajibkan khilafah dan bukan pula Allah sedang bicara tentang “sistem khilafah”. Dan karena banyak umat Muslim yang beragama tapi tidak mengerti asal muasal istilah al-Silm ini, maka oleh para penyeru khilafah mudah di-“kadali” dan mereka tergiur oleh balutan-balutan dalil yang menyertai ayat 208 tersebut. []

16 comments

  1. Gagal Paham Menilai Hizbut Tahrir Indonesia – sangkhalifah 25 Mei, 2020 at 04:41 Balas

    […] Kesalahan kedua, masyarakat menilai bahwa tokoh-tokoh dan petinggi-petinggi HT/HTI layaknya Nabi dan para khulafaur rasyidun yang mampu menjalankan agama secara kaffah. Nyatanya tidak! Sepeninggal Nabi atau bahkan empat sahabatnya sekalipun tidak ada lagi Muslim yang mampu mengamalkan ajaran Allah secara 100 persen—dalam istilah HT/HTI disebut kaffah. […]

  2. Meninjau Kembali Gerakan Hijrah Milenial Bermotif Radikal - sangkhalifah 15 Juli, 2020 at 08:32 Balas

    […] Hal ini tidak jauh berbeda dari klaim paling benar yang digaungkan oleh kaum radikal dalam memaknai hijrah itu sendiri. Seperti yang dipopulerkan oleh kaum pengusung khilafah—HTI—menganggap bahwa hijrah itu bermakna perpindahan dari dar al-kufr (negara kafir yang tidak menerapkan hukum Islam sesuai al-Qur’an dan Hadis) ke dar al-islam (negara Islam yang menerapkan hukum Islam secara kaffah). […]

Leave a reply

error: Content is protected !!