Menyibak Tabir Dunia Terorisme Dari Sang Napiter

2
631

Sangkhalifah.co — Jika bicara jihad dan terorisme dari pihak eksternal, sangat mudah kita jumpai di media sosial. Tapi membaca kedua perspektif dari pengamal atau mantan teroris akan memberikan legitimasi dan penguatan dalam kerja kontra narasi dan ideologi. Buku Internetistan; Jihad Zaman Now yang ditulis oleh Arif Budi Setyawan, seorang napiter, menjadi penting dan berharga. Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi dan menyibak kelompok tempat pergerakannya. Penulis pun pasca pembebasan dirinya, telah terlibat dalam upaya pendampingan terhadap beberapa napiter mantan foreign terorist fighter (FTF) ISIS, tepatnya di wilayah Jawa Timur.

“Komitmen jihad Cak Arif ini juga justru menguat melalui dunia maya. Sebabnya, di dunia ‘tanpa batas’ itu, dia bisa bertemu dengan para jihadis dari segala penjuru.”

Petikan kalimat itu membuktikan bahwa menjalin gerakan via media sosial adalah fakta. Lebih-lebih dari seorang credible voice (sosok yang mempunyai suara yang dapat dipercaya), yang terjun mempraktikkan ragam teori jihad secar nyata. Arif (sang penulis) berkompeten dalam kampanye kontra narasi melawan ekstremisme dan terorisme. Jadi, buku ini ditulisnya untuk menyibak tabir seorang aktivis radikal bisa memutuskan keluar dan menjadi agen perubahan di masyarakat.

Menurut Arif, “saya terpesona dengan gerakan jihad itu melalui produk-produk kultural mereka, seperti nasyid, video, buku serta kisah-kisah heroik para pembela agama seperti Abdullah Azzam… saya bukan berasal dari keluarga broken home atau kekurangan secara finansial atau orang yang bermasalah secara psikologis. Namun, saya dikelilingi orang-orang yang semangat membela agama.”

Baca: Eks-Napi Teroris Bongkar Empar Narasi Radikal di Ranah Digital

Fakta ini mempertegas bahwa keterlibatan seseorang tidak selalu dipengaruhi oleh faktor politik dan ekonomi, tapi faktor sosiologis. Faktor circle sangat berpengaruh dalam setiap perubahan yang dimiliki seseorang. Dan pertemanan itu bisa bersifat maya. Sebab dalam buku ini diceritakan bahwa Arif terlibat bukan melalui sebuah ‘rekrutmen’ resmi dan melalui tahapan yang ada. Ia masuk dan menjiwai ragam doktrin melalui circle di media sosial.

Bagi Arif, “dalam dunia kelompok radikal, singkatnya proses radikalisasi menunjukkan jalan pikiran mereka yang sangat sempit. Semakin sempit pemikirannya, semakin cepat teradikalisasi.”

Dalam pembacaan saya atas maksud “pemikiran sempit” itu bukan ditujukan kepada orang yang hanya ‘miskin’ ilmu pengetahuan. Tapi lebih kepada proses implementasi dari sebuah informasi yang dimiliki seseorang. Pasalnya, Arif ini jebolan pesantren sebagaimana Sofyan Tsauri yang ‘menguasai’ kitab kuning. Perpindahan dari sebuah ruang (pesantren; agama sebagai pelajaran yang menonjol) ke ruang (sekolah umum) membutuhkan kedewasaan dalam menyajikan dan membawa. Tapi proses menyajikan (berbasis sirah nabawiyah) tidak akan diketemui oleh pelajar. Mengapa? Penguasaan dalam menyajikan dibutuhkan penghayatan mendalam atas ajaran agama yang menyeburkan narasi kebijaksanaan.

Menjadi masuk akal bagi saya dalam membaca sosok Arif ini. Dunia circle yang disebutkannya, seperti Hizbut Tahrir Indonesia, Partai Keadilan (kini PKS), Pemuda Muhammadiyah, IPNU, Hidayatullah hingga Jamaah Tabligh tidak semuanya memiliki jejak dan konsep yang bagus dalam tatbiqu al-Syari’ah (implementasi sebuah ajaran Islam). Semua organisasi itu hanya satu yang secara ideologis memiliki merek made in Indonesia, yakni IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) selainnya berbasis transnasional.

Lebih-lebih Arif ini telah masuk ke dunia rohis. “Ketika saya sekolah SMK, sejak duduk di kelas 1, saya sudah aktif kegiatan rohani Islam (rohis). Kegiatannya diwadahi forum silaturrahmi pelajar se-kota, yang merupakan underbone-nya PKS.” Ini menjadi relevan dengan data-data di lapangan yang ada, jika seorang teroris diminta untuk bergabung dengan mazhab apa, maka banyak yang menjawab akan bergabung dengan Wahabi. Jika partai, maka akan bergabung dengan PK/PKS. Dimana baik PK/PKS memiliki basis ideologi transnasional yang beririsan dengan Ikhwanul Muslimin di Mesir.

Baca: Menyawar Populisme Islam

Pergumulan itu diperpanjang dengan perjumpaan para ideolog dan ustadh-ustadh di internet. Dan ini memudahkan ‘virus’ masuk ke diri Arif, yang notabene sosok yang serba penasaran atas sebuah hal dan menyukai ragam tantangan. Dia mencari pembenaran atas sebuah kejadian teroris dan dia mendapatkan dari ustadh-ustadh itu. Penerimaan itu diterima dengan anggapan heroik. Salah satunya, pujian Arif kepada “para pelaku serangan 11 September 2001 (insiden 9/11) di Amerika Serikat alias tragedi WTC”. Sampai akhirnya Arif tau bahwa para idolanya itu adalah aktivis teroris Jamaah Islamiyah.

Doktrin demi doktrin yang diterima dari para kader JI itu membuat anggapan serius lahir dari dalam dirinya. “Ada rasa keren yang tersirat dari cerita itu. sepintas, saya ingin sekali masuk ke sana. Ingin merasakan, membuktikan langsung, masuk bersama perjuangan mereka.” Perasaan keren itu membuncah dan disinilah salah satu titik kesuksesan seorang ideolog dalam menebarkan virus terorisme.

Sebagaimana umumnya, pewartaan berupa “nostalgia klasik” dan “cerita keajaiban” menjadi trik perekrutan dalam gerakan radikal-teroris. Dan itu terjadi kepada Arif saat dirinya menjadikan kontrakannya sebagai tempat persinggahan para simpatisan Jamaah Islamiyah. Trik itu akan dibumbui dengan legitimasi agama. Misalnya, “untuk berjihad tidak perlu harus memiliki persenjataan memadai… cukup dengan niat yang benar dan tekad yang kuat disertai keyakinan bahwa Allah SWT akan selalu menolong setiap orang yang ingin menolong agama-Nya” adalah satu dari sekian narasi keagamaan yang menjadi ‘pembalut’ sebuah gerakan kejahatan (apapun bentuknya).

Tapi pada akhirnya, kesadaran itu tercipta pada diri Arif. Titik baliknya pun harus melalui ragam duri dan penuh terjal. Anehnya, ia pun belajar dari sebuah film berjudul Kung Fu Panda 3. Baginya “kisah itu, meski fiksi, sangat menginspirasi”. Apa motivasi titik baliknya? Inilah informasi mahal dari buku ini, yang Anda harus membelinya.

Mengakhiri tulisan ini, saya akan mengutip kembali pesan terbaik dalam buku ini. “Saya mulai menyakini bahwa tolak ukur benarnya jalan perjuangan yang kita ambil adalah dampak pada Islam dan kaum Muslimin. Tidak mungkin, perjuangan membela Islam berdampak negatif pada Islam itu sendiri.” Saya katakan, sungguh dahsyat kalimat ini. pelajaran berharga dari mantan napiter. [Makmun Rasyid]

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!