Menyibak Salafi di Channel Youtube

1
418

Sangkhalifah.co — Beberapa malam lalu, saya menonton dan menyimak banyak video yutub dari kalangan yang disebut salafi. Ada 10an ustaz yang ceramah-ceramah mereka saya pelototi. Saya belajar dari banyak ceramah ini sekaligus katakan melakukan semacam riset kecil-kecilan. Dari situ saya membuat beberapa catatan:

Pertama, Berbeda dengan asumsi umum selama ini, yang menganggap mereka tidak otoritatif di bidangnya, menurutku mereka justru sangat otoritatif. Mereka menguasai Bahasa Arab dengan baik, pasif maupun aktif, dan bidang-bidang keilmuan Islam secara mendalam, terutama Quran dan Hadits. Mereka alumni sekolah-sekolah keagamaan di Mekah, Medinah dan Mesir. Bahkan sebagian mereka memiliki gelar doktor.

Kedua, Ada satu channel youtube yang menyiarkan ceramah-ceramah mereka, dengan subscribe lebih dari 2,5 juta. Channel ini telah mengeluarkan lebih dari 13.000 video. Bukan main kan! Menariknya, channel ini juga punya siaran untuk anak-anak. Meski ceramah-ceramah para ustaz ini beberapanya sudah disiarkan di channel ini, secara pribadi para ustaz ini memiliki channel sendiri, dengan jumlah subscriber ratusan ribu dan memposting ratusan ceramah. Jadi rata-rata mereka memiliki ‘official channel’ sendiri.

Ketiga, Sebagian besar ceramah diambil dari ‘ceramah offline’ di masjid-masjid atau di kelompok-kelompok jamaah. Keempat, Pada umumnya ceramah mereka satu arah dan bersifat tematik. Tetapi banyak juga yang dilakukan dengan gaya pesantren, seperti umumnya, yakni membaca kitab. Menariknya, kitab yang dibaca juga biasa dipakai di kalangan pesantren seperti pembacaan tafsir Jalalalain, hadits Riyadhus Sholihin, Arba’in Nawawiyyah, dll. Gaya pengajiannya santai dan komunikatif, tidak berapi-api.

Kelima, Para ustaz ini berasal dari Jawa, Sumatera, Kalimantan dan lain-lain, tapi mayoritas mereka menggunakan bahasa Indonesia. Dengan demikian, secara sadar mereka mengerangkakan ceramah mereka bersifat nasional, khitabnya adalah penduduk se-Indonesia, bukan suku atau daerah tertentu, dan dengan demikian, bukan tidak mungkin juga ceramah mereka sampai ke Malaysia, Brunei, dan Thailand.

Keenam, Tema-tema yang sering diangkat cukup khas, misal soal-soal bid’ah, termasuk dalam hal ini respon terhadap budaya lokal, riba, kemusyrikan, ajakan hijrah, dan lain-lain, serta soal-soal ibadah. Yang di kalangan luar dianggap biasa, di kalangan ini bisa dipandang serius sekali.

Ketujuh, Tema-tema di atas melulu dipandang dari sudut pandang keagamaan. Hampir tidak ada perspektif sosial untuk melihat masalah keagamaan. Atau sebaliknya, melihat masalah sosial dengan perspektif keagamaan. Karena itu tema-tema sosial seperti soal lingkungan, kemiskinan dll relatif absen.

Kedelapan, Yang menarik pandangan terhadap pemerintah cenderung netral. Tidak ada kritik meski juga tidak ada pujian. Dalam suatu ceramah bahkan ada yang mengatakan wajib mendukung Jokowi, dalam arti sebagai pemerintahan yang sah selama tidak ada ajakan yang nyata dari pemimpin tersebut untuk melakukan tindakan yang mengarah kekafiran (melarang ibadah misal dll).

Sebenarnya ini tidak aneh dan cukup umum sebagai pandangan keagamaan (teologi politik) kalangan ahlus sunnah. Juga dalam banyak hal sopan. Sependek saya telusuri, tidak ada ungkapan-ungkapan kasar seperti menjelek-jelekkan pemimpin bahkan mendoakan mereka misal untuk mati segera. Tidak ada juga ajakan-ajakan untuk melawan pemerintah. Mungkin yang saya simak ini adalah ustaz-ustaz salafi moderat, bukan yang politis, dan tidak aneh karena itu pula mereka bisa leluasa dan memperoleh pemirsa yang luas.

Demikian beberapa hipotesis saya setelah menonton ceramah-ceramah ini. Tentu harus dilakukan riset lebih luas dan mendalam lagi untuk mendapatkan pandangan yang akurat. Dalam konteks demokrasi, tentu saja mereka memiliki hak untuk memiliki pandangan keagamaan sendiri, yang berbeda dengan orang lain, bahkan dengan pandangan resmi pemerintah.

Sekali lagi, menurut saya, pada umumnya mereka sangat otoritatif. Tapi mungkin di sini juga masalahnya: karena mereka merasa (dan memang) memiliki otoritas, mereka jadi cenderung otoriter, merasa paling benar dan menyalahkan orang lain. Miskinnya perspektif sosial dan hilangnya aspek muqaranah, membuat pandangan mereka umumnya hitam-putih dan gampang menyalahkan orang yang berbeda dengan mereka.

Kendati demikian, kecenderungan orang memiliki otoritas menjadi otoriter, tentu bukanlah khas mereka. Siapa pun yang merasa memiliki otoritas punya pontensi untuk menjadi otoriter. []

*Hairus Salim HS, Bekerja di Yayasan LKiS dan Gading Publishing, Yogyakarta

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!