Menyemai Esensi Agama Sebagai Preventif Paham Radikal

0
419

Sangkhalifah.co — Indonesia dan dunia sedang dalam krisis intoleransi multikultural dan multidimensi sosial. Parahnya lagi, semua itu berujung pada tindakan intoleransi beragama. Ayat-ayat Al-Qur’an dijadikan sebagai dalil untuk bertindak anarkis yang mengarah pada tindakan radikal dan teror. Tindakan bom bunuh diri telah terjadi di banyak tempat, seperti di Amerika, Paris, Manchester, Amsterdam, dan tentu saja di Indonesia. Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim seringkali menjadi target untuk mendirikan negara Islam yang  ekslusif dan berakhir pada sikap dan tindakan kekerasan. Demikian itu telah banyak menelan korban. Kemanusiaan juga tergadaikan karena tindakan kekerasan yang dibalut atas nama agama ini. Padahal, agama (apapun) tidak ada yang mengajarkan tindakan anarkis dan kekerasan. Mereka tidak sadar telah kehilangan arah untuk menerapkan esensi agama.

Agama secara umum sebagaimana disebut dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ialah ajaran atau sistem yang mengatur tata keimanan dan peribadatan kepada Tuhan serta tata kaidah yang mengatur hubungan manusia dengan manusia yang lainnya. Dari definisi cukup terang bahwa agama adalah suatu tata aturan yang tidak saja mengatur hubungan seseorang dengan Tuhannya, akan tetapi juga mengatur hubungan sesama manusia yang lain. Hubungan yang dimaksud bukan lain adalah hubungan kekerabatan, kesalingan, dan menjauhi tindakan kekerasan. Agama yang berarti tata aturan tidak ada satu umat pun yang memaknainya sebagai tata aturan untuk melakukan tindakan brutal yang justru bertentangan dengan watak agama sendiri sebagai aturan. Bahkan, tidak hanya harus melakukan harmoni dengan sesama manusia, akan tetapi dengan seluruh alam termasuk hewan dan tumbuhan.

KH. Musthofa Bisri atau yang biasa disapa Gus Mus, memperjelas apa yang menjadi visi dan misi agama tersebut, yakni bahwa beragama harus berimplikasi pada kesalehan ritual sekaligus kesalehan sosial. Jika hanya berimplikasi pada satu kesalehan belaka maka seseorang tidak dapat dikatakan berhasil dalam beragama. Dalam istilah lain Gus Mus menyebut orang yang beragama harus meneguhkan kedua nilai tauhid, yakni tauhid ritual dan tauhid sosial. Apa yang ditegaskan Gus Mus juga sejalan dengan esensi-esensi firman Allah, yang memerintahkan salat sebagai bentuk kesalehan ritual, dibarengi dengan perintah menunaikan zakat, sebagai bentuk kesalehan sosial. Ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang keimanan, juga selalu dibarengi perintah amal saleh (di lingkungan sosial).

Pada kesempatan yang lain Abdullah Darraz mendefinisikan agama sebagai keyakinan eksistensi Dzat Yang Maha Luhur, yang Dzat itu memiliki kuasa untuk mengatur segala apa yang diinginkan oleh manusia. Agama bagi Darraz, sebagai inti dari tauhid itu sendiri menegaskan bahwa bagi manusia tidak ada yang harus lebih diagungkan kecuali Allah SWT. Prinsip tauhid ini menolak konsepsi beragama yang radikal yang seringkali bukan ingin mengagungkan Allah sebagai Dzat Yang Maha Kuasa akan tetapi hendak mengagungkan nafsu dan keinginan diri dan kelompoknya semata. Pemahaman agama perspektif dirinya lebih diagungkan daripada mengagungkan kepada Tuhannya. Sehingga, seperti kelompok radikal, disadari atau tidak mereka telah syirik sebab bertuhan bukan demi Tuhan, akan tetapi bertuhan demi pemahaman agama yang diyakininya yang membingkai dirinya sebagai pribadi yang kasar dan ekslusif.

Emha Ainun Najib mengibaratkan agama seperti singkong. Singkong merupakan hasil tumbuhan yang dapat dibuat bermacam-macam makanan, seperti kripik, getuk, tumis, dan lain sebagainya. Seperti demikian adalah agama. Ia akan menjadi beragam bentuk pemikiran (bahkan tindakan) tergantung sejauh mana dan siapa yang mengendalikannya. Meminjam istilah Muhammad Syahrur, agama adalah tata aturan yang sejatinya lurus (hanif) dalam menempatkan hukum Allah bagi manusia. Akan tetapi bisa saja dibengkokkan jika berada di tangan manusia yang tidak memiliki tanggung jawab dan hendak memperkosa agama untuk tindakan kekerasan yang dilakukannya. Agama di tangan orang-orang seperti NU dan Muhammadiyah misalnya, akan menjadi jenis pemahaman yang santun dan toleran. Sementara di tangan kelompok radikal seperti ISIS dan HTI, akan menjadi menyeramkan dan berwatak garang.

Secara lebih spesifik, agama Islam sendiri berasal dari Bahasa Arab yaitu aslama-yuslimu-islaman yang artinya menyelamatkan. Di dalam kaidah ilmu shorof, kata “aslama” memiliki makna “ta’diyah” atau berimplikasi memiliki objek. Atau dalam kaidah bahasa Indonesia, makna “ta’diyah” berarti merubah dari kalimat instransitif menjadi transitif sehingga bersifat aktif. Je Abdullah dalam buku Kafilah Al-Fatihah menyebutkan bahwa demikian itu memiliki maksud bahwa orang yang beragama harus bisa menyelamatkan, baik menyelamatkan diri sendiri ataupun menyelamatkan orang lain. Menyelamatkan dari bentuk apa saja yang dianggap berbahaya bagi dirinya dan orang lain, termasuk selamat dari kekerasan, intimidasi, dan anarkisme. Hal ini pun sejalan dengan salah satu tujuan mengapa agama diturunkan Allah, yakni untuk bisa menjaga jiwa manusia (hifz al-nafs). Lebih dari itu, esensi dari makna agama yang berarti menyelamatkan tidak hanya berarti menyelamatkan sesama manusia seagama, tetapi manusia lintas iman bahkan di luar manusia serta seluruh alam.

Dalam QS. Al-Anbiya ayat 107 Allah SWT berfirman: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” Hal demikian juga ditegaskan melalui konsep kosmologi Islam, yang membagi manusia menjadi insan saghir dan insan kabir. Insan saghir berarti keselamatan yang harus diaplikasikan umat Islam kepada manusia kecil (mikrokosmos) atau manusia itu sendiri, dan keselamatan yang harus diejewantahkan kepada manusia besar atau alam semesta (makrokosmos). Pada intinya, esensi agama adalah menyelamatkan, menyelamatkan seluruh alam dengan persaudaraan, persatuan, dan meninggalkan tindakan radikal serta teror yang hanya merugikan agama itu sendiri.[]

Leave a reply

error: Content is protected !!