Menyelami Hakikat dan Memaknai Ulang Toleransi di Indonesia

0
193

Sangkahlifah.co — Toleransi termasuk pembahasan yang sangat penting dan relevan untuk dikaji lebih dalam di abad ke-21 ini. Konferensi Internasional tentang moderasi beragama di Baghdad tahun 2018 juga memasukkan toleransi dalam 10 rumusan deklarasi masalah krusial yang dihadapi umat Islam saat ini. Kompleksitas kehidupan era modern menuntut manusia tidak hanya bersikap toleran, tetapi juga memahami hakikat toleransi dengan baik.

Selain itu, kenapa toleransi ini penting diupayakan agar terwujud adalah karena negara Indonesia sifatnya demokratis. Demokrasi mengharuskan adanya toleransi. Toleransi adalah tempat berpijak yang kokoh bagi demokrasi. Oleh karena itu, kematangan demokrasi di sebuah negara, dapat diuji dari seberapa toleran negara tersebut. Semakin matang toleransi kehidupan dalam suatu negara, maka akan semakin demokratis negara tersebut, demikian juga sebaliknya.

Agar toleransi teraplikasikan dengan apik, tentunya membutuhkan adanya internalisasi yang baik akan makna sesungguhnya dari toleransi. Toleransi berasal dari bahasa Latin, yaitu tolerantia, yang artinya kelonggaran, kelembutan hati, keringanan dan kesabaran. Sedangkan di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dijelaskan, arti toleransi adalah sifat atau sikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan) yang berbeda atau bertentangan dengan diri sendiri.

Adapun secara istilah, ada banyak pendapat tentang arti toleransi. Muldoon & Borgida mendefinisikan toleransi dalam bentuknya yang paling dasar, sebagai syarat bahwa seorang individu yang tidak suka terhadap orang lain atau tindakannya tetap menahan diri dan tidak menggangu orang tersebut. Toleransi juga dapat dipahami sebagai tindakan bertahan atau kompromi dengan sesuatu yang tidak disukai.

Selama ini, banyak yang telah mereduksi makna toleransi. Pemahaman bahwa toleransi hanya sebatas membiarkan atau menghormati orang lain yang berbeda saja. Semestinya, bersikap toleran terhadap sesuatu berarti belajar hidup bersama dengan sesuatu tersebut. Toleransi sering dimaknai dengan ketidakpedulian, kesediaan menolerir, tetapi lebih suka akan ketiadaannya. Jika seperti ini, maka harmoni tidak terwujud. Karenanya, perlu kita memaknai ulang apa hakikat makna toleransi yang sesungguhnya.

Buku putih moderasi beragama Kementerian Agama secara sederhana memang mengartikan toleransi sebagai sikap untuk memberi ruang dan tidak menggangu hak orang lain untuk berkeyakinan, mengekspresikan keyakinannya, dan menyampaikan pendapat, meskipun hal tersebut berbeda dengan yang diyakini. Namun, toleransi juga mengacu kepada sikap terbuka, lapang dada, sukarela, dan lembut dalam menerima perbedaan. Toleransi selalu disertai dengan sikap hormat, menerima orang yang berbeda, dan berpikir positif.

Lebih ditegaskan lagi, Kementerian Agama mengatakan, toleransi sejati adalah toleransi yang tidak pasif dengan sekadar menghargai dan menghormati pemeluk keyakinan yang berbeda, namun juga aktif melakukan komunikasi, membangun kebersamaan dan kerja sama dalam kehidupan sosial. Sikap toleransi aktif seperti itulah harus terus diwujudkan dan dipelihara.

Pendapat Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar menguatkan, bahwa toleransi berarti men­jalin hubungan yang harmonis antara berbagai komponen warga bangsa/negara dan itu merupa­kan salah satu ciri khas ajaran Islam. Sedangkan Said Agil Al-Munawar membagi toleransi menjadi dua macam, yaitu toleransi statis (pasif) dan toleransi dinamis (aktif).

Toleransi statis adalah toleransi dingin yang tidak melahirkan kerjasama, sifatnya teoritis.  Sedangkan toleransi dinamis adalah toleransi aktif yang melahirkan kerja sama untuk tujuan bersama, sehingga kerukunan antar umat beragama bukan dalam bentuk teoritis, tetapi sebagai refleksi dari kebersamaan umat beragama dalam satu bangsa. Toleransi aktif lah yang dibutuhkan oleh Indonesia.

Persatuan di dalam perbedaan (bhinneka tunggal ika) akan lestari manakala lahirnya budaya toleransi sejati (aktif), bukan toleransi yang bertopeng. Almarhum Abdurrahman Wahid atau yang biasa disapa Gus Dur telah mengingatkan, bahwa kerukunan yang ada di Indonesia dengan toleransi yang pasif, tidak memiliki daya tahan yang ampuh terhadap tekanan politik, ekonomi, dan budaya yang sewaktu-waktu bisa meledak. Sikap toleransi yang dibangun hanyalah sekedar sikap bertetangga baik, tanpa rasa senasib sepenanggungan sebagaimana orang bersaudara. Toleransi hanya tata karma lahiriah belaka, tanpa ada persambungan rasa. Maka menurut Gus Dur, yang diperlukan oleh bangsa Indonesia adalah pengembangan rasa saling pengertian yang tulus dan berkelanjutan. Rasa yang dibutuhkan adalah rasa saling memiliki, bukan sebatas bertenggang rasa. []

Leave a reply

error: Content is protected !!