Menumbuhkan Sikap Waspada Terhadap Propaganda ‘Sudah Saatnya Khilafah’

0
383

Sangkhalifah.co — Gerakan khilafah sudah jelas kedok dan wajah tampilannya. Islam selalu dibawa-bawa untuk melancarkan aksinya. Seruan jihad fisik bahkan acapkali menyeruak sebagai implikasi penegakan khilafah. Dalam benak mereka, khilafah telah menjadi sebuah keyakinan yang tidak boleh dihalangi siapapun. Melawan keyakinan itu, dibelanya sama dengan melawan Islam.

Dalam perjalanan gerakan khilafah yang digemakan para pengikutnya, ada sisi menarik untuk dilihat dan dikaji mendalam. Khilafah yang menurut mereka adalah bagian dari ajaran Islam, menciptakan polemik panjang di masyarakat. Sebenarnya, khilafah itu apakah harus diamalkan? Sementara, itu semua merupakan bagian dari sejarah masa lalu yang tak luput dari jejak yang kelam.

Cara-cara berdakwah–dalam hal ini lebih tepat mengajak–yang dilakukan pengusung khilafah ini memang menarik. Banyak hal yang telah mereka viralkan, akhirnya menjadi tren tersendiri di kalangan generasi muda. Pasalnya, mereka merupakan obyek sasaran paling empuk di balik ambisius dakwah kaum khilafah. Simbol-simbol semisal hijrah, tauhid hingga kalimat tahlil yang ditulis dan ditempel pada benda menjadi komoditas mereka. Maka, tidak heran jika muda-mudi awam agama lebih mudah menangkap pesan simbol daripada teori keagamaan.

Para remaja yang masih datar dalam pemikiran, namun bersemangat dalam pergerakan menjadi korban provokasi mereka. Hal ini, utamanya kaum remaja yang masih minim pemahaman agamanya. Melalui selebaran-selebaran, meme, video yang ditautkan pada laman resmi pergerakan mereka menjadi seketika viral. Gerakan satu kali klik para pemuda pengikut akunnya, akan seketika menyebar lebih cepat kepada teman sebayanya. Ini jauh lebih mengerikan daripada apa yang disajikan melalui pesan-pesan bergenre dakwah konvensional.

Dalam perkembangannya, ada fenomena yang tak kalah menarik di balik gencarnya kampanye gerakan khilafah. Belakangan para pengusung khilafah itu berupaya mendekati artis-artis influencer yang popularitasnya tidak perlu diragukan. Dengan mengusung konsep dialog ringan seputar Islam, di sela-sela obrolan asyik itu disisipkan sedikit materi khilafah. Boleh jadi, ada semacam prinsip bahwa asal kena walau sedikit. Maka, tidak jarang dalam gerakannya lebih utamakan tampilan elegan daripada materi yang matang.

Berbagai model kampanye khilafah yang disinggung di atas, bukan tak mungkin akan mewarnai dinamika dakwah Islam belakangan. Ibarat mencari panggung perhatian, mereka lakukan segala cara yang bisa meraup banyak dukungan. Ketika media sosial menjadi pasar bebas para pemegang komoditas pengaruh terhadap liyan, pengusung khilafah turut berkontestasi di dalamnya. Gagasan apapun yang mereka jajakan di media, akan mendapat dukungan serta dari ayat dan hadis yang mereka tafsirkan.

Propaganda Khilafah Melalui Media Sosial

Salah satu media yang mulai dirambah semua kalangan ialah Youtube. Melalui media ini, siapapun bisa menayangkan videonya berdurasi pendek atau panjang. Semua bebas mengaksesnya asal bermodal kuota data internet. Sementara arus perkembangan informasi semakin cepat dan mudah menerobos dinding-dinding batas semua penikmatnya. Di sinilah peluang emas para pengusung khilafah yang semakin gencar menggemakan idenya.

Beberapa hari yang lalu, dalam sebuah webinar Ismail Yusanto (2020), salah satu Eks HTI ini meyakinkan pemirsa bahwa sudah saatnya khilafah. Apabila dihalangi atau ada pihak yang tidak bergabung dinilainya rugi. Ini menjadi satu pecutan keras bagi eksistensi negara Pancasila. Tanpa sensor, bahkan sangat vulgar disampaikannya dengan penuh keyakinan. Apakah sebebas ini negara membiarkan kampanye anti Pancasila berkeliaran?

Di sinilah, betapa besar peran media sosial dalam melancarkan propaganda sudah saatnya khilafah. Apabila hal demikian ditangkap oleh orang yang kurang paham duduk perkaranya, boleh jadi akan percaya begitu saja. Namun sebaliknya, apabila pemirsanya memiliki dasar pemahaman Islam dan nasionalisme yang kuat tentu tayangan demikian hanyalah angin belaka. Ini baru satu dari sekian propaganda khilafah yang telah dan akan terus berkembang ke depannya.

Karenanya, penguatan ideologi Pancasila harus tetap bergerak tanpa menunggu aba-aba. Tidak perlu dalam bentuk formalisasi yang terkesan kaku. Sebab, sejatinya Pancasila ini telah berangkat dari nilai-nilai universal yang berlaku di dalam budaya masyarakat. Di sisi lain, menjadi penting pula penguatan faham berbasis ideologi keagamaan. Boleh dikatakan, pentingnya nasionalisme berbasis tradisi keagamaan dan sebaliknya tradisi agama mendukung tegaknya nasionalisme.

Narasi yang berkembang di era media seperti sekarang akan mudah dipegang oleh siapa yang punya pengaruh besar. Mereka yang berhasil merebut panggung publik melalui berbagai media bakal lebih mudah menyebar propaganda dan mendapat simpatisannya. Karena itulah, betapa pentingnya gerakan literasi media berbasis agama yang beriringan tegaknya Pancasila. Tanpa melupakan hal yang esensial, Islam harusnya menaungi semua hal yang berada di bawah pengayoman Pancasila. Dan bukan sepatutnya, apabila Islam hanya mengintimidasi golongan liyan yang bahkan kawan seiman sendiri. []

Leave a reply

error: Content is protected !!