Menolak Khilafah dan Membela Bangsa; Puncak Dari Segala Amal Ibadah

1
402

Sangkhalifah.co — Islam menuntut umatnya untuk beribadah secara sungguh-sungguh. Hal itu karena tujuan utama manusia diciptakan di muka bumi tidak lain hanya untuk beribadah kepada Allah Swt. Tidak ada tujuan lain yang Allah inginkan atas penciptaan manusia, bahkan penciptaan seluruh alam. Allah Swt berfirman dalam QS. Al-Dzariyat: 56 wamâ khlaqtu Al Jinna wa Al Insa illâ liya’budûn; tidak lah Aku (Allah) ciptakan Jin dan manusia kecuali agar mereka menyembah (kepada-Nya). Konsep fundamental dalam ajaran Islam ini menafikan klaim kehidupan manusia di muka bumi dengan atas nama selain beribadah, sebagaimana tujuan hidup para pengusung khilafah dan simpatisannya, yaitu untuk berjihad menegakkan sistem politik Islam khilafah yang diklaimnya sebagai salah satu bentuk kewajiban ibadah dalam Islam.

Para pengusung khilafah sebagaiama ISIS dan HTI setidaknya hidup atas dasar dua landasan, yaitu jihad memperjuangkan negara Islam transnasional khilafah Islamiyyah, dan kedua hijrah; hijrah dari kehidupan dalam sistem demokrasi menuju sistem ‘Islam’ menurut versinya. Para pengusung khilafah berasumsi bahwa jihad dan hijrah yang dilakukannya merupakan ibadah. Padahal, ibadah dalam Islam maknanya adalah tunduk kepada Allah Swt. Sementara ISIS dan HTI berjuang atas nama jihad dan hijrah atas nama tunduk kepada sistem khilafah, yang merupakan hasil akal manusia. Sebab tidak ada dalil baik dalam Al-Qur’an maupun hadis yang memerintah umat Islam untuk mendirikan khilafah di muka bumi. Pada titik ekstrim, para pengusung khilafah ISIS dan HTI pada dasarnya telah melakukan kemusyrikan, sebab beribadah bukan pada ketundukan pada tata aturan agama, namun aturan khilafah.

Tetapi perlu menjadi garis bawah umat Islam bahwa sebetulnya para pengusung khilafah adalah segerombolan orang-orang mabuk agama yang tidak pernah konsisten dengan apa yang diperjuangkannya. Misalnya, mereka menolak demokrasi dan Pancasila, akan tetapi mereka memperjuangkan SK organisasinya untuk tidak dicabut dan dibubarkan. Padahal, SK HTI misalnya, merupakan penjelmaan dari sistem demokrasi yang mengharuskan adanya prosedur dan birokrasi surat menyurat. HTI, misalnya, paling sok tegar menolak demokrasi, namun mereka adalah sekelompok orang yang sering berdemo, yang – demo itu sendiri – merupakan anak kandung dari demokrasi. Para pengusung khilafah mengharamkan sistem demokrasi, akan tetapi menjilat dan menikmati udara demokrasi tanpa merasa salah.

Jadi sebetulnya, bualan para pengusung khilafah baik HTI maupun ISIS bahwa mereka memperjuangkan syariat Islam secara kaffah adalah kebohongan yang terus menerus dicekoki kepada generasi dan simpatisannya. Cita-cita para pengusung khilafah menerapkan sistem Islam kaffah sebetulnya selalu dikotori oleh perbuatan bejadnya yang merusak syariat dengan cara merendahkan umat Islam di luar kelompoknya. Jika para pengusung khilafah selalu membawa-bawa ayat Al-Qur’an QS. Al-Baqarah: 208, yâ ayyuhalladzîna âmanu udkhulû di as-silmi kâffah; wahai orang-orang yang beriman masuklah Islam secara keseluruhan. ISIS maupun HTI, sebetulnya, bukan mengamalkan ayat ini, tetapi justru melawan maksud ayat ini dengan cara mengotori dengan perbuatan mencaci, mencela, dan menjelekkan kelompok lain.

Saya sendiri bingung mencari di mana letak ibadah para pengusung khilafah baik ISIS dan HTI. ISIS misalnya, tidak ada yang dilakukan kecuali membunuh orang tak berdosa, menteror kepemimpinan sah, mengolok-olok pemerintah, dan berbohong atas nama agama agar diyakini oleh orang-orang awam. Apa yang mereka perbuat selama hidupnya tidak ada nilai ibadah. Toh, ketika mereka berjuang atas nama jihad, jihadnya bukan untuk kemaslahatan umat, namun demi memenuhi nafsu politiknya. Ketika mereka bicara atas nama agama, mereka tak sadar bahwa yang disembah sebetulnya adalah khilafah. Khilafah menjadi tujuan mereka hiudp dunia, bukan ibadah kepada Allah. Apakah khilafah merupakan salah satu bentuk ibadah? Jawabannya jelas bukan. Sebab khilafah hanyalah produk zaman pada masanya, yang tak pantas diperjuangkan apalagi diimani oleh umat selanjutnya.

Sebaliknya, menolak khilafah yang diperjuangkan oleh ISIS dan HTI adalah sebuah amalan ibadah. Sebab mengapa? karena menolak khilafah adalah sebuah usaha untuk menolak adanya pertumpahan darah di tengah umat. Bangsa Indonesia diperjuangkan bukan hanya oleh umat Islam, akan tetapi oleh umat yang lain. Jika khilafah ditegakkan, pasti umat non Islam berada pada level ke dua, yang, jelas tidak akan mendapatkan keadilan di tengah-tengah kehidupan bangsa. Jika khilafah berdiri, maka superioritas umat Islam kepada umat yang lain akan semakin menjadi-jadi. Sementara Islam sebagaimana dipraktikkan oleh Nabi di tengah masyarakat Madinah, menempatkan semua umat dan golongan dalam tataran yang sama. Di Madinah yang terdiri dari umat Islam; Ansor dan Muhajirin, Nasrani, Yahudi, bahkan kaum pagan, mereka diperlakukan oleh Rasulullah sebagai umat yang sama. Bahkan, mereka selalu diikutsertakan dalam pembuatan hukum negara.

Menolak khilafah dan gagasan pengusungnya adalah sebuah keharusan yang mesti diemban oleh semua elemen bangsa, tidak terkecuali umat Islam dan generasi milenialnya. Menolak khilafah sama dengan menolak penindasan, kekerasan, perpecahan dan rasisme atas nama agama. Selain menolak khilafah umat Islam perlu membela bangsa, baik membela eksistensi kesatuannya, keragaman penduduknya, dan meneguhkan nilai-nilai toleransi untuk terbentuknya umat yang memiliki kesalingan satu sama lain dalam bidang apapun. Upaya menjaga bangsa tidak lain puncaknya adalah agar ibadah umat Islam dan umat lainnya berjalan dengan tentram dan tenang. Tidak salah jika menolak khilafah sebagai bentuk tuntunan agama, yang, dalam istilah Ushul Fikih masuk dalam kategori dar’ul mafâsid. Sementara membela bangsa masuk dalam kategori jalb al-masalih. Keduanya merupakan prinsip fundamental Islam dalam kaitannya ibadah umat Islam kepada Tuhannya. []

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!