Menolak Bias Tafsir Jihad Para Pengusung Khilafah

3
328

Jihad menjadi salah satu tema sentral yang selalu didengungkan kelompok pengusung khilafah seperti Hizbut Tahrir (HT), Front Pembela Islam (FPI), dan Jama’ah Anshor ad-Daulah (JAD). Bagi kelompok radikal ini, jihad merupakan puncak dakwah seorang muslim dalam menegakkan Islam. Rokhmat S. Labib eks Ketua HTI misalnya pernah menyebut, tidak akan pernah bisa menjalankan syariat Islam tanpa khilafah, dan tidak mungkin berdiri khilafah tanpa jihad.

Jihad merupakan dasar awal jika syariat Islam mau tegak di muka bumi. Tanpa jihad bagi kelompok radikal, maka Islam hanya fiktif. Jihad dalam perspektif kelompok radikal hanya bermakna jihad fisik, yaitu peperangan, berperang melawan musuh-musuh Islam yang menghalangi tegaknya syariat Islam. Jihad tak bisa dimaknai lebih luas, seperti jihad mencari rezeki, jihad melawan korupsi, dan lain sebagainya.

Salah satu ayat Al-Qur’an yang sering menjadi dalil kelompok radikal untuk melakukan jihad adalah QS. At-Taubah Ayat 73. Allah SWT berfirman yang artinya: “Wahai Nabi! Berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” Secara sepintas ayat ini terkesan membolehkan umat Islam melakukan kekerasan.

Apalagi jika tak memahaminya secara benar melalui kaidah-kaidah penafsiran Al-Qur’an. Rokhmat S. Labib eks Ketua HTI dalam Tafsir Al-Wa’ie misalnya memaknai maksud ayat di atas agar seluruh umat Islam melakukan jihad perang, demi tegaknya syariat Islam. Syariat Islam itu sendiri kata Labib, tidak bisa sempurna tanpa khilafah Islamiyyah. Sehingga ayat ini bermaksud umat Islam wajib berjihad demi tegaknya khilafah.

Nalar kekerasan tafsir kelompok radikal di atas cukup berbahaya dalam konteks keindonesiaan. Karena berpotensi melakukan kekerasan atas nama ayat Al-Qur’an dengan membunuh orang-orang yang tidak sependapat dengan konsepsi khilafah Islamiyyah yang diasumsikan mereka. Penafsiran Labib sarat dengan sikap radikal. Padahal bila melihat penafsiran ulama-ulama masyhur seperti Ibn Katsir ia menegaskan bahwa sebab turunnya ayat di atas manakala orang Islam sedang dalam kondisi berkecamuknya peperangan.

Sebagai penyemangat agar mereka bisa mempertahankan diri, Allah melalui ayat Al-Qur’an memberi pesan agar umat Islam bersemangat mempertahanka diri dari serangan musuh. Ibn Katsir secara tidak langsung menolak penafsiran eks HTI yang mengatakan ayat di atas sebagai perintah perang.

Ulama tafsir yang lain, seperti Imam Al-Qurthubi menegaskan hal yang sama, bahwa ayat di atas sejatinya memberi pesan damai. Karena peperangan yang diizinkan Allah kepada orang-orang Islam sebagai bentuk penjagaan diri dan sebelumnya selama 22 tahun umat Islam tidak dibolehkan melakukan peperangan. Ia bahkan menyebut, kalau tidak dalam kecamuknya peperangan bisa jadi ayat tersebut tidak diturunkan.

Karena pada dasarnya umat Islam tidak suka dengan peperangan melawan apapun.  Selama rentang waktu 22 tahun pasca kenabian Nabi Muhammad Saw, Islam belum memerintah umatnya untuk melakukan peperangan. Umat Islam diminta untuk menahan diri melakukan hal-hal yang bisa merugikan banyak pihak itu.

Dalam salah satu diskusi tentang ayat-ayat perang, Ainur Rofiq, Kaprodi Doktoral UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengomentari ayat-ayag perang dalam Al-Qur’an. Beliau menyebut QS. Al-Hajj Ayat 40 yang artinya: “(yaitu) orang-orang yang diusir dari kampung halamannya tanpa alasan yang benar, hanya karena mereka berkata, “Tuhan kami ialah Allah.” Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Mahakuat, Ma-haperkasa.”

Ayat di atas berbicara dalam konteks peperangan yang dilakukan oleh umat Islam dalam mempertahankan eksistensi Islam dan juga eksistensi agama-agama lain. Bahwa jikalau umat Islam tidak diizinkan melawan musuh dan mempertahankan diri, maka niscaya tempat-tempat ibadah seperti biara, gereja, bahkan masjid, semuanya akan dihancurkan sesuai maunya orang yang melakukan.

Yaitu timbul karena kebencian terhadap umat beragama lain yang dibiarkan tanpa pencegahan dan pertahanan. Sehingga agar tempat-tempat ibadah itu aman dan tidak rusak, maka Islam mengizinkan umatnya melakukan pertahanan atas tindakan radikal orang-orang kafir yang hendak mencederai eksietsni Islam dan umatnya.

Penafsiran ayat Al-Qur’an dengan maksud melakukan jihad secara opensif hanya dilakukan oleh kelompok radikal yang memang sejak awal fikiranya sudah radikal. Dalam kaidah tafsir, disebutkan bahwa produk tafsir tidak akan keluar dari sikap seperti apa yang dimiliki penafsiranya.

Bila penafsirnya objektif, memiliki paham yang lurus, maka produk tafsirnya pun lurus, sesuai dengan apa yang diinginkan Al-Quran. Sebaliknya, bila pribadi penafsirnya bobrok dan memiliki kecenderungan radikal, bahkan berpotensi bersikap teror, maka hasil interpretasinya sangat bias, mengizinkan umat melakukan kekerasan, dengan mengatasnamakan perintah Al-Qur’an. [Lufaefi]

3 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!