Menjajaki Nalar Takfiri Kelompok Jihadis-Teroris

0
110

Sangkhalifah.co — Ajaran takfiri sejatinya bukan ajaran baru dalam Islam. Bentuk dan modelnya bertransformasi cukup panjang menjejali ruang sejarah. Dinamika dan perdebatan wacana pun terjadi di kalangan ulama teologis dalam merespon persoalan ini. Hanya saja tidak banyak yang kritis melihat ruang pertarungan ideologi yang sebenarnya berasal dari satu pintu. Orang kalau ingin menelusuri jejak pemikiran takfiri, kembalilah buka sejarah lahirnya kaum khawarij.

Takfiri sendiri identik dengan pemikiran yang menghendaki muslim menjadi kafir atas sebab tertentu. Pada awalnya, takfir ini berlaku bagi mereka yang tidak sepaham. Tidak peduli itu dari kalangan pemimpin, hingga pengikut yang awam. Semuanya dibabat habis, disebutnya kafir apabila tidak sefaham. Di saat itulah, khawarij benar-benar menjadi ancaman bagi terjalinnya kerukunan bahkan di tubuh umat Islam sendiri.

Faham ini bermula ketika terjadi perlawanan terhadap langkah Khalifah Ali bin Abi Talib yang menerima ajakan tahkim pihak Mu’awiyah. Padahal, sejatinya hal itu dinilai langkah salah. Ibaratnya, sudah nyata-nyata Mu’awiyah memberontak mengapa harus diterima saat meminta damai? Begitu seketika pandangan khawarij yang awalnya merupakan pengikut setia Ali. Akan tetapi, langkah kebijakan Ali tetap dilakukan dengan wakil Abu Musa al-Asy’ari dan pihak Mu’awiyah diwakilkan kepada Amr bin Ash. Semuanya yang terlibat jelas sama-sama Islamnya.

Peristiwa tahkim pun berakhir dengan buntut kekecewaan pihak pendukung Ali yang akhirnya keluar, dan lahir sebagai khawarij. Mereka disebut khawarij, karena dinilai telah keluar dari barisan Ali. Tetapi, dalam hal ini masih ada alasan lain kenapa dinamakan khawarij. Di sini tidak perlu memperdebatkan soal itu. Pada intinya, khawarij menjadi simbol perlawanan nyata terhadap pemimpin yang saat itu dipegang oleh Ali bin Abi Thalib. Baik Ali, Mu’awiyah dan pihak-pihak yang terlibat hingga orang-orang yang menerima hasil tahkim kala itu semuanya kafir menurut khawarij. Takfir itu pun berimplikasi pada hukum halalnya darah seorang muslim saat itu. Puncaknya, perlawanan itu diwarnai pembunuhan sang khalifah dengan dalih membunuh orang kafir (Nasution, 2018: 8).

Pada perkembangan selanjutnya, di tubuh khawarij itu sendiri mengalami perpecahan. Permulaannya dimulai ketika terjadi perdebatan pendapat mengenai siapa yang Muslim dan siapa kafir. Masih seperti konsepsi awal, pada tahap ini takfir mengalami evolusi obyeknya yang menyasar pada pelaku dosa besar. Seorang pezina muhsan dan pembunuh misalnya, tanpa basa-basi dikafirkan dan kekal di neraka kelak. Masih menurut khawarij, perdebatan konsepsi takfir ini pun berlanjut masih di kalangan mereka sendiri. Dan pada akhirnya, secara bertahap pemahaman takfiri ini pun mengalami perubahan signifikan di tubuh sekte-sekte khawarij yang berkembang kemudian.

Melihat fakta sejarah di atas, tentu tidak seharusnya kita silau mata mengamati serangkaian peristiwa teror yang terjadi belakangan. Tidak perlu berdebat agama mereka, asal dari mana ajaran demikian. Sejarah di atas sudah cukup membuktikan, bahwa sesama muslim saja memungkinkan terjadinya pembunuhan. Hal ini berarti, kesalahan dalam menalar wacana agama itu sudah ada dan ditulis dalam berbagai fakta historis. Sehingga, pihak yang masih berdebat teroris beragama atau bukan perlu banyak membuka bacaan sejarah yang mencerahkan.

Boleh saja kalau mengatakan semua bermula dari nalar takfiri. Baiklah, jika demikian tentu harus adil ketika melihat wacana takfir itu sendiri. Sebab, bukan tak mungkin takfir sendiri memiliki konstruksi makna yang beragam dalam perkembangannya. Wacana takfir yang menjadikan pihak lain sebagai kafir sepertinya sangat laku bagi kalangan jihadis. Kalau sudah disebut kafir, otomatis jadi musuh. Maka jihad yang ditandai perang terhadap musuh wajib dan darah mereka halal hukumnya. Jika nalar demikian selalu digaungkan dengan legitimasi dalil agama, siapa yang tak tergiur kemudian.

Faktanya, tidak berhenti hingga di situ saja. Sebagian terduga teroris hingga eks teroris sekalipun ketika ditanya akan menjawab persis seperti narasi di atas. Lebih-lebih ketika semua tindakan tersebut dijanjikan ‘surga’ katanya. Lebih menarik lagi, para jihadis yang nekat mengakhiri hidupnya dalam aksi bom bunuh diri seketika akan dijemput 72 bidadari di surga. Dua hal yang selalu menggiurkan untuk diikuti oleh mereka yang terkena cuci otak para jihadis lainnya. Mereka pun menanamkan itu semua sebagai bagian dari keyakinan yang wajib dijalankan. Ibaratnya, keislamannya masih diragukan bila belum ada aksi dilakukan.

Oleh karenanya, sebelum menentukan opini yang berimbang ada baiknya menyempatkan waktu untuk bergelut dengan bacaan yang menyehatkan. Jangan sampai hanya termakan isu hoaks yang menyesatkan, kemudian menjadi jaringan penyebar di mana-mana. Karena itu, sudah saatnya era digital harus menjadi perantara untuk membangun nalar sehat yang berbasis narasi perdamaian. Sangat ironis, apabila rangkaian peristiwa terorisme itu, justru dijadikan isu untuk menyudutkan pemerintah dan aparat keamanan. [Abdul Fattah]

Leave a reply

error: Content is protected !!