Menjadikan “Zona Hijau” Radikalisme di Kalangan Anak Muda

0
586

Sangkhalifah.co — Dewasa ini, fenomena radikalisme berbalut agama semakin mencuat di Indonesia. Hal ini ditengarai oleh sikap fanatisme yang terhadap suatu agama. Keterpaparan radikalisme ini bukan hanya menjangkiti kalangan orang tua, tetapi juga menjangkiti kalangan anak muda, khususnya Generasi Milenial. Yakni suatu Generasi yang sangat akrab dengan internet dan menjadikan media sosial sebagai basis pengetahuan dan informasi. 

Sebagaimana menurut Azyumardi Azra (2017), bahwa kalangan anak muda adalah bagian masyarakat paling rentan terhadap pengaruh radikalisme. Kebanyakan pelaku aksi ekstrem dan radikal adalah anak muda-mereka yang berusia sejak dari 15 sampai 40-an tahun. Media sosial menjadi salah satu corong utama dalam melahirkan para aktivis radikal di Indonesia.   

Jika ditelaah dari berbagai penelitian ilmiah yang ada, kerentanan anak muda itu bersumber dari pribadi dan karakter yang belum mapan; lingkungan keluarga dan komunitas Muslim yang tidak kondusif dan suportif. Kerentanan anak muda ini kemudian dimanfaatkan kelompok dan sel radikal dan teroristik; mereka menjadikan anak muda sebagai target utama rekrutmen untuk melakukan program dan target mereka.

Bahkan gerakan mereka banyak yang sudah ke tahap aksi-aksi terorisme, sebagaimana aksi teror yang melibatkan remaja juga terjadi di Gereja Katolik Medan (28/8/2016), serangan terhadap polisi di Cikokol (20/10/2016), dan aksi dua remaja putri di Mako Brimob (10/5/2018). Hal tersebut, berawal dari pemahaman keagamaan yang sempit, dan sikap fanatisme beragama. Sehingga meniadakan sikap toleransi terhadap perbedaan pemahaman agama.

Kalangan anak muda atau generasi Milenial banyak belajar tentang agama melalui internet. Sedangkan saat ini wawasan keagamaan di internet dipenuhi oleh paham keagamaan dari kelompok puritan, yang cenderung melegalkan aksi-aksi radikalisme bahkan terorisme. 

Dalam sejarahnya, persoalan fanatisme seringkali menjadi tahap awal menuju aksi-aksi radikalisme. Aksi dan tindakan tersebut tergolong sebagai kejahatan extraordinary yang tidak hanya melibatkan persoalan politik keamanan, ekonomi, media, pendidikan, hukum, HAM maupun ideologi agama, tetapi juga melibatkan persoalan gender dan persoalan psikologi sosial.

Bahkan teori-teori yang ada dalam psikologi dapat menjelaskan masalah radikalisme, salah satunya yakni pandangan Freud mengenai agama yang terwakili melalui kondisi ilusi yakni sebuah cara pikir manusia yang terkontaminasi dengan realitas dan bukti yang bias. Teori mengenai agama dan ilusi yang digagas Sigmund Freud seperti dalam karyanya yang berjudul Obsessive Action and Religious Practice (1907), menjelaskan bahwa perilaku masyarakat yang beragama cenderung seperti tingkah laku pasien neurotiknya.

Dalam karya Freud yang lain, The Future of an Illusion (1961), ia banyak menyinggung bahwa agama sangat memiliki kaitan yang cukup erat dengan persoalan mentalitas manusia karena agama adalah produk sosial dan produk sejarah yang dapat mendorong ilusi. Alam bawah sadar dan kondisi ini dijumpai pada kepribadian manusia. Menurut Freud, kepribadian manusia sebagian besar terbentuk karena hadirnya pengalaman, sedangkan pengalaman membentuk mental seseorang hingga ke arah perkembangan halusinasi termasuk dalam sikap keberagamaan. Maka dari itu, pengalaman sosial keagamaan yang luwes dan toleran menjadi penting untuk selalu diupayakan oleh seseorang.   

Sedangkan menurut Amanah Nurish (2019), politik identitas merupakan instrumen yang turut menyumbang pada kondisi fanatisme dan polarisasi terhadap isu-isu keagamaan di Indonesia yang kemudian rentan menimbulkan aksi radikalisme. Sebagai negara yang mayoritas berpenduduk Muslim, Islam dipandang tidak hanya sebagai agama tetapi juga sebagai komunitas (ummat) yang mempunyai pemahaman, kepentingan dan tujuan-tujuan politik sendiri. Hal inilah yang seringkali menelurkan aksi-aksi radikalisme.

Berbagai aksi radikalisme terjadi biasanya berangkat dari fanatisme terhadap suatu ekspresi beragama. Seperti bias mayoritas dan minoritas agama yang ada di masyarakat, dan hal ini yang mengekalkan berbagai aksi radikalisme yang merugikan orang lain (masyarakat sipil).

Bahaya laten virus radikalisme di kalangan anak muda telah banyak menyebabkan kerugian, baik secara material maupun immaterial. Untuk itu, kedepannya kita harus mampu menjadikan Indonesia sebagai kawasan “zona hijau” terhadap virus radikalisme terutama di kalangan anak muda. Salah langkahnya adalah melalui penguatan pemahaman keagamaan yang moderat dan mendalam, dengan banyak belajar dari para ulama yang otoritatif secara keilmuan agama.

 Hal ini diharapkan agar kedepan kita bisa beragama secara rasional, tidak terdogma dengan hal-hal yang bersifat ilusif-tekstualis. Dengan dari itu pula, narasi moderasi beragama menjadi penting untuk terus digalakkan khususnya kepada kalangan anak muda. Hal tersebut diharapkan bisa menjadi vaksin agar dapat memutus mata rantai virus radikalisme. Karena sejatinya radikalisme adalah musuh bersama masyarakat Indonesia. []

*Ferdiansah, Pekerjaan: Peneliti di Institute of Southeast Asian Islam (ISAIs) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Leave a reply

error: Content is protected !!