Menjadikan Perbedaan Sebagai Semangat Merawat Keragaman Bangsa

0
206

Sangkhalifah.co — Indonesia dikenal sebagai bangsa yang penuh keragaman dalam banyak aspeknya. Aneka suku dengan budayanya masing-masing daerah menjadi satu di antara kekayaan bangsa ini. Melalui semboyan Bhinneka Tunggal Ika, setidaknya telah jelas betapa padunya keragaman yang ada di Indonesia. Dalam bahasa lain, dapat dikenal dengan prinsip unity in diversity (bersatu dalam perbedaan). Inilah fakta sosial yang terjalin pada bangsa Indonesia. Tentunya, ragam yang harmonis itu terbentuk dari perbedaan-perbedaan. Karena secara mendasar, perbedaan merupakan sunnatullah yang ada sebagai role model keragaman yang ada.

Secara teoretis, keragaman ini terbentuk oleh beberapa faktor. Pertama, letak strategis wilayah Indonesia. Kedua, kondisi negara kepulauan. Ketiga, perbedaan kondisi alam. Keempat, keadaan transportasi dan komunikasi. Kelima, penerimaan masyarakat terhadap perubahan (kompas.com, 2020). Beberapa faktor ini sangat relevan dengan fakta historis yang terjadi pada masyarakat Madinah pada awal perkembangan Islam. Setelah hijrahnya rasulullah Saw. ke Madinah, secara praktis terbentuk masyarakat yang baru di sana. Dalam bahasa populer, lebih dikenal sebagai masyarakat Madani.

Kedatangan rombongan Muhajirin dari Mekah, bukan perkara mudah bagi Anshar selaku penduduk asli Madinah. Maka, untuk menyatukan dua masyarakat yang notabene berbeda secara asalnya, perlu sebuah strategi. Rasulullah Saw. dengan kecerdikannya sebagai pemimpin umat berhasil mempersaudarakan keduanya. Implikasinya dapat terlihat, baik kaum Muhajirin maupun Anshar menjalin satu ikatan sosiologis yang saling terikat. Mereka menjadi satu kesatuan yang terikat oleh ukhuwah, yang mendorong untuk saling memberi, merelakan dan tolong menolong dalam segala kebajikan. Upaya ini, disempurnakan dengan disusunnya Piagam Madinah sebagai bentuk perjanjian saling menjaga perdamaian antar berbagai suku di sana (Shihab, 2011).

Dalam soal keragaman ini, tentu dikembalikan kepada prinsip kerukunan yang menjadi satu kesatuan pandangan bangsa. Jika kerukunan dapat terwujud, secara praktis perdamaian dapat dirasakan semua lapisan bangsa. Maka seringkali, terdengar ungkapan bahwa perbedaan itu dapat menciptakan rahmat atau kasih sayang. Dalam bahasa Arab, dikenal dengan al-ikhtilafu rahmatun (perbedaan itu merupakan rahmat). Sebenarnya ungkapan ini terinspirasi dari hadis nabi Saw. bahwa, “Perbedaan dalam ummatku adalah rahmat.” Meskipun oleh sebagian ulama dikatakan dho’if, namun hadis ini dinilai relevan dalam berbagai konteks zaman.

Ajaran tentang keragaman ini telah jauh dinarasikan oleh al-Qur’an pada 15 abad yang lalu. Secara tersirat dijelaskan bahwa secara universal dasar penciptaan manusia yang beragam suku bangsanya (QS. al-Hujurat [49]: 13). Keragaman itu harus disadari mengingat manusia tercipta dari satu bapak dan ibu yang sama. Hanya kemudian, manusia secara universal terbagi dalam suku dan bangsa yang bermacam-macam. Hikmahnya, mereka didorong untuk saling mengenal satu sama lainnya (Ibnu Asyur/26: 265). Ini menjadikan kedudukan manusia dinilai sama di hadapan siapa saja. Karenanya, hal ini harus disadari bersama sebagai sunnatullah yang begitu adanya.

Kunci utama untuk mendorong kesadaran akan keragaman dalam masyarakat adalah toleransi. Melalui sikap ini, berbagai bentuk diskriminasi di tengah kelompok, suku dan golongan akan lenyap seketika. Secara tidak langsung, kesadaran toleransi ini menjadi modal utama dalam memerangi isu radikalisme. Terlebih dalam hal ini, Islam selalu mengajarkan umatnya menghormati penganut agama lain untuk beribadah sesuai dengan keyakinan. Maka, jika demikian tentu seharusnya toleransi dalam satu agama harus diutamakan. Jangan sampai ada kata kafir-mengkafirkan sebagai sesama umat Islam. Ini justru akan mencederai dan menodai hakikat Islam sebagai agama perdamaian.

Toleransi dalam arti sempit, berarti mengakui eksistensi orang lain dalam hal perbedaan yang dimilikinya. Dalam arti luas, toleransi bukan saja mencakup ruang lingkup satu agama saja. Lebih dari itu, toleransi mengajarkan kesadaran untuk menghargai perbedaan apapun di tengah masyarakat yang beragam. Namun, secara praksis toleransi bukan berarti justifikasi terhadap perbedaan prinsipil yang diyakini oleh orang lain. Artinya, menyadari perbedaan itu sebagai sunnatullah lebih utama daripada sekadar mengaku toleran tapi tidak akurat dalam posisinya. Sehingga, dari perwujudan sikap toleransi itu dapat menciptakan kerukunan bersama dalam merawat keragaman bangsa. []

Leave a reply

error: Content is protected !!