Meninjau Kembali Tafsir Dukhon

2
159

Oleh: Muhammad Makmun Rasyid

Kelak hari, setiap manusia hanya berada pada dua tempat; surga atau neraka. Keduanya akan dirasakan manusia ketika dunia telah punah. Pertanyaan utamanya: kapan hari akhir tiba? Qur’an dan hadis yang ribuan itu tidak membicarakan sedikit pun tentang masa kedatangannya. Dalilnya jelas, mereka (orang-orang kafir) bertanya kepadamu tentang hari akhir, kapankah terjadinya? Siapakah kamu (maka)dapat menyebutkan (waktunya)? Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahan (ketentuan waktunya) (QS. Al-Nâzi’at [79]: 42-44).

Kasus serupa ditemukan dalam hadis. Misalnya, ketika Malaikat Jibril bertanya kepada Nabi Muhammad―pembawa agama Islam―tentang “kapan hari kiamat?” Nabi menjawab, “tidaklah yang ditanya hal tersebut lebih mengetahui dari yang bertanya”. Hadis populer ini menjadi dalil Islam terkait hari kelak.

Seseorang yang membaca Qur’an dengan pendekatan komprehensif-integratif tidak akan mengeluarkan pernyataan tentang kepastian hari akhir, walaupun pernyataan semisal “telah dekat hari kiamat dan telah terbelah bulan” (Qs. Al-Qamar [54]: 1) atau “telah dekat kepada manusia hari kiamat, sedangkan mereka dalam kelalaian, lagi berpaling dari Tuhan” (Qs. Al-Anbiyâ’ [21]: 1). Tapi konsep “dekat” manusia dengan Tuhan, pasti berbeda. Dalam hal ini, mufasir-mufasir Al-Qur’an tidak ada yang berani memastikannya.

Baca: Catatan Hitam Hizbut Tahrir: Teror dan Kekerasan

Mencermati redaksi Qur’an di atas, Quraish Shihab―pengarang Tafsir Al-Misbahmengartikan kata “dekat” dengan makna “pasti kedatangannya”. Hematnya, “segala yang akan datang adalah dekat, dan segala yang telah berlalu dan tidak kembali adalah jauh”. Dalam konteks ini, konteks “dekat” ada kaitannya dengan keimanan seseorang. Dari sini manusia langsung di instruksikan oleh Allah untuk melakukan perbuatan baik dalam hidupnya.

Pemaknaan ini berangkat dari sejarah turunnya surah Al-Mâ’un [107] ayat 1, tahukah kamu orang yang mendustakan al-Dîn? Riwayat-riwayat yang menyertai ayat itu dalam kitab-kitab tafsir berkenaan dengan sosok Abu Sufyan (atau Abu Jahl) yang memiliki kebiasaan menyembelih seekor unta setiap minggunya. Tiba-tiba, datanglah seorang anak yatim meminta sedikit hasil sembelihannya, dan Abu Sufyan mengusirnya dan menghardiknya. Dalam surah Al-Mâ’un pada kata “al-Dîn” ini bukan bermakna satu: “agama”―sebagaimana umumnya dipahami kaum Muslim, melainkan “pembalasan”. Penerjemahan ini seperti penerjemahan pada surah Al-Tîn [95] ayat 7, maka apa yang menyebabkan (mereka) mendustakanmu (tentang) hari pembalasan setelah (adanya keterangan-keterangan) itu? atau surah Al-Infithâr [82] ayat 9, sekali-kali jangan begitu! Bahkan kamu mendustakan hari pembalasan.

Dari perspektif itulah, konsep “dekat” dalam Qur’an terkait hari kiamat adalah konteks perintah hamba Allah untuk mempersiapkannya dengan keimanan yang kuat dan konsisten memanusiakan manusia―sebagaimana yang dimaknai oleh KH. Hasyim Muzadi. Dimana dustanya umat Nabi Muhammad adalah mereka yang mengetahui sesuatu yang pasti, tapi tidak mengimaninya dalam bentuk perbuatan baik.

Baca: Nalar Maqashid Al-Syari’ah dalam Diktum Pancasila

Tiba-tiba masyarakat Indonesia dihebohkan atas pernyataan Zulkifli Muhammad Ali yang menerangkan tentang dukhon (kabut asap) akan terjadi pada bulan Ramadan tahun 2020 ini. Di tengah wabah seperti sekarang ini, tentunya pernyataan ini menambah kekhawatiran masyarakat dan tidak elok diucapkan dengan pernyataan memastikan.

Pemaknaan Zulkifli Muhammad Ali ini bersebrangan dengan ayat 51-61 surah Yâsîn. Quraish Shihab memaknainya, “kiamat datang mendadak, bencana pun datang mendadak. Karena itu, setiap orang harus siap. Jangan sampai bencana datang dan tidak siap. Salah satu kebiasaan buruk pendurhaka ialah bertengkar satu dengan yang lain. Oleh karena itu, kiamat akan datang pada saat mereka bertengkar.” Dimana kiamat datang mendadak tanpa pemberitahuan kepada manusia seorang pun. Sebab, Nabi sekalipun tidak memberitakan tentang itu. Pengetahuan tentang kepastian hanya Allah yang tahu (Qs. Al-A’râf [7]: 187).

Benarkah Dukhon akan tiba pada bulan Ramadan? Mari kita kaji. Surah ini digolongkan dalam kategori Makkiyyah, yang terdiri dari 59 ayat. Dalam kajian Tafsir Al-Qur’an. Dukhon ini tidak bermakna tunggal. Dua kubu besar yang menonjol dalam kisaran penafsiran kata tersebut.

Pertama, kelompoknya Ibnu ‘Asyur yang mengutip keterangan Ibnu Qutaibah bahwa yang dimaksud dukhon adalah berkenaan dengan kondisi kelaparan yang dialami masyarakat Quraisy, karena kering yang berkepanjangan. Kejadian ini terjadi pasca hijrahnya Nabi ke Yatsrib (atau Madinah). Kala itu orang-orang Arab menyebut “debu (yang) beterbangan” dengan dukhon.

Mazhab ini didukung oleh Ibnu Mas’ud juga. Masruq―murid langsung Ibnu Mas’ud, menceritakan bahwa pernah ada seorang yang menceritakan tentang dukhon di Kindah. Akan datang di hari kiamat, lalu menyambar telinga dan orang Mukmin terkena pilek. Tiba-tiba Ibnu Mas’ud berucap, “siapa yang punya ilmu, silahkan bicara; siapa yang tidak punya ilmu, ucapkan Allahu a’lam”.

Baca: Formalisasi Syariah; Telaah Tafsir Al-Qurtubhi

Pendapat Ibnu Mas’ud ini ditemukan dalam Sahih Bukhari, Ketika orang kafir quraisy tidak mau masuk islam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan keburukan untuk mereka. Beliau berdoa, “Ya Allah, timpakanlah kekeringan kepada mereka, seperti kekeringan di zaman Yusuf.” Lalu mereka mengalami kekeringan, sampai banyak yang meninggal, lalu mereka makan bangkai, tulang. Sementara orang melihat di antara langit dan bumi (udara) seperti asap” (Hadis).

Kedua, mazhab Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Katsir dan lainnya. Untuk mewakili kalangan mufasir, Ibnu Katsir dalam Tafsîr Ibnu Katsîr menyertakan pendapat Ali bin Abi Thalib, dukhon belum terjadi, orang Mukmin akan menjadi seperti orang pilek. Lalu asap ini menghembus orang kafir sampai binasa. Setelah mengutip pendapat-pendapat terdahulu, ia melanjutkan:

وهكذا قول من وافقه من الصحابة والتابعين أجمعين، مع الأحاديث المرفوعة من الصحاح والحسان وغيرهما، التي أوردناها مما فيه مقنع ودلالة ظاهرة على أن الدخان من الآيات المنتظرة، مع أنه ظاهر القرآن

“Demikian pendapat masalah dukhan, dari kalangan sahabat, dan tabiin, disertai hadis marfu’, yang shahih, hasan, maupun yang lainnya, yang kami sebutkan, merupakan dalil yang  jelas bahwa Dukhan termasuk tanda kiamat yang masih ditunggu (belum datang), disamping itu sesuai dengan makna teks al-Quran.”

Dari dua mazhab di atas, mengkorelasikan pernyataan dukhon dengan mengidentikkannya pada Covid-19 adalah penafsiran yang tidak ditemukan sumber kesahihannya. Salah satu website www.bincangsyariah.com yang diasuh penggiat hadis telah membahas dengan baik perihal hadis yang beredar di media sosial. Dimana hadis yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud tidak bisa dijadikan pegangan atau legitimasi dalam memastikan kejadian perkara gaib itu pada bulan suci Ramadan ini.

Dengan demikian, masyarakat Indonesia tetap konsisten memegang pendapat ulama-ulama yang mu’tabarah dan jangan terpukau oleh pembahasan ustadh-ustadh yang tidak diketahui secara jelas sanad keilmuwannya. Semoga Allah selalu melindungi kita dari segala mara bahaya dan wabah ini segera sirna. []

Leave a reply

error: Content is protected !!