Meninggalnya Pimpinan Kelompok Terorisme tidak Meniadakan Akar Terorisme

0
204

Sangkhalifah.co — Kabar meninggalnya pimpinan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Ali Kalora dalam baku tembak dengan Densus 88 dan Satuan Tugas Mandago Raya di Pegunungan Desa Astina, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong ini merupakan kabar baik.

Dikatakan demikian karena, di bawah pimpinan Ali Kalora sejak tahun 2016, MIT menjadi salah satu kelompok teroris di Indonesia yang aktif melakukan berbagai aksi teror. Terakhir, kelompok mereka membunuh warga sipil di Poso pada tanggal 8 Agustus kemarin.

Antara Ideologi dan Aksi

Pada tahap ini, disadari atau tidak, kita sedang memasuki pada fase dilematis. Antara bahagia dan cemas bercampur aduk hingga tak tahu harus berbuat apa. Oleh karenanya, alangkah baiknya kita pisahkan antara embrio (ideologi) dan gerakan (aksi). Klasifikasi ini pada gilirannya akan menjadi obat (upaya) untuk menghilangkan rasa dilematis tadi.

Ma’mun Efendi Nur (2006) mengklasifikasi terorisme menjadi dua yaitu terorisme aksi dan terorisme ideologi. Disebut terorisme aksi yaitu, peristiwa yang sekarang terjadi puncak sorotan masyarakat berupa peledakan, penculikan, bom bunuh diri, pembantaian masal dan lain sebagainya. Sedang, terorisme ideologi (pemikiran/pemahaman) yaitu, dengan menjelaskan segala pemikiran menyimpang dan menyempal dari tuntutan agama yang benar misalnya, pembunuhan dan segala aksi teror lainnya.

Poin terakhir ini, agak senada dengan pandangan Lukman Hakim Saifuddin (2019), karena agama, apa pun dan di mana pun, memiliki sifat dasar keberpihakan yang sarat dengan muatan emosi dan subjektivitas tinggi, sehingga hampir selalu melahirkan ikatan emosional pada pemeluknya.

Bahkan, bagi pemeluk fanatiknya, agama dianggap sebagai “benda” suci yang sakral. Alih-alih menuntun pada kehidupan yang tentram dan menentramkan, fanatisme ekstrim terhadap kebenaran tafsir agama tak jarang menyebabkan permusuhan dan pertengkaran di antara mereka.

Dengan demikian, dapat dirumuskan bahwa terorisme ideologi merupakan cikal bakal munculnya terorisme aksi dan apabila tidak diberantas maka tentu akan menjadi ancaman serius. Jadi, embrio terjadinya aksi terorisme, dalam konteks ini, adalah kesalahpahaman dan kesalahtafsiran terhadap agama sehingga menimbulkan eksklusivisme yang kemudian menjadi pembenaran.

Meski demikian, menurut KH. Hasyim Muzadi (2009), perlu diketahui bahwa tak semua orang beragama yang fanatik dan ekslusif itu dikatakan teroris akan tetapi, apabila ia berbuat destruktif di luar dirinya misal, ia melakukan aksi terorisme maka ia disebut teroris.

Terorisme antara Fakta dan Upaya

Kini, isu-isu terorisme bukan rahasia umum lagi. Artinya, terorisme merupakan sebuah fakta. Oleh karenanya, diperlukan sebuah upaya sinergis untuk mewaspadai dan menghadapi ancaman terorisme sangatlah penting karena dampaknya begitu besar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Di lain sisi, peristiwa aksi terorisme di Indonesia memang hanya terjadi beberapa kali, korbannya tak mencapai 1000 jiwa akan tetapi, memandang terorisme tak bisa dilihat secara hitam dan putih melainkan, perlu dilihat secara holistik.

Begitu pula dengan peristiwa meninggalnya Ali Kalora sebagai pemimpin MIT. Kematiannya tidak boleh dipandang hitam dan putih. Perlu dilihat dari berbagai perspektif sehingga melahirkan upaya yang tepat dan cepat — yang diselaraskan dengan klasifikasi ideologi terorisme dan aksi terorisme di atas.

Jadi, upaya yang musti dilakukan terletak pada dua hal. Pertama, perlindungan warga negara dari serangan balas dendam dari kelompok MIT. Kedua, terlibatnya semua pihak terutama tokoh agama dalam proses deradikalisasi.

Artinya, jangan sampai permasalahan pemberantasan terorisme di Indonesia dibebankan kepada Polri-TNI. Dalam upaya pencegahan dan tindakan sekaligus yang bersifat aksi maka keberadaan Polri-TNI sangatlah efektif. Akan tetapi, jika berkaitan dengan ideologi maka peran tokoh agama yang paling dibutuhkan. Hal ini karena, ideologi hanya dapat dilawan dengan ideologi.

Akhirnya, meninggalnya pimpinan kelompok terorisme pada gilirannya membuka kran partisipasi masyarakat dalam upaya memberantas radikalisme-terorisme. [Saiful Bari]

Leave a reply

error: Content is protected !!