Menguji Argumentasi Hizbut Tahrir (Indonesia)

4
860

Sangkhalifah.co — Tiga terma yang rancu di jagad media sosial, yakni khalifah, khilafah dan khilafiyah. Terma khalifah adalah pemimpin atau seseorang yang menduduki sebuah jabatan tertinggi di sebuah negara; terma khilafah adalah sistem pemerintahan, yang di Indonesia salah satunya (selain Khilafatul Muslimin dan ISIS) disuarakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia; dan khilafiyah adalah perbedaan (bersifat umum). Ketiganya tiga sama dan memiliki konsekuensi yang berbeda-beda.

Terma khalifah di kalangan Muslim tidak memiliki perbedaan sama sekali. Status kewajibannya telah disepakati, namun yang berbeda (terdapat khilafiyah) pada aspek kriteria dan status agamanya. Adapun sistem khilafah tidak ada kewajiban mutlak atau absolut. Di internal kaum Muslimin terdapat khilafiyah (perbedaan) dalam memandang status sistem khilafah.

Dalam buku Mematahkan Argumen Hizbut Tahrir karya Ainur Rofiq Al-Amin ini diulas sebanyak 28 masalah yang terdapat di tubuh Hizbut Tahrir. Dari persoalan “kewajiban mendirikan khilafah” sampai bagaimana “meruwat aktivis Hizbut Tahrir Indonesia”.

Dalam konteks penegakannya, HT/HTI menganggap status khilafah bisa berubah dari status “wajib kifayah” menjadi “wajib ‘ayn”. Hizbut Tahrir menyatakan bahwa status “wajib kifayah pada suatu saat dapat berubah menjadi wajib ‘ayn. Semisal shalat jenazah yang semula hukumnya wajib kifayah, namun ketika yang ada hanya satu orang maka hukum shalat jenazah menjadi wajib ‘ayn.” Pendapat ini disandarkan pada pendapat Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al-Fatawa.

Konsekuensi dari ketiadaan sistem khilafah di semua negara di dunia ini, membuat Hizbut Tahrir (Indonesia) menyatakan semuanya berdosa. Berikut petikan narasi resmi HT/HTI, “bagi seorang Muslim, berdiam diri atau tidak ikut serta berusaha mengangkat seorang khalifah merupakan suatu perbuatan yang diancam dengan dosa yang amat besar”. Maksud dan makna pengangkatan khalifah dalam perspektif HT/HTI berbeda dengan mayoritas Muslim se-dunia. HT/HTI menganggap terma khalifah hanya diperuntukkan bagi seorang pemimpin dunia bukan untuk wilayah atau seperti pemimpin Negara Indonesia saat ini.

Tidak saja berdosa, tapi bagi pemerintah dan orang-orang yang menghalangi akan mendapatkan balasan yang setimpal. Pernyataan ini dikutip Ainur Rofiq dari hasil kesepakatan Mukhtamar Ulama di Jakarta pada 21 Juli 2009. Ulama yang berkumpul hanyalah aktivis-aktivis dari kalangan HTI saja. Penggunaan istilah “ulama” sekedar untuk membius masyarakat. Kesepakatan dalam mukhtamar itu menurut Ainur mirip dengan fenomena ketika dirinya masih berada di HTI. Menurutnya, dahulu di Universitas Airlangga, para aktivis HTI yang mendengar orang-orang yang mengkritik, memusuhi dan menghalangi agar dicatat dan ketika kami (aktivis HTI) menguasai Airlangga maka orang-orang itu akan di black list untuk diberikan hukuman. Model sejenis ini diberlakukan oleh semua aktivis dan tokoh Hizbut Tahrir se-dunia.

Mengapa mereka terus menyuarakan penegakan khilafah? Menurut HT/HTI pula, kekosongan khilafah hanya berlaku 3 hari 3 malam, maka pasca keruntuhan khilafah tahun 1924, umat Muslim telah berdosa selama 95 tahun lamanya. “Suatu dosa yang begitu panjang seusia manusia dari suatu kewajiban yang bukan termasuk rukun Islam, apalagi rukun iman”. Demikian pernyataan Ainur Rofiq.

Kesalahpahaman HT/HTI berasal dari kesalahan memahami status teks dan penggunaan teks dalam Islam. Sebab itu, di kitab-kitab mereka selalu terdapat model berfikir jumping to conclusion. HTI tidak menerima argumentasi yang menyatakan bahwa Qur’an dan hadis hanya memberikan panduan dan nilai-nilai sebuah pemerintahan. Bagi HTI, sistem khilafah (pemerintahan) ini tidak bisa ditawar-tawar. Walaupun hingga detik ini, tawaran HTI itu hanya dianut segelintir Muslim di dunia. Sebab itu pulalah, Ibnu Taimiyah menurut Qomaruddin Khan—sebagaimana yang dikutip Ainur—meragukan validitas pendapat kekhalifahan berasal dari Al-Qur’an dan sunnah atau bahkan latar belakang sejarah empat sahabat Nabi, yang dianggapnya tak lebih dari sekedar aksiden semata.

Menurut Ainur Rofiq, ragam dalil yang dijadikan HT/HTI dalam kewajiban khilafah, mulai dari Qur’an hingga “ijma’ sahabat” sangat rancu. Namun model “menakut-nakuti” membuat orang yang tidak mengerti akan terhipnotis dan ikut menjadi bagian HT/HTI tanpa sadar. Setelah masuk mereka seakan-akan paling berjasa dalam memperjuangkan agama dan mulailah menganggap yang diluar HT/HTI tidak berislam secara totalitas atau kaffah. Salah satunya adalah ketiadaan upaya membangkitkan semangat orang untuk menegakkan khilafah dianggap memiliki “pemikiran yang dangkal”. Ainur mengutip Taqiyuddin mengatakan, “pemikiran yang dangkal tidak akan membawa kebangkitan bahkan merupakan pembaca bencana bagi umat manusia”.

Aroganisme berpikir dan berorganisasi telah terbenam dalam jiwa-jiwa aktivis HT/HTI. Narasi semisal “hasil karya pilihan Hizbut Tahrir kesemuanya berasal dari Islam, tiada darinya sesuatu yang dari luar Islam, dan juga sama sekali tidak dipengaruhi anasir non-Islam dan atas itu semua, hasil karya Hizbut Tahrir tersebut adalah berlandaskan olah fikir yang matang” merupakan sebuah pembius dan pintu masuk dalam menyakinkan orang di luat HT/HTI. Padahal sebenarnya, apa-apa yang dilakukan HT/HTI sama sekali tidak merepresentasi agama Islam dan tidak semuanya benar. Misalnya konsep kudeta, ini aktivitas HT/HTI yang tidak dibenarkan dalam Islam. Dan contoh-contoh lainnya yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Taqiyuddin Al-Nabhani, tokoh dan aktivis HTI tidak sadar—atau sadar tapi pura-pura pikun—bahwa sebab demokrasilah mereka semua terselamatkan. Dan hanya di negara model nation-state lah mereka bisa leluasa menyebarkan paham yang salah tapi dianggap benar oleh HT/HTI. Di Indonesia misalnya, HTI terus menunggangi demokrasi untuk kendaraannya dalam menggapai tujuannya, dan siapa-siapa yang menghalanginya akan mendapatkan hukuman bila sistem khilafah tegak di Indonesia. Lalu, masihkan HTI dibiarkan tanpa penanganan yang serius?

Silahkan baca buku ini secara lengkap untuk menjadi amunisi khalayak dalam meluruskan kesalahpahaman masyarakat yang sudah terdoktrin dan terkena virus khilafah ala Hizbut Tahrir Indonesia. []

4 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!