Menguatnya Kelompok Intoleran di Tengah Momentum Kemerdekaan

1
266

Sangkhalifah.co — Di tengah momentum kemerdekaan Indonesia yang ke-75 ternyata tak mengendurkan langkah laju kelompok-kelompok intoleran, jika memang tak mau disebut sebagai kelompok anti Pancasila. Meskipun bendera merah putih turut dibentangkan di depan rumah-rumah warga sejak awal bulan Agustus namun bagi mereka (kelompok intoleran) tak ada signifikansinya baik menyangkut diri dan kelompoknya. Bukankah ini cukup memprihatinkan?

Tentu fenomena tersebut cukup memprihatikan. Bagaimana mungkin kita sebagai anak bangsa dan sekaligus turut menikmati hasil buminya tak sedikit pun menaruh rasa syukur pada merdekanya Indonesia. Bersyukur atas kemerdekaan Indonesia cukup sederhana yakni dengan mengakui kebhinekaan. Karena kebhinekaan merupakan suatu hal yang inheren bagi Indonesia. Pendeknya, siapa saja yang tinggal dan menikmati hasil buminya maka, ia harus mengakui dan menghormati keberagaman yang ada terutama di tengah momentum kemerdekaan.

Sayangnya, sikap anarkis yang terjadi baru-baru ini di Solo menandaskan bahwa intoleransi kerap terjadi walaupun dalam momentum kemerdekaan. Ini artinya, kelompok intoleran ini tidak mengenal waktu dan tempat untuk melancarkan aksinya.

Kejadian di Solo, presekusi terhadap keluarga Habib Umar Assegaf dan juga terhadap keluarga yang sedang melakukan perhelatan midodareni, hanyalah contoh tindakan teror anarkis yang terus menguat. Jika kita ikuti pewartaan yang ada maka, dapat diketahui bahwa motif pelakunya justru semangat untuk “Berbakti kepada Tuhan.”

Semangat yang demikian ini dapat diartikan suatu keyakinan seseorang untuk “Berbuat baik kepada Tuhan” dengan cara (menurut keyakinan mereka): membasmi yang (mereka yakini sebagai) bathil dan yang kafir. Biasanya, semangat ini tak dilandasi oleh pemahaman keagamaan yang kuat dan bersanad. Maka jangan heran, sekali lagi, intoleransi beragama terus menguat di negeri ini.

Jamak diketahui, intoleransi beragama merupakan suatu kondisi jika suatu kelompok secara spesifik menolak untuk menoleransi amaliyah para penganut kepercayaan yang berlandaskan agama. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana cara kita mengenali wujud intoleransi ini?

Mengenali wujud intoleransi ini cukup mudah. Meminjam bahasanya Muhammad Makmun (2020), intoleransi itu wujudnya simpel: melihat orang lain melakukan amaliyah yang tidak ia mufakati, langsung marah. Curiga orang lain menganut aliran yang ia cap salah, langsung marah. Dengan pandangan yang sempit inilah maka tak ayal, jika kekerasan berlatar belakang agama kerap kita jumpai.

Sebab, menurut Lukman Hakim Saifuddin selaku mantan Menteri Agama RI (2019), karena agama, apa pun dan di mana pun, memiliki sifat dasar keberpihakan yang sarat dengan muatan emosi dan subjektivitas tinggi, sehingga hampir selalu melahirkan iktan emosional pada pemeluknya. Bahkan, bagi pemeluknya, agama dianggap sebagai “benda” suci yang sakral. Alih-alih menuntun pada kehidupan yang tentram dan menentramkan, fanatisme ektrim terhadap kebenaran tafsir agama tak jarang menyebabkan permusuhan dan pertengkaran di antara mereka.

Ini artinya, mereka menggunakan “Islam” sebagai “Topeng” saja untuk menutupi watak buruk dan perilaku jahat mereka. Slogan-slogan yang mereka dengungkan: “Umat Islam adalah saudara” adalah hanya tipu daya semata.

Kelompok intoleran, bagi penulis, akan terus ada dan akan terus melancarkan aksinya atau mengobrak-abrik orang-orang yang mereka anggap berseberangan dengan jalan pikiran sesat dan tindakan konyol mereka, tak peduli apakah ia adalah muslim atau bukan, habib atau bukan, kiai atau bukan. Mereka ini sejatinya, meminjam bahasanya Ian Wilson (2019), adalah segerombolan preman yang berkedok agama.

Jika kelompok-kelompok intoleran ini tidak segera diatasi maka bukan hal mustahil Indonesia akan terganggu eksistensinya. Hal ini karena; jika ulama, habib, dan tokoh muslim saja mereka serang, apalagi yang bukan ulama, bukan habib, bukan tokoh muslim?

Dengan demikian, dalam rangka menjaga dan merawat eksistensi Indonesia terutama saat “Agustusan” dari menguatnya kelompok intoleran ini merupakan kewajiban bagi kita semua. Sebab, jika kita tengok sejarah berdirinya Indonesia, kemerdekaan yang kita nikmati hari ini bukanlah diperoleh dengan berlutut kepada penjajah melainkan kemerdekaan yang direbut melalui perang. Akhirnya, di tengah momentum kemerdekaan Indonesia yang ke-75 dan di tengah berlangsungnya proyek-proyek reformasi maka, kita harus menyadari bahwa intoleran itu merupakan musuh bersama. Maka dari itu, sejatinya tidak ada tempat bagi mereka di negeri ini. []

*Saiful Bari, Alumnus Ilmu Hukum Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!