Mengkritisi Dakwah Provokatif Jel Fathullah

0
170

Sangkhalifah.co — Berdar sebuah video yang dirilis oleh Tazkiyah Media berisikan ceramah singkat dari seorang penceramah bernama Jel Fathullah tentang syarat taat kepada pemimpin. JF ini mencoba menafsirkan surah al-Nisa ayat 59.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ  فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا

Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

JF menijau dari sisi struktur linguistik ayat, dalam ayat tersebut tata kepada pemimpin tidak menggunakan athi’u tapi hanya kata penguhubung (athaf) yaitu waw. Menurutnya ini menunjukan bahwa ketaatan kepada pemimpin tidak mutlak, seperti ketaatan kepada Allah dan rasul. Taat kepada ulil amri yaitu ketika berhubungan dengan taat kepada Allah dan Rasulnya saja, kalau mereka tidak taat, maka tidak wajib seseorang taat kepada ulil amr-nya.  Statmen ini ditujukan untuk menghantam kebijakan yang ingin diambil Gus Yaqut sebagai Menteri Agama, yaitu mengafirmasi keberagamaan Syiah dan Ahmadiyah. JF menganggap kedua kelompok itu sesat, sehingga mengafirmasinya pun adalah kesesatan. Bahkan JF menganggap Gus Yaqut orang yang tidak paham agama, sehingga akan sangat berbahaya menjadi menteri agama. Sehingga kita tidak wajib taat kepada Menteri Agama.

Para mufasir berbeda pendapat terkait siapa ulil amr dalam ayat di atas, ada yang menyebutkan pemimpin negara, penegak hukum, ulama, sahabat nabi, khulafa rasyidin, dan lain sebagainya. Memang semua sepakat bahwa ketaatan kepada Allah dan Rasul adalah mutlak tanpa syarat, dan ketaatan kepada ulil amr adalah ketaatan dengan syarat, yaitu tidak bertentangan dengan ketetapan serta ketentuan Allah dan Rasul. Penafsiran ini pun diafirmasi oleh Quraish Shihab, bahwa wajib taat kepada ulil amr itu jika diperintahkan dalam kebaikan. Tapi jika diperintahkan dalam hal yang tidak baik, maka tidak boleh ditaati, tapi harus dinasihati, kritik yang membangun dan jangan mencaci. Berbeda dengan JF, bukan menasihati tapi malah mencaci, ini adalah adab yang buruk terhadap pemimpin.

Tidak ada satu ayat pun dalam Alquran yang memerintahkan untuk kita mencela pemimpin. Sebagai contoh saja, banyak pemimpin zalim yang disebutkan dalam Alquran seperti Fir’aun, Namrud dan lainnya. Lalu Allah kirimkan kepada mereka para nabi, bukan untuk mencela dan menghina, tapi untuk menasehati mereka. Bahkan sekaliber Fir’aun saja, Musa dan Harun diperintahkan untuk berkata baik dan lemah lembut (QS. Thaha: 43-44). Para nabi diperintahkan untuk berdialog dengan mereka. Ini yang luput dari Ustad JF. Itu yang pertama.

Yang kedua, terkait afirmasi bergama kelompok Syiah dan Ahmadiyah. Gus Yaqut sudah memberikan penjelasan bahwa dia tidak akan memberikan keistimewaan kepada kelompok tertentu. Tapi dia akan memberikan hak kepada mereka warga negara Indonesia termasuk dalam menentukan pilihan keagamaannya. Apa yang dilakukan oleh Gus Yaqut hanya ingin menjalankan amat Undang-Undang saja. Bukankah kebebasan berkeyakinan dan beragama (KBB) sudah diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28 E Ayat (1) dan (2) serta pasal   29 Ayat (2)? Itu kebebasan berkeyakinan dan beragama, apalagi menentukan afiliasi mazhab. Jangan sampai karena mazhabnya didiskriminasi, menyebabkannya hak kenegaraannya terampas. Dan itu sudah terjadi. Mereka kaum minoritas terusir dari tempat tinggal yang menjadi hak mereka, hak mereka terampas oleh penjahat yang menggunkan jubah agama. Kita harus bertanya kepada yang terhormat Ustad JF, apakah merampas hak orang adalah kebaikan?

Bukankah pemberikan hak itu adalah kebaikan? Bukankah kita diperintahkan taat kepada ulil amr yang memerintahkan kepada kabaikan? Justru sebenarnya Ustad JF terjebak dengan ucapannya sendiri. Hanya karena kebencian kepada kelompok tertentu yang dianggapnya sesat, sehingga ia silau menilai mana kebaikan dan mana keburukan. Memang tidak sedikit masyarakat umum bahkan penceramah ulung yang terjabak pada isu miring Ahmadiyah dan Syiah.

Inilah yang terkadang mereka jadikan landasan untuk menilai kedua kelompok ini. Sehingga kedua kelompok minoritas diintimidasi, didiskriminasi bahkan sampai dipersekusi. Mereka tidak mau mencari kebenaran yang sesungguhnya. Ini juga problem keberagaman kita. Tidak mau mencari membuktikan isu yang berbedar yang belum tentu benar. Padahal agama memerintahkan kita mengkonfirmasi (tabayun). Sehingga penilainnya tidak kabur. [Beta Firmansyah]

Leave a reply

error: Content is protected !!