Menghindari Pengajian-Pengajian Yang Berbau Radikalisme

0
71

Salah satu yang dapat melatarbelakangi seseorang terpapar radiakalisme adalah salah paham terhadap ajaran agama. Yusuf Qardhawi dalam buku Jihad dalam Islam menyebut, tindakan radikal dan bahkan teror satu di antara sebabnya adalah memahami agama secara literalistik dan tekstual. Dalam buku Terorisme dan Agama yang ditulis oleh Muhammad Ilyasin juga menegaskan fakta ini. Bahwa, seseorang yang terpapar radikalisme karena cenderung tertutup dalam memahami agama. Apa yang dipelajari terbatas dan anti terhadap dialog.

Tak sekadar teori, fakta demikian juga terbukti terjadi pada salah seorang terduga teroris yang dua minggu lalu tertangkap oleh Densus 88 bernama Naufal Faris (NF) asa Jakarta Selatan. Dikutip oleh CNN Indonesia, saudara NF mengakui kalau NF seminggu sekali mengikuti pengajian di sebuah daerah di Jakarta Timur, tepatnya di Condet, termasuk dengan salah seorang yang dipanggil ‘habib’ dan juga menjadi DPO terduga teroris. Ia menegaskan kalau NF baru ngaji dua minggu setelah kemudian DPO teroris.

Fakta ini sebetulnya bukan rahasia umum. Bahwa, ada sementara orang yang karena kekuasaan ingin mendirikan negara Islam versi yang diyakini, seperti JAD, HTI, ISIS, bahkan FPI, menggelar pengajian-pengajian yang mendorong para jamaahnya untuk melakukan tindakan-tindakan yang bernilai radikal, bahkan teror. Direktur BNPT, Brigadir Jenderal (Pol) Hamli, dalam salah satu dialog di Universtias Lampung pun mengiyakan, bahwa ada sekelompok orang yang memanfaatkan pengajian untuk mendoktrin para jamaahnya melakukan tindakan radikal seperti bom bunuh diri.

Hal pertama dan sederhana yang perlu dideteksi adalah pengajian-pengajian yang tertutup dan tidak terbuka untuk umum. Konten-konten yang disampaikan bersifat doktriner dan menekan jamaah untuk melakukan sesuatu yang kelihatannya merupakan ajaran agama, tetapi nyatanya tidak. Seperti memusuhi non muslim, membenci pemerintah yang sah, mengkampanyekan khilafah Islamiyyah, dan paling penting gemar menyalahkan bahkan mengkafirkan orang lain yang tidak satu pengajian. Pengajian-pengajian seperti ini perlu dicurigai dan jangan gampang kita terperangkap di dalamnya.

Kedua sebagai deteksi dini atas pengajian-pengajian yang berbau radikalisme adalah mengajarkan kontranarasi terhadap pilar-pilar kebangsaan. Pengajian ini umumnya menolak Pancasila karena dianggap bukan ideologi Islam, NKRI sebagai sistem yang ditolak Islam, dan UUD sebagai produk hukum kufur sebab tidak ada di dalam Islam. Nilai-nilai kebangsaan tidak diterima dengan alasan bertentangan dengan Islam. Pengajiannya mudah sekali melontarkan kata “kafir”, “taghut”, “musyrik”, yang semuanya membuat hari merasa ingin brontak. Padahal, pengajian yang benar semestinya membuat hati tenang dan tentram.

Tips yang lain yang dapat dimiliki agar terhindar dari pengajian-pengajian yang mendorong untuk melakukan radikalisme dan terorisme adalah memiliki daya kritis dan selalu skepstis terhadap apa-apa yang diajarkan di dalam suatu pengajian. Tanyakan apa alasan dan mengapa ajaran-ajaran yang berbau radikal harus dilakukan yang padahal itu bertentangan dengan nilai-nilai Islam sebagai agama yang harus toleran terhadap perbedaan (QS. Al-Hujurat Ayat 13) dan pluralism (QS. Al-Baqarah ayat 251) serta hal-hal lain yang dirasa tidak sejalan dengan prinsip agama Islam yang damai, mendamaiakan, dan mengedepankan persatuan.

Tips lain yang juga penting untuk diperhatikan agar tidak terjebak kepada radikalisme dan terorisme melalui wadah pembelajaran adalah memilih dan memilah ustaz dengan menanyakan kepada guru-guru pesantren yang berafiliasi kepada minimal Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Tips ini mungkin remeh, tetapi urgen karena diyakini kalau ulama-ulama dari kedua organisasi Islam tersebut pasti toleran dan tidak membuat atau mengarahkan kepada guru atau pengajian yang berbau radikalisme dan terorisme.

Artikel ini tidak ingin mengatakan bahwa setiap pengajian atau diskusi keislaman menjuru kepada radikalisme. Tidak. Tetapi, kelompok-kelompok radikal seperti JAD, ISIS, HTI, FPI dan sebagainya gemar mengadakan pengajian-pengajian Islam untuk menipu masyarakat agar mau bergabung dengan gerakannya. Memang symbol-simbol pengajiannya terlihat islami, tetapi materi pengajian yang disampaikan biasanya bermuatan kebencian, permusuhan, dan menolak perbedaan. [Lufaefi]

Leave a reply

error: Content is protected !!