Menghadirkan Pancasila di Tengah Sengkarut Formalisasi Syariat Islam

0
121

Sangkhalifah.co — Pancasila telah menemani perjalanan bangsa Indonesia. Berjalan bersama merangkul semua golongan anak bangsa yang diikat dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Meski demikian, Pancasila terus digerogoti oleh para pengasong formalisasi syariat Islam yang menciptakan berdirinya negara Islam dan Khilafah Islamiyyah. Pancasila dituduh sebagai ideologi taghut, yang dibuat untuk menentang legalisasi formalisasi syariat Islam di ruang publik. Situs muslim.or.id yang dikelola oleh kelompok kanan ekstrim bahkan menyebut, Pancasila menjadikan generasi bangsa toleran pada LGBT dan pergaulan bebas.

Tuduhan-tuduhan kelompok ekstrim radikal (terhadap Pancasila) yang mengkampanyekan formalisasi syariat Islam seperti HTI, ISIS, FPI, JAD, dan sesamanya, merupakan tuduhan yang tidak berdasar. Sebab Pancasila dibuat bukan untuk menentang agama, akan tetapi meneguhkan sikap bangsa Indonesia yang beragama untuk meneladani sikap persatuan, kemanusiaan, musyawarah dan keadilan yang merupakan sila-sila Pancasila. Sebagaimana ungkapan Gus Dur, “Pancasila bukan agama, bukan pula digunakan untuk menentang agama. Kedudukannya tidak bertentangan dengan agama.”

Akhir-akhir ini gaung sengkarut formalisasi syariat Islam terus menyeruak di ruang publik. Medan media sosial digunakan oleh kelompok ekstrim untuk meracun generasi milenial dengan mendukung formalisasi syariat dan menolak Pancasila. Satu di antaranya yang beberapa hari lalu sempat viral, adalah pernyataan Khalid Basalamah, yang menganjurkan agar anak-anak tidak menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan menggantikannya dengan surah Al Falaq dan An Nas. Pernyataan Khalid seolah-olah benar dan paling mendukung agama, tetapi esensinya telah sesatkan publik, mempertentangkan antara kebangsaan dan keislaman.

Pahlawan sekaligus ulama terkemuka KH Hasyim Asy’ari pernah menegaskan, “agama dan nasionalisme tidak bertentangan. Keberadaan keduanya saling menguatkan.” Gagasan Hadratussyaikh ini dibenarkan oleh ulama-ulama terdahulu, misalnya seperti An Nawawi dalam Marah Labid, yang mengatakan bahw beragama tanpa berbudaya akan sulit menyebarkan dakwah. Pun sebaliknya, budaya tanpa nilai agama akan terasa kering tanpa ruh spiritual. Para ulama kita sepakat bahwa Islam dan kebangsaan adalah dua hal yang tidak bisa dipertentangkan. Keduanya saling menguatkan.

Di tengah sengkarut formulasi syariat yang acap kali disampaikan dengan cara-cara kekerasan oleh pelakunya, terus menghadirkan ruh Pancasila adalah sebuah kemestian. Mahfud MD menyebut bahwa Pancasila merupakan kesadaran filsafat hukum dan sumber kesadaran berbangsa dan bernegara.

Pancasila merupakan ideologi yang mempersatukan. Hanya dengan menghadirkan nilai-nilai lima sila Pancasila kampanye formalisasi syariat Islam akan tertolak oleh sendirinya. Sebab, formalisasi syariat bersifat ekslusif, sedang Pancasila inklusif. Formisasi syariat Islam berpotensi tumbuhkan sikap intoleran, sedangkan Pancasila hadirkan nilai-nilai toleran.

Menolak formulasi syariat di ruang publik, Yudi Latif dalam Wawasan Pancasila, menyebut bahwa Pancasila merupakan Civil Religion. Bagi Yudi, Pancasila adalah “agama” yang hadir di tengah masyarakat Indonesia yang kedudukannya bukan untuk menggeser agama-agama yang sudah ada. Secara epistemologi, Yudi mendasari Pancasila sebagai Civil Religion dari preseden Piagam Madinah yang dibangun di atas entitas politik negara bangsa. Madinah didirikan di atas entitas yang berbeda-beda, seperti Muslim, Yahudi, Nasrani, Pagan, dan lain sebagainya, untuk tujuan yang satu, yaitu persatuan dan kesatuan.

Seperti Piagam Madinah, adalah Pancasila, yang keduanya merupakan konstitusi yang dibentuk di atas keragaman anak bangsa demi tujuan hidup bersama yang lebih berperadaban. Piagam Madinah hadir di tengah negara Madinah untuk menyatukan semua elemen masyarakat Madinah.

Pancasila hadir di tengah bangsa Indonesia untuk menyatukan suku, ras, golongan, dan pemeluk agama serta keyakinan. Baik Pancasila maupun Piagam Madinah, secara ontologis, tujuannya adalah sama, yaitu sama-sama mencari titik temu dalam hidup di tengah keragaman. Sebab itu, demi cinta-cita persatuan dan kesatuan, menghadirkan nilai-nilai Pancasila dalam laku lampah setiap anak bangsa adalah sebuah kewajiban. [Lufaefi]

Leave a reply

error: Content is protected !!