Menggagas Moderasi Beragama Sebagai Perisai Ancaman Radikalisme

0
538

Sangkhalifah.co — Sebagai bangsa yang besar, Indonesia layak berbangga diri atas kekayaan yang dimilikinya. Bukan saja kaya atas kandungan alam, melainkan juga kaya akan keragaman tanpa mempersoalkan perbedaan. Indonesia sebagai negara yang pluralistik merupakan rumah bangsa yang begitu majemuk diibaratkan seperti kain perca yang indah setelah tersusun bersandingan. Layak pula Indonesia disebut seperti pelangi yang begitu indah setelah hujan yang mengguyur bumi. Wajar bila banyak menyebut bahwa Indonesia seperti sekeping surga di bumi.

Bicara tentang keragaman, Indonesia boleh dibilang juara. Pasalnya, Indonesia benar-benar kaya akan budaya dan suku bangsa. Tidak berhenti begitu saja, Indonesia juga memiliki ratusan dialek dan bahasa daerah yang jarang dimiliki bangsa lain. Seperti dikutip dari indonesia.go.id, data hasil survei BPS tahun 2010 menyebutkan bahwa Indonesia memiliki lebih dari ratusan etnik atau suku bangsa. Lebih tepatnya ada di angka 1340 etnis suku mewarnai kehidupan bangsa Indonesia. Sedangkan bahasa daerah di Indonesia mencapai 718 bahasa (kompas.com, 2020). Ini merupakan kekayaan yang bukan main dan wajib dijaga.

Untuk menjaga Indonesia sebagai rumah bangsa yang cukup besar ini harus dengan langkah besar. Tidak cukup hanya ditulis dan diucapkan. Menjaga Indonesia berarti menjaga seluruh tumpah darah Indonesia dari segala ancaman dan tantangan baik intern maupun ekstern. Indonesia butuh kesanggupan setiap bangsanya mengakui bukan sekadar mengaku. Menyebut bangga bukan sebatas pernyataan. Akan tetapi, setiap bangsa harus siap berbuat konkret dalam membela tanah air. Tanpa membedakan agama, ras, maupun etnis yang ada, Indonesia akan tumbuh dalam perdamaian bila semuanya mampu memahami dan memberi pengertian satu sama lainnya.

Salah satu upaya yang perlu dikembangkan dalam bela negara adalah penerapan moderasi beragama dalam hidup berbangsa. Secara substantif, sebenarnya moderasi bukan merupakan hal yang baru bagi bangsa ini. Maka sangat relevan bila dalam beberapa tahun terakhir ini, Kementerian Agama gencar mempromosikan pengarusutamaan moderasi beragama. Gagasan moderasi beragama kemudian menemukan momentumnya, saat ekstremisme, radikalisme, dan intoleransi mewabah di tengah masyarakat (kemenag.go.id, 2019). Sehingga, kedudukan moderasi beragama bak angin segar yang memberikan solusi atas persoalan bangsa yang berkutat pada empat hal tersebut.

Moderasi beragama merupakan cara pandang dalam mengamalkan agama secara moderat. Moderasi beragama di sini bukan hanya berbasis satu agama tertentu. Namun, dalam praktiknya moderasi beragama harus menjadi pintu dan inspirasi dalam menyatukan pandangan untuk merajut kerukunan antar sesama. Moderasi bukan berarti berlepas diri untuk menjustifikasi segala hal yang nampak. Bukan pula mengadopsi segala hal yang dimiliki liyan sebagai pengakuan. Akan tetapi, dalam rangka interaksi sosial sebagai bangsa layak mengakui titik persamaan dalam rangka menggapai perdamaian bersama. Titik pertemuan antara ekstrem dan kecenderungan terhadap satu sisi itulah yang disebut moderasi.

Indikator Moderasi Beragama Menurut Kemenag RI

Untuk menjadikan moderasi beragama sebagai world view dalam hidup berbangsa, harus dipahami lebih dalam apa saja yang melingkupinya. Karena konsep moderasi beragama bukan hanya sekadar susunan dua kata. Lebih dari itu, konsep ini harus ditelaah secara tepat dan dihayati untuk diaplikasikan. Sebagai abstraksi, moderasi beragama akan melihat bagaimana seorang pemeluk agama mengamalkan keyakinannya secara moderat.

Keberhasilan moderasi beragama dapat diukur dari empat indikator utama. Keempatnya dapat dijadikan pangkal tolak ukur sejauh mana seseorang dapat dikatakan berhasil mengamalkan moderasi beragama. Pertama, komitmen kebangsaan seseorang menjadi satu hal penting dan mendasar perilaku moderasi. Komitmen tersebut dapat ditunjukkan dengan kesetiaan terhadap landasan konstitusional negara berupa UUD 1945 beserta turunannya. Kedua, toleransi terhadap sesama dalam rasa satu bangsa di wilayah NKRI. Dalam keberagamaan, toleransi bukan justifikasi yang secara total membenarkan untuk turut mempraktikkan ritual keyakinan orang lain misalnya. Akan tetapi, toleransi dalam beragama tetap mengedepankan prinsip pokok agama dan meletakkan spirit keberagamaan yang moderat sebagai cara pandang. Toleransi beragama juga berarti sikap untuk saling dan terbuka dengan adanya keragaman agama dengan pemeluknya masing-masing.

Ketiga, moderasi juga dapat ditampilkan dalam sikap anti kekerasan. Karena kekerasan dalam bentuk apapun akan berdampak negatif terhadap orang lain dan jelas dilarang agama maupun negara. Sikap radikal disebutnya, baik secara verbal, tulisan, maupun aksi yang hanya intoleran misalnya tetap berlawanan dengan prinsip moderasi. Sehingga, upaya untuk menghindari kekerasan harus dilandasi wawasan keberagamaan yang selaras dengan prinsip kebangsaan dalam lingkup spirit perdamaian. Dan terpenting, al-Qur’an pun mengajarkan tidak boleh sekali-kali mengejek atau merendahkan agama lain dalam koridor apapun (QS. al-An’am [6]: 108).

Keempat, penerimaan terhadap tradisi yang telah ada dan berkembang di Indonesia. Dikenal sebagai negara yang kaya akan tradisi, Indonesia tentu berupaya untuk menjaganya. Upaya menerima dan bahkan mengadopsi dalam perayaan atau praktik keberagamaan sekali pun menjadi hal biasa yang semestinya terjadi di Indonesia. Kewajaran inilah yang harus menjadi tolak ukur penerimaan masyarakat terhadap tradisi tersebut. Dalam bentuk apapun, tradisi tetap harus dijaga dan diterima sebagai kekayaan bangsa. Tanpa tradisi, seringkali keberadaan masyarakat justru mudah terberangus oleh pengaruh infiltrasi budaya lain. Maka, tradisi bukan sekadar kekayaan melainkan juga sebagai identitas masyarakat untuk lebih dikenal di kancah nasional bahkan internasional.

Terlepas dari agama apapun, tradisi hampir selalu mewarnai beriringan dengan perkembangan suatu agama di Indonesia. Merawatnya dinilai lebih bijak daripada sekadar meluruhkan tradisi yang telah dibawa oleh nenek moyang sejak dahulu. Secara turun temurun apa yang terkandung dalam tradisi merupakan nilai-nilai kearifan lokal dan budaya positif yang membentuk jati diri bangsa. Di sinilah letak pentingnya mengapa harus menerima tradisi sebagai bagian dari moderasi beragama. Oleh karenanya, menerima tradisi harus selaras dengan tujuan merawat kerukunan bangsa.

Mengutip Al Yudra (2019) bahwa penerimaan tradisi dan budaya lokal melayu oleh Islam menjadi faktor kemudahan ajarannya mudah diterima. Islam dikenal sebagai agama yang inklusif. Dalam perkembangannya begitu terbuka menerima banyak hal. Salah satunya adalah tradisi apapun yang terdapat di daerah akan mudah diakomodasi oleh Islam. Syaratnya, tradisi maupun budaya tersebut tidak bertentangan dengan prinsip dasar akidah dan tauhid Islam itu sendiri (republika.co.id, 2019). Sehingga, dengan memahami keempat indikator moderasi beragama tersebut bukan tak mungkin kerukunan bangsa ini akan selalu terjaga meskipun diterpa berbagai ancaman intoleransi maupun radikalisme. [Abdul Fattah]

Leave a reply

error: Content is protected !!