Mengenang Kang Jalal: Sang Rausyanfikr Nusantara

0
179

Sangkhalifah.co — Sebelum mengenal tulisan-tulisan Cak Nur dan Gus Dur, saya sudah lebih dulu akrab dengan tulisan-tulisan Kang Jalal. Sebelum membaca buku-buku Harun Nasution, Kuntowijoyo, Moeslim Abdurahman, dan Quraish Shihab, saya sudah lebih dulu terpesona dengan karya-karya Kang Jalal. Sebelum menelaah karya-karya Komaruddin Hidayat, Amin Abdullah, Musa Asy’arie dan Azyumardi Azra, saya telah lebih dulu terpikat dengan karya-karya Kang Jalal.

Membaca buku-buku Kang Jalal itu ada semacam kenikmatan dan kebahagiaan intelektual. Bahkan ada kegairahan dan kehangatan intelektual tersendiri yang tidak saya temukan pada kaum intelektual lainnya. Sampai sekarang, tatkala mengenang tulisan-tulisan Kang Jalal, saya masih bisa merasakan aroma kebahagiaan dan kehangatan intelektual ini. Tak seorang cendekiawan pun yang bisa mewakili gaya tulisan Kang Jalal yang unik-autentik.

Saya pernah bertemu dengan Kang Jalal dua kali, sekitar tahun 2003. Saat itu, saya masih menempuh Strata Satu (S1) di IAIN Raden Fatah Palembang. Kebetulan ada acara bedah buku Kang Jalal yaitu Dahulukan Akhlak Di Atas Fikih dan Psikologi Agama yang diadakan di aula auditorium kantor dinas Gubernur Palembang. Saya ‘mbolos’ kuliah untuk menghadiri dua acara tersebut. Saya bawa beberapa buku-buku Kang Jalal, seperti Islam Alternatif, Islam Aktual, Reformasi Sufistik, Psikologi Komunikasi, Retorika Modern, Psikologi Agama, Jalaluddin Rakhmat Menjawab, Catatan Kang Jalal, dan beberapa bukunya yang lain.

Saya datang lebih awal. Jam 7.30 tepat saya sudah ada di lokasi. Tidak lama kemudian Kang Jalal datang bersama Istri dengan di antar panitia. Saat melihat Kang Jalal secara langsung dari dekat saat itu, saya merasa bahagia sekali. Peserta yang hadir masih sedikit sekali. Saya langsung membuntuti Kang Jalal dari belakang menuju tempat duduk paling depan. Ketika Kang Jalal dan Istrinya sudah duduk sebentar, saya langsung mendekati dan menyapa beliau. Saya mengenalkan diri bahwa saya penikmat dan pengagum karya-karya beliau. “Saya bawa buku-buku Kang Jalal ini. Bolehkah saya minta tandatangan Kang Jalal?”, pinta saya dengan lembut.

Dengan santun dan penuh keceriaan, beliau menjawab, “Ohh boleh. Alhamdulillah masih ada orang yang senang baca buku saya yah.” Semua buku yang saya bawa di tandatangani oleh Kang Jalal. Tapi dalam buku Psikologi Komunikasi, Kang Jalal tidak menorehkan tandatangan, melainkan sebuah pesan humanis: You can be everything, the most important thing is however, how to be human! Setelah itu saya sempat ngobrol sebentar dengan beliau. Di akhir obrolan, pesan beliau yang masih saya ingat adalah: terus belajar, jangan pernah berhenti belajar.

* * *

Saya mengenal karya-karya Kang Jalal, panggilan akrab Jalaluddin Rakhmat, memang agak terlambat. Kang Jalal sudah sangat tersohor pada pertengahan tahun 1980-an sebagai salah seorang cendekiawan Muslim yang diperhitungkan dalam jagad keilmuan nusantara dengan karya cemerlangnya: Islam Alternatif. Tapi buku Kang Jalal yang pertama saya baca justru buku Reformasi Sufistik.

Buku ini berisi tulisan-tulisan singkat Kang Jalal yang pernah dimuat dalam Majalah Ummat. Secara global, dalam sebagian besar tulisannya Kang Jalal selalu mengawalinya dengan sebuah kisah sesuai dengan tema yang dibahasnya. Kemudian beliau menarik pesan moral secara kontekstual dengan berbagai problematika yang sedang aktual, sehingga kisah-kisah itu menemukan relevansinya.

Kesan yang masih membekas dalam benak saya sampai hari ini, adalah kehebatan Kang Jalal dalam menghubungkan kisah-kisah yang digulirkannya dengan beragam persoalan aktual. Kang Jalal bukan hanya fasih menggunakan puspa ragam frase yang sangat indah, tapi juga mampu menyengat kesadaran kita. Seringkali di tengah-tengah mambaca, saya harus berhenti sejenak, karena tersentak dengan sebuah wawasan brilian yang tak pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya.

Setiap kisah yang dinarasikannya, selalu kontekstual, relevan dan menemukan aktualitasnya dalam merespons masalah-masalah aktual. Walaupun berbagai kisah-kisah itu sudah berlalu ribuan tahun silam, dengan sentuhan pena seorang Jalaluddin Rakhmat, kisah-kisah klasik itu terasa benar-benar hidup, hadir, dan menyapa kehidupan yang tengah kita jalani hari ini.

Saya benar-benar terpesona. Saya benar-benar takjub. Saya kagum dengan kepiawaian Kang Jalal yang mampu membungkus pesan-pesan yang bernas dengan bahasa yang ringan namun sangat berbobot maknanya. Anehnya, setelah rampung membaca buku Reformasi Sufistik itu, ketika membaca sebuah kisah lain, saya tiba-tiba mampu melihat pesan moralnya. Anehnya lagi, sejak saat itu juga, saya jadi bisa menulis, terutama dalam membingkai pesan-pesan moral dari beragam kisah-kisah ulama klasik. Sejak hari itu sampai hari ini, saya sudah menghasilkan tujuh buku yang berisi pesan-pesan moral dari berbagai kisah yang saya tulis.

Melihat semua itu, tiba-tiba saya teringat ungkapan pujangga besar Libanon, Kahlil Gibran: “Kekaguman adalah pintu pertama yang akan mengantarkan engkau sampai pada apa yang engkau kagumi”. Secara metaforis, kekaguman autentik itu laksana cahaya terang yang menerobos masuk ke dalam labirin-labirin gelap dan mampu memperlihatkan serpihan-serpihan mutiara yang tersembunyi di dalamnya, sehingga mutiara itu menjadi tampak bersinar pula.

Kekaguman saya pada kehebatan dan kemahiran Kang Jalal dalam merangkai pesan-pesan moral-aktual dari pelbagai kisah, mengilhami saya sekelumit kemampuan membingkai pesan-pesan moral-spiritual dari beragam kisah dalam bentuk tulisan juga. Jadi harus saya akui dengan jujur, buku Reformasi Sufistik itulah, salah satu buku pertama yang telah menginspirasi saya menjadi penulis secara otodidak. Setelah itu, saya memburu semua buku-buku Kang Jalal; Bahkan sampai hari ini. Semesta terima kasih saya haturkan kepada Kang Jalal yang telah menginspirasi saya menulis meskipun beliau tidak mengetahuinya.

* * *

Secara global, Kang Jalal memiliki keistimewaan tersendiri dalam mengartikulasikan ide-idenya dibandingkan cendekiawan kita lainnya. Beliau bukan hanya begitu fasih membungkus wacana-wacana keislaman secara ekspresif-inspiratif, tapi juga sangat artikulatif-komunikatif. Barangkali karena salah satu kompotensinya dalam bidang ilmu komunikasi, nyaris semua tulisan-tulisannya begitu komunikatif. Ketika membaca tulisan-tulisan Kang Jalal, seakan-akan kita sedang berdialog secara langsung dengan beliau. Seakan-akan kita tengah berhadap-hadapan langsung dengan penulisnya. Seakan-akan kita sedang diajak ngobrol secara langsung oleh Kang Jalal; Tapi bukan sembarang obrolan, melainkan obrolan yang mencerahkan nalar.

Itulah alasannya, beliau seringkali menggunakan kata-kata “Anda” sebagai mitra komunikasi dalam sebagian besar tulisan-tulisannya. Dengan kata-kata “Anda”, kita diajak berkomunikasi langsung secara intelektual oleh Kang Jalal.

Tapi lebih dari itu, di dalam tulisan-tulisan Kang Jalal, kita juga akan menemukan struktur berpikir logis dalam berargumentasi dan sistematis dalam menarasikan setiap wacana pemikiran. Tatkala membaca buku-buku Kang Jalal, saya merasakan sekali, struktur logika yang sangat rasional dalam narasa-narasi yang diartikulasikannya.

Menariknya, struktur logika itu mampu diekspresikan secara sistematis sekaligus komunikatif. Tahapan-tahapan argumentasi yang dibangunnya, akan membuat kita mau tidak mau mengangguk-anggukan kepala sebagai tanda setuju. Sampai di sini, dengan membaca buku-buku Kang Jalal, secara tidak langsung kita akan diajarkan untuk berpikir logis dan sistematis. Dan itu pada gilirannya akan mewarnai tulisan-tulisan kita juga untuk bernarasi secara logis, sistematis, sekaligus komunikatif.

Satu lagi keunikan yang saya temukan pada tulisan-tulisan Kang Jalal adalah tidak jarang di tengah-tengah wacana yang digulirkanya ia menyuguhkan sesuatu yang bersifat jenaka. Entah beliau sedang membahas suatu wacana tasawuf yang sangat serius; Entah sendang membahas suatu pemikiran filsafat yang amat sophisticated; Entah tengah mendiskusikan persoalan-persoalan politik dan pendidikan yang kompleks; Entah tengah mendiskusikan hukum Islam yang rumit, seringkali ditengah-tengah tulisannya beliau menyuguhkan kejenakaan-kejenakaan yang bersifat spontanitas.

Namun kejenakaan-kejenakaan yang digulirkan oleh Kang Jalal bersifat intelektual, bukan kejenakaan murahan atau amatiran. Seringkali ditengah-tengah kenikmatan membaca buku-buku Kang Jalal, saya tertawa terpingkal-pingkal dengan jok-jok yang diselipkan oleh beliau ditengah-tengah tulisannya. Saat itu, saya harus berhenti sejenak. Sebab tawa itu justru mengajak saya semakin merenung lebih dalam tentang makna yang dibungkus oleh Kang Jalal dalam selubung kejenakaan. Karena itu, kejenakaan yang digulirkan Kang Jalal bukan kejenakaan murahan, tapi kejenakaan cendekia. Sebuah kejenakaan yang sarat dengan makna moral, intelektual, bahkan spiritual.

Akan tetapi di atas segalanya, Kang Jalal juga merupakan seorang cendekiawan yang selalu gelisah dengan kenyataan yang menyimpang. Kang Jalal selalu mengkritisi jagad intelektual nusantara yang timpang. Beliau mengkritik paradigma intelektual yang terlalu fiqh-oriented. Beliau mengkritik paradigma intelektual yang terlalu siyasi-oriented. Beliau juga mengkritisi wacana intelektual yang terlalu melangit dan melupakan kaum marginal. Beliau benar-benar menjelma sang Rausyanfikr, seorang cendekiawan yang terlibat dengan realitas dan peduli dengan kenestapaan kaum papa, kaum fakir-miskin, kaum mustadh’afin.

* * *

Untuk mengenang Sang Rausyanfikr Nusantara ini, dalam kesempatan ini, izinkan saya menayangkan secara singkat salah satu gagasan mutakhir Kang Jalal mengenai konsep Islam madani atau agama madani. Dalam perspektif Kang jalal, secara global ada tiga paradigma pemahaman keislaman di Indonesia. Pertama, Islam fiqhi. Paradigma Islam fiqhi lebih memusatkan perhatian pada ajaran fiqih yang dipraktikkan sehari-hari. Islam menjadi sangat ritual. Kesalehan diukur dari pengamalan-pengamalan ritualistik. Pemahaman ini umumnya cenderung hanya memandang kelompoknya yang benar dan orang lain salah. ”Islamnya itu rahmatan limutamadzhibin atau rahmat bagi mazhabnya saja,” kata Kang Jalal.

Pada awalnya, dalam Islam fiqhi, agama tidak merasa perlu membangun hubungan organis dengan negara. Agama hanya minta jaminan agar negara memberikan kebebasan kepada umat beragama untuk beribadah. Dalam paradigma Islam Fiqhi, negara tidak berhak mengatur urusan-urusan partikular, kecuali yang menyangkut kehidupan publik, misalnya mengenai perayaan Hari Lebaran.

Singkatnya, ada semacam pembagian tugas bahwa negara hanya mengatur urusan publik, dan agama mengatur masalah-masalah privat. Dengan kata lain, dalam Islam Fiqhi, agama memiliki wilayah sendiri, di bawah naungan para ulama. Agama hanya sewaktu-waktu saja memerlukan negara, jika itu menyangkut urusan banyak orang. Tapi lambat laun pada prakteknya, mereka begitu terobsesi untuk mengatur semua wilayah privat umat, sehingga seringkali menganggap negara perlu memfasilitasi pengaturan legal mengenai berbagai isu-isu yang bersifat privat.

Hal ini bisa dilihat pada munculnya gejala syariahisasi perda-perda di beberapa daerah. Hampir semua isinya sebagian besar menyangkut urusan privat, misalnya mengenai pemakaian jilbab. Jadi di sini, Islam Fiqhi melakukan lompatan untuk mengatur urusan privat umat Muslim melalui hukum positif negara. Ini artinya, menjadikan negara sebagai instrumen politik untuk menyelenggarakan urusan partikular dan privat umat Muslim. Menurut Kang jalal, lompatan ini menjadikan Islam Fiqhi satu langkah lebih dekat ke paradigma kedua yakni Islam Siyasi atau Islam Politik.

Dalam paradigma Islam Siyasi, agama harus menguasai negara. Islam Siyasi memusatkan perjuangannya untuk merebut kekuasaan lewat konsep negara Islam, menegakkan syariat Islam, atau mendirikan khilafah. Jadi negara harus diatur secara total oleh agama. Seluruh prosedur kenegaraan, perilaku state, tata pemerintahan, semuanya harus ditentukan oleh agama.
slogan bombastis yang diteriakkan oleh Islam siyasi adalah Islam rahmatan lil muslimin, Islam menjadi rahmat dan keselamatan untuk seluruh umat Islam.

Jika Islam fiqhi menjadikan hukum-hukum Islam atau Syariat Islam sebagai topik utamanya, pada Islam Siyasi, topik utamanya adalah ideologi, yakni “ideologi Islam”. Namun dalam Islam siyasi terdapat banyak varian karena perbedaan pandangan mereka dalam melihat bagaimana ajaran Islam harus diterapkan di wilayah publik. Ada yang akomodasionis terhadap tatanan kenegaraan yang berlaku, dan karena itu mereka berintegrasi di dalam sistemnya, misalnya dengan menjadi partai politik Islam. Ada pula yang pendekatannya rejeksionis, bahkan menolak seluruh otoritas politik yang ada, sehingga mereka bergerak di luar sistem, di luar prosedur parlementer, bahkan terkadang menjalankan proyek-proyek kekerasan sebagai kelompok-kelompok teroris.

Tapi dalam tilikan Kang Jalal, satu hal yang sebetulnya mempersatukan mereka adalah pandangan bahwa Islam harus mengatur masyarakat secara keseluruhan, mengatur negara secara keseluruhan. Tidak semua mereka bersetuju mengenai bagaimana cara pengaturan masyarakat dan negara, misalnya menyangkut pilihan apakah mereka akan memberlakukan hukum-hukum Islam menjadi hukum positif negara, atau di luar itu, yakni dengan membangun komunitas-komunitas Muslim di luar negara. Untuk memberikan ilustrasi tentang banyaknya macam varian Islam Siyasi, kita bisa melihat perbedaan antara, misalnya PKS, Hizbut Tahrir, Majelis Mujahidin, DI, kelompok-kelompok Salafi, juga percabangan gerakan-gerakan Ikhwanul Muslimin.

Paradigma ketiga, Islam madani. Menurut Kang Jalal, Islam madani adalah sebagai agama warga negara yang referensi subjektifnya didasarkan pada doktrin agama masing-masing kelompok agama, tetapi yang kemudian ditarik nilai-nilai obyektifnya sebagai seperangkat norma universal yang bisa di-share bersama. Dengan kata lain, agama sipil atau agama madani merupakan titik temu universal agama-agama, dari mana norma-norma etis yang bersifat general yang berasal dari ajaran masing-masing agama, dirumuskan bersama sebagai common denominator.

Bila kita harus menyebut sejumlah nilai-nilai universal yang menjadi perhatian utama Islam madani, maka paling tidak kita dapat menginventarisir beberapa nilai berikut ini: prinsip keadilan, kasih sayang, kebajikan universal (al-khoir), saling tolong menolong, etika sosial (akhlaq) persamaan di depan hukum, Hak asasi manusia, simpati dan empati, kedamaian, kebebasan, keselamatan, dan lain-lain. Idealnya, nilai-nilai universal inilah yang semestinya menjadi panduan, guiding principles dalam menjalin relasi sosial kemanusiaan antar sesama anak bangsa di ruang publik kenegaraan.

Jadi wacana Islam madani berpusat pada kebajikan universal dan kasih sayang kepada sesama manusia sehingga Islam menjadi rahmat bagi semua orang, rahmatan lil’alamin. Kesalehan sosial diukur dari kadar cinta seseorang kepada sesama umat manusia yang bersifat universal. Setiap pemeluk agama bisa memberikan makna dalam kehidupannya dengan berkhidmat pada kemanusiaan. Jika Islam fiqhi itu berkutat pada urusan fiqih dan Islam siyasi pada persoalan politik, Islam madani berpusat pada karakter, pada akhlak sosial, pada kebajikan di ranah kemanusiaan universal. Tujuannya untuk membangun etika sosial yang baik pada sesama manusia dalam kehidupan yang majemuk.

Dalam konteks ini, Kang Jalal mengakui dengan terus terang bahwa di samping terinspirasi oleh Jean-Jacques Rousseau, ia juga terilhami oleh Nurcholish Madjid mengenai konsep kalimat al-sawa (titik temu bersama), yakni prinsip tentang perlunya agama-agama bertemu pada suatu kesepakatan nilai bersama untuk berkhidmat pada Tuhan yang sama demi kemaslahatan umat manusia. Inilah inti gagasan Islam Madani. Dalam kerangka seperti ini, semua agama memiliki kedudukan yang sama dalam rangka untuk menyumbangkan nilai-nilai kebajikan universal dan bersekutu bersama untuk memperjuangkannya dalam tataran publik.

Selanjutnya, Kang Jalal juga mengakui bahwa pemikiran untuk memperkenalkan Islam dalam paradigma sebagai agama madani didasarkan pula pada kerangka metodologis yang diperkenalkan Kuntowijoyo untuk mengubah umat Islam dari cara berpikir subjektif ke level objektif. Dengan kerangka ini, cara berpikir objektif tentang agama tidak memerlukan pertimbangan-pertimbangan teologis tentang benar salahnya agama lain.

Dengan demikian, seperti dikatakan Kuntowijoyo, agama-agama lain tidak memerlukan pembenaran teologis secara Islam untuk menjamin eksistensinya masing-masing di tengah masyarakat Islam. Bahwa agama lain ada secara objektif, cukuplah bagi umat Islam. Umat Islam tidak perlu repot-repot berpikir tentang kedudukan teologis agama lain dalam Islam. Perubahan cara berpikir subjektif ke objektif di sini berarti pengakuan sepenuhnya bahwa agama yang ada di luar itu ada secara objektif. Dan inilah yang menjadi dasar bagi eksistensi bersama, dasar dari pluralisme agama-agama.

Akan tetapi, Islam madani juga merupakan penemuan personal Kang Jalal sendiri dalam petualangan intelektualnya selama ini. Dengan menggunakan perspektif psikologi agama, Kang Jalal menyoroti tiga macam model keberagamaan. Pertama, keberagamaan yang bersifat “intrinsik”, dimana nilai-nilai agama dijadikan pedoman untuk memahami berbagai peristiwa hidup. Yang kedua, keberagamaan “ekstrinsik”, yaitu yang menggunakan agama untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Ketiga, adalah keberagamaan yang selalu mencari (searching), mode keberagamaan yang bersifat “inquisitif”, yang biasanya lahir karena tipe keberagamaan intrinsik, untuk hidup berdasarkan agama. Orang yang memiliki keberagamaan secara intrinsik akan mengalami proses pemikiran yang membuat ia terus mencari, karena agama ia ambil sebagai pedoman hidupnya.

Berdasarkan perspektif psikologi agama tersebut, Kang Jalal menilai bahwa pencarian dirinya dalam menemukan Islam sebagai agama madani, pada kenyataannya merupakan tahap logis berikutnya, setelah dirinya menganut dua jenis paradigma keagamaan sebelumnya, yakni Islam Fiqhi dan Islam Siyasi. Tentu saja tahap pemikiran keagamaan ini muncul dari interaksi berbagai macam pikiran dan pemahaman terhadap konteks sosial politik yang terus berubah di Indonesia.

Referensi kontekstual ini didasarkan pada evaluasi atas pendekatan berbagai macam paham keagamaan terhadap negara. Bagi Kang Jalal, Islam tidak bisa terus tampil secara pasif-eksklusif untuk mengurusi urusan-urusan partikular umat saja, sebagaimana selama ini dikerjakan dengan pendekatan Islam Fiqhi. Demikian pula, Islam tidak mungkin terus menerus melakukan pendekatan politik yang aktif-konfrontatif untuk memperjuangkan kepentingan-kepentingannya sendiri, sebagaimana selama ini diperlihatkan dari pendekatan Islam Siyasi.

Bagi Kang Jalal, cara yang terbaik adalah menerapkan pendekatan yang aktif-inklusif, dan bersama kelompok-kelompok lain berpartisipasi membangun sistem sosial-politik Indonesia yang bersifat universal sehingga mampu menaungi semua kepentingan warga negara yang berbeda. Pada puncaknya, agenda Islam madani bertujuan untuk kemaslahatan umat manusia yang lebih luas. Sebuah agenda yang tidak lagi berdasarkan pada latar belakang ras, suku, bahasa, budaya, warna kulit, keyakinan dan agamanya, melainkan bermuara pada ranah kemanusiaan universal.

Pada titik ini, saya pikir sudah saatnya paradigma Islam madani ini bisa menjadi salah satu perspektif alternatif yang dimiliki oleh masyarakat secara luas dalam rangka membangun hubungan harmonis antar seluruh anak bangsa. Hari ini, sebagai umat Islam kita tidak bisa lagi hanya melakukan klaim sepihak di ruang publik tentang keistimewaan konsep-konsep teologis. Sebab keistimewaan Islam akan dinilai oleh semua pihak dari sejauh mana kontribusinya dalam mengentaskan kemiskinan dan kejumudan, mengurangi ketertinggalan dan kebodohan di ruang publik kebangsaan.

Hari ini, kita tidak dapat lagi hanya melakukan klaim sepihak secara publik mengenai kemuliaan ajaran-ajaran Islam. Sebab kemuliaan ajaran Islam akan diukur oleh semua pihak dari kemampuan kita dalam meniupkan spirit kebersamaan dan persatuan, kerukunan dan kedamaian dalam tataran negara bangsa Indonesia. Hari ini, kita tidak mungkin lagi hanya melakukan klaim sepihak di ruang publik tentang kehebatan agama Islam. Sebab kehebatan Islam juga akan dilihat oleh semua orang dari kesanggupan umat Islam dalam memberi sumbangsih konkret dalam aspek kemajuan, kemakmuran, dan kesejahteraan bagi semua warga negara yang berada di bawah payung besar Indonesia tanpa melihat latar belakang budaya, warna kulit, ras, suku, etnis, keyakinan dan agamanya. []

*Dr. Zaprulkhan M.Pdi, Dosen IAIN SAS Bangka Belitung

Leave a reply

error: Content is protected !!