Mengenal Motif-Motif Terorisme untuk Membendung Gerakan Radikal-Ekstrem

0
245

Sangkhalifah.co — Terorisme telah menjadi ancaman serius. Bukan hanya bagi bangsa Indonesia, tetapi bagi dunia secara umum. Pasalnya, terorisme tidak berhenti pada satu atau dua orang, namun memiliki kesinambungan dengan kelompok masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang. Najih Arromadhoni menyatakan terorisme yang berkembang di Indonesia selalu bermuara pada gerakan wahabisme, yang awalnya hanya sekadar radikal dalam berfikir, namun bertransformasi menjadi radikal dalam tindakan. Pun dengan gerakan-gerakan terorisme di Indonesia, selalu memiliki kaitan dengan kelompok ekstrim transnasional, seperti ISIS dan Hizbut Tahrir.

Oleh karena itu perlu kiranya melacak akar dan latar belakang mengapa aksi ini terjadi. Motif yang melatarbelakangi dan memotivasi tindakan radikal ini harus diungkap untuk menjadi pelajaran bagi kita semua. Apa yang dimaksudkan dengan motif-motif di sini juga berkaitan dengan masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Dengan mengetahuinya, kita bisa mengindikasikan apa yang menajdi sebab tumbuhnya terorisme. Jawahir Tanthowi menyebut, secara umum motif dari terorisme adalah ketidakadilan, kemiskinan, terbelakang, dan penindasan yang terjadi di negara-negara Muslim oleh imperialisme global. Dengan adanya motif-motif ini terorisme tumbuh subur di banyak tempat.

Sedang Conteh-Morgan mengungkapkan beberapa motif dari tindakan ini. Pertama, arus globalisasi. Fakta ini memberikan ruang secara bebas kepada siapa saja untuk mengakses hal-hal yang bahkan berkaitan dengan tindakan dan ancaman radikalisme terorisme. Setiap orang bisa sangat mungkin mengakses ilmu pengetahuan secara bebas, termasuk cara-cara melakukan teror. Kedua, adanya kekerasan di subuah Negara terhadap kelompok tertentu. Ketiga, belum maksimalnya penanganan terorisme baik oleh pemerintah atau masyarakat umum. Kegiatan-kegiatan yang mengarah pada terorisme masih dinomorduakan, sehingga terorisme masih menjamur di mana-mana.

Motif berikutnya, masih menurut Morgan, adanya penindasan, peminggiran, dan penderitaan yang dirasakan secara kolektif oleh sebagian kelompok dalam sebuah negara. Pandangan Morgan memberi maksud bahwa bila suatu negara ingin bebas dari tindakan radikal dan aksi terorisme maka harus meminimalisir sedini mungkin adanya peminggiran kepada suatu kelompok (tentu bagi mereka yang masih setia kepada negara dan atributnya). Dan Margon juga menambahkan, yang adimaksudkan dengan terorisme tidak sekadar berbentuk tindakan bom bunuh diri saja, tetapi segala bentuk dan upaya yang dilakukan untuk menghina dan merendahkan pemerintahan yang sah dengan tidak hormat.

Namun hemat penulis, juga ada motif-motif lain yang melatarbelakangi terorisme, dan patut menjadi catatan penting. Pertama, motif politik. Terorisme tidak semuanya disebabkan karena adanya unsur kekerasan atau penindasan oleh pemerintah di sebuah negara. Terorisme merupakan tindakan ekstrim yang luar biasa, yang dimulai karena politik antara dunia Islam dan Barat. Ini bisa dilihat sejak tahun 1924 dimana kekhalifahan Turki Usmani menjadi hancur dan menjadi negara-negara nasional. Motif ini terus menginspirasi para pelaku teror melakukan aksi terorisme. Imam Samudra, salah seorang Bomber Bali pada 2002, menyatakan bom Bali terjadi sebagai bukti adanya pertarungan sengit antara Barat dan Islam.

Motif berikutnya yang sangat penting adalah motif agama terorisme. Atas nama agama, para teror melakukan aksi-aksi heroik yang memporak-porandakan banyak tempat baik di Indonesia maupun di dunia. Bahkan hemat kami, motif agama ini lebih kuat dibanding motif-motif yang lainnya, cepat memotivasi sebagian orang melakukan tindakan kekerasan, dengan mencari pembenaran melalui agama. Kita bisa menyaksikan, misalnya, sebagian orang Islam mengkampanyekan jihad melawan Israel dan Amerika Serikat yang dianggap telah melukai Islam, karena menjajah Palestina. Sayangnya, stas nama jihad fi Sabilillah, sebagian orang justru melakukan teror, bahkan menciptakan berdirinya negara Islam yang bersifat transnasional.

Terorisme merupakan kejahatan yang bertapapun bertentangan tidak saja dengan agama, tetapi berlawanan dengan banyak hal, dengan budaya, politik, keamanan, dan semuanya. Terorisme tidak memiliki ruang bagi hati manusia yang masih memiliki kewarasan. Ada banyak motif yang melatarbelakangi terjadinya tindakan teror. Beberapa di antaranya adalah; ketidakadilan, arus globalisasi, belum maksimalnya pemerintah memberantas terorisme, motif politik global, dan motif agama. Motif terakhir ini (agama) yang perlu menjadi catatan penting bagi dunia sekarang. Bahwa, terorisme seringkali mengatasnamakan jihad fi sabilillah, namun faktanya melakukan kekerasan yang bertentangan dengan nilai-nilai agama. [Eep]

Leave a reply

error: Content is protected !!