Mengenal Islam Rahmatan lil Alamin ala KH. Hasyim Muzadi

6
551

Oleh: Abdul Fattah

Pemikiran seorang tokoh akan menjadi kabur dan terhapus seiring tutupnya usia. Tanpa upaya untuk mengabadikan, niscaya akan lenyap ditelan masa. Keteladanan dan kearifan merupakan suatu warisan berharga dari tokoh bangsa dalam segala rekam jejaknya. Seribu nilai luhur dalam perjuangan dan pengorbanannya akan selalu sejuk untuk dikenang walaupun hanya lewat sebuah buku.

Salah satu tokoh bangsa yang patut dikenang pemikiran dan perjuangannya ialah KH. Hasyim Muzadi. Kiprahnya sebagai Ketua Umum PBNU (1999-2010) dan Dewan Pertimbangan Presiden (2015-2017), menutup karirnya sebagai tokoh yang mewakafkan diri untuk Islam dan Indonesia. Bahkan, beliau merupakan satu-satunya tokoh yang pernah berkata, “Seluruh jiwa dan raga saya, saya wakafkan untuk Islam dan bangsa Indonesia.” (hlm. 154)

KH. Hasyim Muzadi bukan saja sebagai ulama, tetapi juga seorang negarawan yang lahir dari dunia pesantren. Sebagai ulama, beliau sudah seringkali memberikan wejangan pencerahan untuk umat tentang segala hal keislaman. Di sisi lain, sebagai negarawan beliau tidak lupa memberikan sumbangsih pemikiran tentang prinsip-prinsip beragama yang penuh toleransi tanpa merusak akidan dan iman (hlm. xiii).

Salah satu konsep pemikiran besar dari beliau ialah Islam rahmatan lil Alamin. Gagasan ini tidak sama dan jauh berbeda dengan gagasan-gagasan Islam lainnya. Oleh Abah Hasyim, konsep tersebut diakui sebagai satu-satunya Islam yang benar-benar bersumber dan tertulis dalam Alquran. Ini sekaligus pertanda, bahwa Allah secara langsung ingin menunjukkan Islam yang dibawa nabi Saw. akan berdampak positif, inklusif, komprehensif dan holistik (hlm. 5).

Di dalam buku ini dijelaskan bahwa, konsep Islam rahmatan lil Alamin yang berhaluan Ahlu Sunnah wal Jama’ah harus besendikan sikap toleran, moderat, tegak lurus, seimbang serta menyerukan amar ma’ruf nahi munkar. Semua itu harus mampu berjalan beriringan di tengah arus al-Tatharrufi al-Tasyaddudi (ekstremis fundamentalis) dan al-Tatharrufi al-Tasahhuli (esktremis liberalis). Sehingga, bisa dikatakan bahwa tanpa rahmah, Islam akan terasa hampa dan eksklusif (hlm. 153).

Dalam konteks kekinian, sejatinya Islam rahmatan lil Alamin ini telah mengatur segala tata hubungan, baik dari aspek teologis, ritual, sosial, muamalah dan kemanusiaan. Semua hal yang telah sejalan tidak perlu dipertentangkan. Islam yang sebagai agama samawi yang penuh kelembutan sudah seharusnya dibawakan dengan lemah lembut dan bijaksana (hlm. 11-18). Maka, seharusnya tidak boleh membawa-bawa nama Islam yang hanya untuk menunjukkan kelompok menjadi paling benar dan menilai yang lain salah.

Salah satu landasan Islam rahmatan lil Alamin ialah Piagam Madinah. Dari 47 pasal yang ada, Abah Hasyim meringkasnya ke dalam beberapa poin penting yang bisa dijadikan acuan siapa saja yang menjadi pimpinan tertinggi sebuah bangsa atau negara, dan khususnya di Indonesia. Salah satunya, ialah tentang konsep Ukhuwah baina al-Islamiyah. Dari konsep ini diatur tatacara bersaudara di antara umat Islam (hlm. 89).

Titik penekanan konsep di atas adalah adanya sikap ta’āruf (saling mengenal); tafāhum (saling memahami); tafāqud (saling perhatian); ta’āluf (saling bersatu); tasāmuḥ (toleransi); ta’āwun (saling membantu); dan tanāshur (saling menolong). Kesemuanya itu sejatinya ditekankan dalam rangka mencari titik temu hubungan antara spiritualitas dan emosionalitas dalam beragama (hlm. 90).

Baca Juga:

Dengan memadukan konsep di atas yang disertai dengan realisasi sikap-sikap yang perlu ditekankan, diharapkan Islam akan tampil sebagai agama solutif yang mengayomi semua kalangan. Islam yang seharusnya menyejukkan tidak lagi dipaksakan dengan narasi-narasi menakutkan. Sehingga, Islam dapat menjadi satu wadah untuk mewujudkan perdamaian bukan menyulut permusuhan. Inilah sebenarnya Islam yang ramah penuh kasih sayang.

KH. Hasyim Muzadi menganggap risalah yang tertuang dalam Piagam Madinah itu sudah diatur sedemikian rupa, sebagai metode nabi Saw. untuk meletakkan pondasi kebangsaan dan kenegaraan yang luhur. Di dalam piagam itu sendiri, telah diatur tentang persamaan hak antara penduduk muslim dan nonmuslim. Sehingga, keduanya harus mendapat perlakuan yang sama di dalam negara tersebut (hlm. 95).

Demikian halnya, jika ditarik dalam konteks negara Indonesia. Mayoritas muslim di Indonesia sudah final dengan sistem keindonesiaan menjadikan Pancasila sebagai pilar kebangsaan. Hal ini sebagaimana pernah dilontarkan Abah bahwa, “Pancasila bukan agama, tetapi tidak bertentangan dengan agama. Pancasila bukan jalan, tetapi menjadi titik temu antara banyak perbedaan jalan. Beda agama, suku, budaya dan bahasa hanya Pancasila yang bisa menyatukan perbedaan tersebut” (hlm. 157).

“Pancasila bukan agama, tetapi tidak bertentangan dengan agama. Pancasila bukan jalan, tetapi menjadi titik temu antara banyak perbedaan jalan. Beda agama, suku, budaya dan bahasa hanya Pancasila yang bisa menyatukan perbedaan tersebut”

Dari uraian di atas, memberikan kesan bahwa pancasila menjadi satu payung yang mampu mengayomi seluruh lapisan perbedaan yang ada di Indonesia. Keutuhan konsep yang tercantum dalam lima pilar kebangsaan itu menutup jalan pertentangan di antara perbedaan suku bangsa. Justru dalam faktanya, Pancasila menjadi solusi untuk menyamakan satu persepsi dan menyatukan perbedaan dalam keragaman bangsa Indonesia. Pancasila memang bukan agama, tapi melalui nilai-nilainya semua agama bersatu di bawah naungannya.

Dengan demikian, dapat dilihat bahwa wawasan keislaman dan kenegaraan dari Abah Hasyim Muzadi menjadi warisan pemikiran berharga untuk bangsa Indonesia. Abah Hasyim juga menekankan bahwa pemahaman Islam seseorang harus ada sinkronisasi dengan toleransi. Agar Islam tidak terasa kaku untuk penganutnya. Barometer yang digunakan ialah moderat sebagai keseimbangan antara keyakinan dan toleransi, yang merupakan upaya untuk menciptakan persaudaraan, kerukunan dan melestarikan persatuan. (hlm. 154) Dengan membaca buku ini, kita akan dapat menemukan satu gagasan mengenai Islam rahmatan lil Alamin menurut KH. Hasyim Muzadi. Buku ini juga mengenalkan konsep Islam yang toleran tanpa mengaburkan akidah dan keyakinan. Sehingga, membaca buku ini tak sekedar mendapatkan wacana Islam penuh kasih sayang, melainkan juga mengenang sosok tokoh bangsa yang penuh kesantunan dalam dakwahnya untuk Islam dan Indonesia. []

6 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!