Mengembangkan Moderasi Dakwah Kekinian Lewat Film

3
378

Sangkhalifah.co — Prinsip moderasi Islam menjadi satu paradigma yang penting diangkat di tengah maraknya arus radikalisme. Dalam kata lain, moderasi Islam boleh juga diwakili dengan term Islam moderat, yang berarti Islam jalan tengah yang tidak ekstrem kanan atau pun kiri. Islam model ini perlu dikembangkan dalam ranah dakwah yang mengayomi. Ketika muncul banyak propaganda dari para radikalis, sudah tentu menimbulkan keresahan dan polemik di masyarakat. Maka, moderasi dinilai menjadi satu resistensi penting yang perlu digalakkan.

Pada dasarnya, moderasi berasal dari bahasa Arab, kata “al-wasth” yang berarti kondisi di tengah, adil, tanpa condong ke kanan maupun ke kiri. Sedangkan menurut KBBI Daring, moderasi berarti pengurangan kekerasan, atau penghindaran keekstreman (kbbi.web.id). Ini senada dengan ungkapan al-Qur’an yang menegaskan umat Islam sebagai umat yang moderat (QS. al-Baqarah [2]: 143).

Dalam hal ini, al-Qur’an menggunakan redaksi “wasathan” yang berarti tengah-tengah sesuatu (al-Munawwir, 1997). Beberapa kalangan mufasir menjelaskan istilah tersebut dengan arti “sangat adil”. Ini menandakan jika sifat adil itu sejatinya tidak memiliki kecondongan sedikitpun baik ke kanan maupun ke kiri. Di sinilah posisi istimewa washatiyah yang berpeluang menjadi penengah dari segala blok maupun golongan.

Film menjadi salah satu media apik dalam menyampaikan kebenaran dan mengajak kebaikan di era kekinian. Dengan menggandeng prinsip moderasi Islam dalam dakwah, boleh jadi akan lebih mengena kepada sasaran yang tepat. Ini karena pengguna media sosial dari berbagai platform—semisal Facebook, Whatsapp, Instagram, hingga Youtube—menjadikan lebih mudah mengakses film tanpa batas.

Di sisi lain, bentuk dakwah model film akan lebih mudah ditangkap pemirsa yang datang berbagai kalangan. Hal ini sangat relevan dengan konteks masyarakat kekinian yang jarang lepas genggaman gawainya. Kehidupan virtual pun mewarnai gaya hidup, termasuk cara mereka mendapatkan materi keagamaan dalam berbagai bentuk dan konten. Salah satunya, yang marak dicari mereka adalah konten film.

Seakan film merupakan salah satu hiburan favorit di tengah kejenuhan. Mereka bisa menjadikan relaksasi dengan menonton film. Di sinilah terbuka kesempatan untuk mewarnai tren dakwah yang dikemas dalam film Islami. Harapannya, itu berpeluang menjadi media tersampaikannya hidayah bagi penikmatnya. Selain itu, juga sangat berperan menjadi penyeimbang di tengah maraknya film bermuatan radikal-provokatif tanpa pandang bulu.

Di era disrupsi seperti sekarang ini, masyarakat tidak lagi melihat siapa yang menyampaikan. Hal ini bukan berarti mereka tidak membutuhkan seorang ustadz atau guru. Namun, konten film yang menarik dan inspiratif menjadi pertimbangan mereka dalam memilih obyek tontonan. Karena kemasan film tak sekadar menghibur semata, melainkan pula dapat dijadikan tuntunan dalam kehidupan.

Moderasi dakwah melalui film menjadi salah satu hal yang patut menjadi perhatian. Prinsip moderasi perlu dikaji dan diterapkan visualisasi dalam bentuk film. Hal ini sebenarnya telah direspon secara baik oleh Center for the Study of Islam and Social Transformation (CISForm) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Lembaga ini mencoba untuk memproduksi film animasi dan komik dengan tujuan melindungi anak-anak muda dari godaan radikalisme.

Seperti diungkapkan Wildan, anak muda memiliki potensi lebih rentan terpapar radikalisme. Karenanya, sebagai upaya awal lembaga ini telah menciptakan produk berupa komik dan film (republika.co.id, 2017). Dua di antaranya, adalah komik berjudul “Si Gun Pingin Jihad” dan “Rindu Khilafah”. Penggarapan komik ini bertujuan untuk digunakan dalam counter narative terhadap narasi-narasi radikal yang liar berkembang di masyarakat.

Dengan demikian, menyajikan pesan-pesan bernuansa naratif moderat ke dalam film dakwah, harus tetap mengedepankannya esensinya. Pesan yang terkandung di dalam film tersebut, setidaknya tepat mengenai sasaran penontonnya. Di sisi lain, sisi estetikanya juga perlu mendapat perhatian. Ini dilakukan dengan tujuan supaya pesan-pesan yang dikemas dalam film tersebut bukan saja menjadi dakwah dan juga menjadi produk seni yang bernilai tinggi.

Film Dakwah Moderat Perlu Diproduksi Massal

Pada prinsipnya, dakwah ini bersifat mengajak bukan memaksakan kehendak. Mengajak ke jalan kebaikan tentu harus dengan kebaikan pula. Bukan bersifat memaksa apalagi dalam praktiknya memuaskan unsur intimidatif dan inloteransi yang berpotensi melukai perasaan. Maka, prinsip dakwah moderat yang harus dikedepankan adalah al-amru ma’ruf bil ma’ruf, bukan al-amru ma’ruf bil munkar (mengajak kepada kebaikan dengan kebaikan, bukan dengan kemungkaran).

Kendati demikian prinsip-prinsip moderat yang telah berhasil diterjemah secara integratif oleh para ulama patut ditautkan. Dalam hal yang mendesak dan perlu, ada nilai-nilai yang perlu diinvertarisir ke dalam skenario film dakwah Islam. Sehingga, konten dakwah moderat yang berhasil difilmkan akan berdampak positif bagi pemirsanya.

Untuk menjadi penyeimbang konten radikal yang sudah mendominasi saat ini, film dakwah moderat perlu diperbanyak. Dengan produksi film tersebut secara massal, tentu muncul harapan terhadap berkurangnya pengaruh film radikal bermotif kepentingan nafsu sesaat. Di sinilah bentuk formasi awal yang perlu mendapat dukungan dari pemerintah, sebagai program deradikalisasi bagi masyarakat melalui film. Tanpa berlebihan, film juga bisa menjadi media transmisi dan transformasi nilai-nilai perdamaian Islam. Bukan tak mungkin, apabila film-film sejenis ini diproduksi secara baik dan terprogram tentu menjadi dakwah moderat yang didambakan masyarakat. Sehingga, peran dakwah Islam melalui film ini patut disambut baik dan kita perlu ambil bagian di dalamnya. []

3 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!