Mengambil Pelajaran dari Malapetaka Arab untuk Masa Depan Persatuan Umat

2
653

Sangkhalifah.co — Perpecahan dalam negeri seringkali menimpa negara mana saja yang tidak dikelola dengan baik keragamannya. Antar anak bangsa saling silang pendapat yang berujung pada perpecahan. Apalagi ketika datang tahun politik sebagaimana yang akan terjadi pada tanggal 9 Desember 2020 besok. Pilkada yang dibumbui dengan balutan agama demi mencapai kesuksesan dan politik sering menimbulkan konflik internal bangsa. Agama dipolitisasi sedemikian rupa hanya untuk memuaskan nafsu kekuasaan. Ditambah dengan kebisingan kelompok radikal-teror yang ikut campur dalam urusan negeri dengan menambah kegaduhan. Mereka seringnya datang membawa baju agama untuk tujuan menggagalkan lajur perpolitikan nasional yang dianggapnya tidak sejalan dengan konsepsi Islam.

Malapetaka dalam dunia Islam sebetulnya sudah terjadi 24 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Dan sayangnya, sebagian orang Islam selalu menganggapnya sebagai ajaran Islam, bukan sebagai budaya yang ada pada masanya. Kita harus jujur mengungkap sejarah Islam yang menjadi corong malapetaka yang terjadi hingga hari ini di dunia Arab. Perang Unta (Jamal) adalah perang pertama yang suka atau tidak merupakan awal mula malapetaka di dunia Islam terjadi. Bagaimana tidak, antar orang-orang dekat nabi, yakni Ali bin Abi Thalib (menantu nabi) dan Aisyah (istri nabi) terlibat peperangan. Tidak ada tujuan lain kecuali demi memenangkan arena perpolitikan pasca terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan. Peperangan ini telah mengguncangkan komunitas muslim pada masanya.

Malapetaka perpecahan di dunia muslim yang bahkan lebih dahsyat adalah ketika terjadi perang Siffin antara Ali dan Muawiyah bin Abi Sufyan Gubernur Suriah. Skala perang Siffin menembus batas bahkan dirasakan hingga hari ini dan menyebar dalam peristiwa-peristiwa yang sesungguhnya tidak ada kaitan dengan peperangan tersebut. Efek negatif peperangan tersebut melahirkan sekte-sekte Islam yang satu sama lain kadang saling hujat. Lahirnya kelompok Wahabi adalah salah satu wujud dari akibat perang Siffin, dengan dimulai dengan eksisnya tiga kelompok Islam yaitu Suni, Syiah dan Khawarij. Sementara orang mengklaim apa yang terjadi pada perang Siffin adalah ajaran agama, sehingga perlu diteruskan di masa kini dengan melakukan peperangan dengan mereka yang berbeda faham dan keagamaan.

Pendek kata, jika mengambil pelajaran dari peristiwa malapetaka dalam dunia Islam awal itu, nafsu kekuasaan yang tidak didampingi kekuatan moral yang kokoh pasti akan merusak. Agama menjadi tidak berdaya, dan hanya dijadikan tunggangan politik dan kekuasaan. Agama diperkosa sejadi-jadinya hingga tinggal nama sebab politik kotor sebagian orang. Ini yang perlu kita sadar bahwa sejarah Islam tidak selalu mengacu pada wahyu. Jangan seolah-olah setiap yang terjadi di masa keislaman dulu adalah murni semua ajaran agama. Kita harus membaca sejarah dengan jujur, bahwa banyak dari peristiwa itu adanya politisi yang memperturutkan nafsunya. Dan parahnya, semua itu menimbulkan perpecahan di masyarakat tingkat bawah yang mengklaimnya semua sebagai ajaran agama, sehingga yang menurut pandangan mereka salah maka harus ditebas dan dihabiskan, walau dengan pedang.

Mentalitas kesukuan yang sempat mengemuka di masa jahiliah juga harus dibuang jauh-jauh dari pribadi bangsa. Karena mentalitas ini sulit membuat suatu bangsa berkembang dan bersatu satu sama lain dalam perbedaan. Kedatangan Nabi Muhammad ke negeri Makkah bukan lain untuk melebur kebiasaan buruk itu karena seringkali melahirkan sikap kesombongan dan bahkan perpecahan. Nabi hadir menghapus kesukuan dan menggantinya dengan konsep persaudaraan (ukhuwah). Pesan ini yang mestinya ditanamkan setiap anak bangsa dalam bernegara dan berbangsa di dalam konteks Indonesia. Mentalitas persaudaraan harus dijunjung tinggi, dan mentalitas kesukuan dan kelompok harus dibuang jauh-jauh. Mentalitas kesukuan hanya menguntungkan kelompok saja, dan menyengsarakan kelompok yang lain.

Bangsa Indonesia harus keluar dari fragmen sejarah Islam yang bertaburan dengan politik kekuasaan yang kotor. Harus pandai memilih dan memilah mana ajaran agama dan mana yang hanya produk budaya, yang tidak perlu dibawa ke Indonesia sebagai produk budaya gagal. Budaya yang hanya membentuk mental peperangan, kesukuan, dan perpecahan harus dicampakkan. Semua itu hanyalah sampah sejarah yang patut kita tinggalkan jika tetap mau berpegang pada wahyu Al-Qur’an yang jelas-jelas mengutamakan persaudaraan dan persatuan (QS. Al-Hujurat 13). Tanpa keluar dari mentalitas kebobrokan dan malapetaka Arab kita mustahil melahirkan peradaban Islam dalam bentuk yang diharapkan. Peradaban Islam hanya utopia belaka, mustahil berdiri di atas mental orang-orang yang egois dalam beragama.

Cukuplah kehancuran dan malapetaka arab seperti yang terjadi di Afghanistan, Irak, Suriah, Libiya dan Yaman menjadi pelajaran penting bangsa agar tidak seperti mereka. Mengelola keragaman dalam tubuh bangsa dengan Pancasila adalah jalan terbaik untuk mewujudkan bangsa yang memiliki masa depan gemilang. Jangan sesekali mengambil inspirasi untuk beragama dan bernegara seperti dunia Arab yang kacau balau dan tidak memiliki perspektif masa depan. Kita amat prihatin dengan saudara-saudara muslim kita yang seharusnya memiliki kawasan lebih dalam beragama agar tidak jatuh pada lubang perpecahan. Bangsa Indonesia harus menjadi bangsa yang mandiri. Beragama dengan kuat penduduknya dan memiliki semangat gotong royong yang kokoh. Bangsa Indonesia harus menjadi bangsa yang ramah, toleran dan saling menghargai, bukan menjadi bangsa yang berperilaku bertentangan dengan nilai-nilai agama yang dianutnya. []

*LUFAEFI, Pimpinan Redaksi Media Sang Khalifah

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!