Menelusuri Akar Isu Takfiri Yang Meresahkan

0
103

Sangkhalifah.co — Praktik takfir (pengkafiran) bukan merupakan sesuatu yang tiba-tiba ada begitu saja. Tidak benar bila itu merupakan spontanitas yang bersifat subjektif saja. Jika bukan ada unsur kesengajaan, tentu ada sebab lain yang melatarinya. Bahkan, di dalam dunia pemikiran takfir seringkali alat untuk mengenyahkan hal lain yang tidak disetujui. Tak jarang takfir menjadi satu kasus yang sering digunakan dalam politisasi agama. Ini persis seperti pernah terjadi dalam kasus khawarij tahkim antara Ali Vs Mu’awiyah.

Hari ini, politisasi agama sering menjadi kasus yang tren di beberapa kalangan. Sebagian mengangkat isu takfiri dengan tujuan menjatuhkan lawan politiknya. Kerapkali bakal calon anggota dewan hingga setingkat kepala daerah menyewa jasa pengkafiran. Jasa yang dimaksud di sini adalah isu takfiri yang diangkat oleh yang disebut “ustadz” atau pengaku ahli agama. Tidak jarang mereka dengan kasar menggunakan kesempatan tahun politik sebagai momen jualan kafir-kafiran untuk mendukung satu pihak. Anggapannya, dengan mengkafirkan satu pihak berarti kelompok di pihaknya sebagai Islam sendiri. Inilah ajaran yang seringkali menggiring nada sentimen antara sesama pendukung calon.

Tidak berhenti dalam soal itu saja, pengkafiran terus bergulir meski masa pemilihan telah usai. Mereka yang semula bersaudara menjadi terpisah atas fanatisme masing-masing. Kedok intoleransi yang dikedepankan untuk kepentingan tertentu menjadi kentara dalam percaturan agen takriri. Satu pihak mengkafirkan. Di lain pihak, mengkafirkan balik lengkap dengan dalilnya. Mereka mengira jika al-Qur’an hanya dalil-dalil untuk sekadar merasa benar dan mencopoti agama orang lain.

Hal demikian semakin fenomenal. Terus bergulir demikian hingga memasuki era digitalnya.ย  Dulunya, isu takfiri disalurkan melalui saluran-saluran media website terafiliasi kelompok Islam tertentu. Lain halnya dengan sekarang, kondisinya begitu berjejalan memenuhi ruang digital. Berbagai platform media sosial pun tidak sanggup membendungnya. Kesempatan untuk mendapatkan pencerahan dari kawan sejawat atau yang disebut ahli agama makin mengecil. Mereka berharap memperoleh ajaran yang menjadikannya makin istiqomah, justru terjegal isu kafir-kafiran. Sehingga, tidak jarang kalangan awam pun terbawa arus takfiri tanpa mengetahui arah dan duduk perkaranya.

Melihat Isu Pengkafiran Dalam Tiga Narasi Berbeda

Jika dilihat dari pola yang berkembang kini, isu pengkafiran tidak jauh dari pola narasi takfiri terdahulu. Setidaknya ada tiga isu takfiri yang selalu menjadi topik hangat di lapangan. Membahasnya seakan tidak pernah lekang oleh waktu. Dan tentu saja pengkafiran dengan model-model narasi tersebut selalu laris di pasaran. Tiga isu takfiri tersebut di antaranya:

Pertama, amalan yang dinilai sebagai bid’ah. Narasi demikian menjadi pintu masuk takfiri lebih lanjut. Pengkafiran dalam kasus ini bermula dari praktik-praktik yang dilakukan oleh kelompok Islam tertentu. Bermula dari klaim tidak ada dalil dan landasannya, berujung pada pelaku disebut kafir. Sudah jelas tentu pihak yang mengkafirkan tidak senang dengan adanya praktik-praktik tersebut. Setidaknya, cukup jelas manakala terjadi pengkafiran di sana ada motif intoleransi begitu kental di dalamnya. Biasanya, rutinitas sebutan bid’ah ini marak bila musim maulidan telah tiba.

Kedua, takfir bagi pihak yang tidak menjalankan hukum Allah. Orang-orang atau kelompok yang suka mengkafirkan sangat suka menyitir QS. al-Ma’idah [5]: 44. Sebab, pada penutup ayat secara harfiah dapat ditangkap arti “Mereka menjadi kafir manakala tidak menjalankan hukum Allah”. Padahal tidak sesederhana itu. Apabila berkenan mempelajari lebih lanjut, tentu akan menemukan akar-akar pemaknaan kafir di dalamnya. Di sisi lain, tidak boleh pula mengabaikan riwayat-riwayat yang dijadikan argumentasi penafsiran ayat tersebut. Sehingga, penggunaan ayat sebagai dalil pengkafiran sama saja fanatisme agama yang berlebihan.

Ketiga, takfir kepada para pengikut taghut. Lebih lanjut tentang pengkafiran, akan sangat sering dikaitkan dengan soal taghut. Oleh mereka (kaum takfiri) suka menyebut apabila pemerintah saat ini disebut sebagai taghut. Analisisnya sederhana menurutnya. Mereka taghut karena tidak menjalankan hukum Allah dan lebih mengedepankan hukum buatan manusia. Dalam hal ini, disebutnya sebagai hukum jahiliyah. Maka, pemerintah yang tidak menjalankan hukum Allah disebut taghut. Sebutan demikian menjadi awal mula pengkafiran terhadap pemerintah dan boleh dilawan.

Ketiga wilayah di atas kemudian dikaitkan satu sama lainnya, akan membentuk satu pola pikir yang sangat anti pemerintah. Tidak cukup di situ, cara bertindak mereka pun menjadi nekat hanya karena doktrin kurang tepat tentang agama. Memahami tiga wilayah di atas perlu ketelitian dan keseimbangan. Ada wilayah doktrin dan kepercayaan yang harus dipegang teguh. Di samping itu, ada persoalan keberagamaan yang tidak sepatutnya dicampurkan dengan akses interaksi sosial lebih luas. Karenanya, tafsir agama harus diposisikan sebagai spirit perdamaian daripada intoleransi berbasis fanatik dan menuju radikalis.

Dengan pemahaman yang mumpuni dalam soal agama, seorang tokoh agama harus menjadi satu benteng pertahanan melawan radikalisme. Jangan tunggu bila ada desakan. Karena radikalisme selalu mengancam eksistensi kerukunan bangsa hingga saat ini. Adapun kedudukan tokoh agama begitu penting sebagai corong pemersatu bangsa dan menjadi agen moderasi beragama dalam hidup berbangsa dalam aspek yang luas. Sehingga, kerukunan bangsa ini akan lebih terjamin manakala isu pengkafiran tersebut dapat dikendalikan untuk dipatahkan. []

Leave a reply

error: Content is protected !!