Menelisik Modus Khilafah; Dari Kepentingan Politik Hingga Penyembahan Pada Kekuasaan

1
193

Sangkhalifah.co — Khilafah telah ditolak di berbagai negara di dunia, termasuk di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim, seperti Palestina, Arab Saudi, Mesir, Turki, dan lain sebagainya. Secara sederhana fakta ini sebetulnya sudah membuktikan bahwa khilafah bukanlah sistem Islam. Tidak ada negara Islam di dunia ini yang mau menerima konsep khilafah, baik khilafah ala HTI ataupun ISIS. Karena memang yang ditawarkan adalah konsepsi utopis yang dibungkus atas nama agama. Di Indonesia, organisasi pengusung khilafah pun ditolak oleh negara karena jelas-jelas selain tidak relevan dengan konteks keberagan bangsa juga karena tidak membuktikan karakter Islam sama sekali. Yang dilakukan justru menampilkan kebencian kepada pemerintah sah, mengkafirkan atribut negara, dan menganggap musyrik orang di luar kelompoknya. Perilaku-perilaku ini jelas bertentangan dengan agama Islam.

Eks HTI ataupun ISIS ingin menggantikan Pancasila dan UUD dengan Islam perspktif mereka sendiri. HTI dan PKI secara esensial sama saja, sama-sama ingin mengganti Pancasila. HTI dengan khilafahnya, sementara PKI dengan komunisnya. Akan tetapi HTI lebih berbahaya karena mengatasnamakan agama untuk memanipulasi maksud politiknya. Mengapa lebih berbahaya karena HTI memiliki misi memberangus semua budaya di Nusantara diganti dengan Islam perspektif kelompoknya. Semuanya akan dianggap kafir dan wajib diperangi jika tidak tunduk kepada keyakinan kelompoknya. Lalu, apa sebetulnya modus di balik kelakuan para penyeru khilafah ini? Kepada siapa sebenarnya para pengasong khilafah meneladani Islam? Bagaimana Nabi memandang kelompok khilafah?

Jika kita kembali membaca sejarah Islam ketika Nabi Muhammad di Makkah, Nabi tidak pernah memproklamirkan Makkah atas dasar Islam. Selama 13 tahun di Makkah itu bahkan Nabi tidak pernah membentuk komunitas dalam bentuk negara (nation), apalagi membentuk negara Islam. Yang ada dalam faktanya, Nabi didepak oleh orang-orang Kafir sehingga membuat beliau dan para sahabatnya hijrah ke Madinah. Tidak ada contoh bentuk negara Islam yang selama ini diperjuangkan HTI dan ISIS selama Nabi di Makkah. Jadi cukup dianggap sebagai lelucon saja jika HTI maupun ISIS berdalih mendirikan negara Islam khilafah Islamiyyah dengan mencontoh Nabi. Kemudian muncul pertanyaan, Nabi tidak hanya hidup di Makkah, tapi juga di Madinah, bukannya selama di Madinah Nabi menjadi pemimpin dalam bentuk negara Islam?

Selama di Madinah, Nabi pun ternyata tidak pernah memproklamirkan negara Islam apapun, apalagi dalam bentuk khilafah. Bangunan negara Madinah menurut dokumen otentik di bawah payung “the constitution of Madina” yang dalam bahasa Indonesia disebut Piagam Madinah. Konstitusi itu justru ditandatangani oleh seluruh komponen di Madinah, dari yang beragama Islam, Yahudi, Nasrani, bahkan kaum Musyrikin. Dari sini semakin terang bahwa selama di Madinah Nabi tidak pernah mendeklarasikan negara Islam. Apalagi, dalam konstitusi yang berisi 47 pasal itu tidak ditemukan kata “Al-Qur’an, Hadis, dan Islam”. Justru, 47 pasal itu berisi seputar masalah persatuan, kesatuan, persamaan hak, keadilan, kebebasan beragama, bela negara, pelestarian adat, dan perdamaian.

Dari fakta di atas, sebetulnya, tidak ada konsepsi khilafah ala minhâj an-nubuwwah yang selama ini digalakkan oleh HTI dan ISIS atas nama ajaran Nabi. Nabi tidak pernah sedikitpun mengkonsep negara Islam atau khilafah. Apa yang dilakukan ISIS maupun HTI hanya mencatut nama Nabi, sebagaimana kebiasannya, yaitu untuk membranding jualan khilafahnya kepada masyarakat awam. Selain itu, para Khalifah Nabi setelah beliau wafat pun tidak pernah mendeklarasikan sebagai negara Islam. Baik Abu Bakar, Umar, Usman ataupun Ali, semuanya mengedepankan negara model kemaslahatan. Tidak mengedepankan agama untuk mengatur agama. Buktinya, Umar pernah menentukan hukum yang keluar dari tekstualitas Al-Qur’an. Yaitu, ketika menjadi Khalifah, ia pernah tidak memberi upah (jizyah) pada orang yang baru memenangi sebuah peperangan karena negara membutuhkan pemasukan untuk pembangunan. Padahal kewajiban memberikan harta rampasan perang jelas-jelas termaktub dalam QS. At-Taubah: 29. Namun, Umar tidak menentukan itu dengan ketentuan teks Al-Qur’an.

Apa yang dilakukan Umar ketika menjadi Khalifah dapat dibaca sebagai upaya mengedepankan kemaslahatan bersama, bukan hanya mementingkan dalil agama namun tidak memberi manfaat bagi banyak orang. Ini berbeda dengan para pengasong khilafah yang tidak peduli apakah masyarakat akan berperang antar sesama bangsa ataukah tidak. Yang penting, persepsi Islam menurut mereka harus tegak di negara. Negara harus menjadikan teks Al-Qur’an dan Hadis sebagai ketentuan konstitusi. Padahal jika agama menjadi konstitusi, maka yang timbul justru hanya memperturutkan interes pribadi, mengekalkan status quo, serta menyembah dan menuhankan konstitusi kekuasaan yang pada akhirnya justru bertolak belakang dengan Islam. Begitulah apa yang sebetulnya hendak dituju oleh para pengasong khilafah, hendak memperturutkan kepentingan politik pribadi dengan membungkusnya menggunakan ayat-ayat Allah. Mereka hendak menyembah kekuasaan, atas nama menerapkan syariat Islam dalam kehidupan bernegara.

Islam adalah agama yang universal. Islam bukanlah nation dan institusi. Eksistensinya lebih kepada fondasi moralitas umat manusia yang akan mengontrol terhadap semua lini kehidupan. Selain itu, mengkonstitusikan agama pada hakikatnya telah mendiskreditkan agama sebagai ajaran universal ilahiah menjadi agama partikular kekuasaan yang muaranya pada kepentingan politik pribadi maupun kelompok. Sebaliknya, jika agama menjadi pondasi moralitas umat maka misi Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin dapat terealisasikan dengan tepat. Ajarannya tidak akan ditarik-tarik untuk kepentingan politik sebagaimana apa yang dilakukan HTI dan ISIS dengan kampanye khilafahnya. Pada akhirnya, kampanye khilafah ala HTI dan ISIS atas nama agama di dalam konstitusi tidak lain kecuali hendak melampiaskan kepentingan politik kelompoknya dan hendak menuhankan konstitusi di atas kepentingan agama. []

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!