Meneladani Nabi Dalam Mengelola Konflik dan Perbedaan (Spirit Anti Radikalisme)

0
202

Sangkhalifah.co — Radikalisme atau ekstremisme agama, salah satunya muncul karena ketidakmampuan menerima perbedaan. Pemahaman ajaran agama yang sempit, cenderung tekstual, ditambah provokasi radikal akan adanya “ancaman” dari perbedaan tersebut, kadang membuat orang terjerumus dalam sikap dan pemikiran radikal dalam beragama.

Kemampuan menerima perbedaan dan bersikap toleran, memang menjadi sangat penting dalam kehidupan. Terlebih, kita hidup dalam sebuah bangsa Indonesia yang majemuk, beragam, dan kaya perbedaan. Tak hanya perbedaan latar belakang suku dan budaya, namun juga perbedaan agama, ras, bahasa, dan lain sebagainya.

Keragaman dan kemajemukan tersebut merupakan anugerah Allah Swt. yang patut kita syukuri, dengan terus konsisten merawat dan menjaga bangsa ini dari berbagai ancaman pertengkaran, perpecahan, dan kehancuran. Tanggung jawab merawat dan menjaga bangsa tersebut ada di pundak kita semua sebagai anak bangsa.

Para pendiri bangsa telah mewariskan fondasi keberagaman melalui dasar dan falsafah negara Pancasila serta semboyan Bhineka Tunggal Ika. Melalui dasar tersebut, kita dituntut mampu hidup damai, harmonis, dan saling menghormati serta gotong royong membangun bangsa di tengah perbedaan yang ada.

Inilah kekuatan kita sebagai sebuah bangsa. Yakni spirit persatuan dan kesatuan di tengah perbedaan. Artinya, perbedaan bukan dipandang sebagai alasan untuk bermusuhan dan terpecah belah. Perbedaan di Indonesia justru menjadi kekuatan, potensi, dan modal membangun bangsa.

Akan tetapi, bagi mereka kelompok ekstremisme agama, perbedaan adalah persoalan serius. Perbedaan dianggap sesuatu keadaan yang tidak “ideal”, sehingga harus diubah agar sama seperti yang mereka kehendaki. Sebagaimana diungkapkan Dr. Yusuf Qardhawi (2017: 101), bahwa salah satu faktor penyebab sikap ektremisme beragama adalah lemahnya pengetahuan akan sejarah, kenyataan, serta hukum-hukum alam dan kehidupan. Di sini, tentu termasuk ketidakmampuan menerima perbedaan sebagai sunnatullah.

Mereka, jelas Yusuf Qardhawi, hendak mengubah masyarakat secara total: pikiran-pikirannya, perasaannya, tradisinya, akhlaknya, dan sistemnya. Hal inilah yang kemudian kerap memunculkan sikap-sikap intoleran, radikal, bahkan ekstrem dalam beragama. Dalam bentuk paling ekstrem, sikap dan pandangan tersebut kadang diekspresikan dalam aksi-aksi terorisme yang tak segan menghilangkan nyawa manusia lain.

Teladan Nabi Muhammad Saw

Di tengah ancaman merebaknya pandangan-pandangan radikalisme agama yang tak mampu menerima perbedaan tersebut, penting untuk menghadirkan potret keteladanan Rasulullah Saw. dalam mengelola konflik.

Konflik adalah hal lumrah dalam kehidupan. Setiap orang atau kelompok punya perbedaan cara berpikir, karakter, dan kepentingan masing-masing. Konflik harus dipandang dengan paradigma positif sebagai pemantik kreativitas dan jalan membangun kedewasaan menuju kehidupan bersama yang lebih baik. Konflik perbedaan pemikiran, kepentingan, dan sebagainya, bukan alasan saling membenci, menyakiti, dan melukai. Justru, itu semua merupakan ladang untuk menyebarkan kebaikan kepada sesama.

Mohammad Takdir dalam bukunya “Seni Mengelola Konflik: Inspirasi Kepemimpinan, Keteladanan, dan Kecerdasan Nabi Muhammad Saw dalam Mengelola Konflik” (Noktah: 2020), memaparkan berbagai kecerdasan Nabi Saw dalam mengelola konfik. Dalam tulisan ini, penulis menyebutkan dua contoh pengelolaan konflik yang paling relevan dalam konteks bagaimana mestinya umat Islam memandang perbedaan.

Pertama, menjelaskan, bukan menghantam. Cara Rasulullah Saw mengelola konflik adalah dengan proses tabayyun, yakni memberi kesempatan pada pihak yang berkonflik untuk menjelaskan persoalan yang terjadi, kemudian menawarkan solusi yang bisa diterima bersama oleh kedua pihak. Artinya, ketika ada konflik atau perbedaan, tidak langsung “menghantam”, mencaci, menyakiti, atau bahkan melakukan kekerasan.

Kedua, mengutamakan etika dialog dan musyawarah. Seni mengelola konflik ala Nabi Muhammad Saw. dilakukan melalui budaya musyawarah atau problem solving dialogue untuk mencapai kesepakatan bersama. Sikap Nabi Saw. yang mengedepankan musyawarah, jelas Mohammad Takdir, dapat dimaknai sebagai wujud kecintaan Nabi Muhammad Saw. pada spirit perdamaian tanpa ada perdebatan yang berujung pertumpahan darah.  

Kedua hal tersebut adalah pelajaran berharga bagi kita semua ketika menghadapi konflik atau perbedaan. Apa yang terpancar dari sikap Rasulullah Saw. dalam mengelola konflik menegaskan bahwa Islam pada dasarnya selalu membuka ruang dialog dan musyawarah ketika terjadi konflik atau perbedaan pendapat, untuk mencapai kesepakatan bersama demi kehidupan bersama yang lebih baik, adil, dan harmonis.

Hal tersebut selaras dengan prinsip musyawarah mufakat, yang menjadi salah satu prinsip dan nilai penting dalam Pancasila, dasar negara Idonesia. Nilai-nilai yang jelas-jelas tidak nampak  atau tidak dimiliki kelompok radikal-ekstremisme agama yang menolak dialog dan musyawarah. Sebab mereka selalu merasa paling benar sendiri sehingga bersikap intoleran dan gemar melakukan tindakan-tindakan radikal.

Mirisnya, mereka melakukan intoleransi dan kekerasan tersebut dengan dalih atas nama agama. Padahal, jelas bahwa Nabi Muhammad Saw. panutan utama umat Islam, lebih menunjukkan sikap-sikap santun, ramah, dan mengedepankan dialog serta musyawarah yang beretika dan bermartabat dalam menyikapi setiap konflik atau perbedaan. [Al-Mahfud]

Leave a reply

error: Content is protected !!